Friday, July 20, 2012

Yang hilang kala Ramadhan tiba....

 Salah satu hal yang paling kita rindukan ketika Ramadhan tiba adalah kehangatan keluarga. Menjalankan ibadah puasa di tengah-tengah orang terkasih adalah suatu nikmat yang tiada terkira. Itulah mengapa banyak perantau yang memilih mudik di hari hari awal puasa. Alasannya agar biasa dapat awal puasa bersama keluarga di rumah.

Memang tak bisa dipungkiri. Di tengah-tengah keluarga, menjalankan ibadah puasa itu terasa semakin khusyuk dan menyenangkan. Sahur bersama, buka bersama, solat dan ngaji pun berjamaah.

Namun semakin saya besar, suasana Ramadhan semakin terasa ada yang kurang.

Waktu yang melesat begitu cepat, mengubah beberapa hal dalam kehidupan manusia. Kadang kita berharap waktu dapat statis, agar orang-orang yang kita cintai selalu berada bersama kita.

Ramadhan bertahun-tahun lalu, waktu saya masih kanak-kanak, adalah masa-masa Ramadhan terindah dalam hidup saya. Masih ada Papa dan Nenek di tengah-tengah kami. Ramadhan terasa begitu meriah. Bila solat tarawih tiba ada Papa yang mengimami, kalau hendak berbuka, ada nenek yang akan berkolaborasi dengan mama memasak di dapur.
Saya?? saya kecil akan bermain-main bersama anak tetangga atau dengan saudara sepupu yang kerap datang berkunjung kala Ramadhan tiba. Menunggu bedug magrib tiba, untuk menyantap masakan lezat mama dan nenek. Semuanya terasa mengasyikkan.

Tapi..Time goes so fast, as I am grow, some people are dissapeared.
Yeah..menghilang.

Pertengahan tahun 2005 nenek saya tercinta meninggal dunia. Quraisyin Abdul Walid, wanita penyabar yang selalu mengingatkan saya dan cucu-cucunya yang lain untuk tidak meninggalkan sholat itu pergi untuk selamanya. Sebuah kehilangan besar dalam hidup saya. Juga bagi keluarga besar kami. Memori dan kebiasaan yang kami lakukan bersama nya tinggallah kenangan.

Empat tahun kemudian, tepatnya Juli 2009, papa saya juga pergi menghadap ke haribaan Sang Pencipta. Said Ibrahim, sang guru kehidupan yang menanamkan ilmu agama dan budi pekerti kepada saya sejak kecil itupun telah tiada.
Kepergian nya meninggalkan ruang kosong di hati saya hingga detik ini.

Mereka hilang dari episode kehidupan saya selanjutnya.

Mungkin sudah cukup lama tanpa mereka. Tapi semua memori bersama mereka selalu menari-nari di ingatan. Menimbulkan rasa rindu yang teramat dalam. Terlebih ketika bulan Ramadhan tiba.

Seperti malam ini, dan di malam-malam awal Ramadhan setiap tahunnya. Di saat orang-orang mulai mengirimkan sms-sms ucapan berpuasa, rasa kehilangan itu hadir kembali. Sedikit menyesakkan.

Saat ini, di rumah kami hanya bertiga. Saya, mama dan kakak saya.
Sepi? yeah. Sangat sepi.
Ada kalanya air mata saya tergenang bila teringat mereka yang telah tiada. Papa pergi hanya sebulan sebelum Ramadhan tiba. Empat tahun lalu, ketika kami harus melewati ramadhan pertama tanpa beliau, hati saya seperti teriris-iris.

Ramadhan 2009......
Pagi yang dingin. Hari itu hari pertama puasa. Saya biasa paling susah kalau harus bangun sahur sendiri. Biasanya sih dibangunkan dan yang biasa membangunkan adalah papa. Namun pagi itu ada yang janggal. Saya tidak mendengar suara papa membangunkan saya untuk bersahur. Saya juga tidak melihatnya kala duduk di meja makan. Saya, mama dan kakak perempuan saya duduk dalam diam. Menyantap tanpa sepatah kata terucap. Lalu mata saya menangkap sesuatu yang berbeda di sudut meja. Biasanya ada empat gelas minum di atas meja yang sudah disediakan mama. Punya saya, kakak saya, mama saya, dan papa. Pagi itu tinggal tiga. Kenyataan bahwa satu gelas sudah tak terpakai lagi membuat saya menyadari bahwa papa benar-benar telah tiada. Untuk pertama kalinya sejak kepergian papa, saya merasakan kehilangan yang teramat sangat. Betul kata orang-orang, bila salah satu anggota keluarga kita meninggal, kita baru akan benar-benar merasa kehilangan ketika bulan Ramadhan tiba.
Air mata saya tidak bisa terbendung. Saya memutuskan untuk beranjak dari meja makan. Ke ruang tamu. Di sana, saya terisak hingga bahu saya terguncang keras. Saya tahu kepiluan itu bukan hanya saya yang rasakan. Mama dan kakak saya pun demikian, Tapi kami berusaha untuk tidak menunjukkan nya satu sama lain. Mungkin karena takut melukai perasaan masing masing.
Saya tidak benar-benar menyantap sahur pagi itu. Semuanya terasa hambar. Ingin rasanya saya segera kembali tidur agar tidak seorang pun melihat air mata saya pagi itu. Tapi percuma, mama sudah duluan menangkap basah saya sedang menangis tersedu di ruang tamu. Namun beliau tidak mengatakan apa-apa. 
Dari  matanya, tersirat kepedihan dan kerinduan yang sama.

Kehilangan orang yang kita cintai itu menyakitkan karena kita juga akan kehilangan kebiasaan-kebiasan hidup yang telah kita lalui bersama mereka. Itulah mengapa kita merasa sebagian dari kita juga ikut menghilang.
Hari ini, Ramadhan ke 4 tanpa papa, dan menjadi ramadhan ke 8 tanpa nenek. Ketika orang-orang pulang ke kampung halaman mereka masing-masing untuk beramai-ramai menjalani puasa bersama keluarga besar,
Saya disini...
merasa sepi.
Dan masih seperti Ramadhan sebelumnya.
Merasa kehilangan.

Marhaban Ya Ramadhan....

Lihatlah…hari berganti
Namun tiada seindah dulu
      Datanglah..aku ingin bertemu
.....

*Jumat, 20 Juli 2012, kamar, hari pertama Ramadhan, dengan mata yang sedikit tergenang.

Sunday, July 1, 2012

Euro 2012: The Dream Final!

Yay! Malam ini perhelatan akbar sepakbola di benua biru akan segera berakhir. Yeah, Spanyol vs Italy bakal jadi laga pamungkas Euro 2012. Dream final? yeah..mostly people berpendapat begitu,
Kedua tim merupakan raksasa di benua tua. Masing-masing negara memiliki liga terbaik dan prestisius di level dunia. Spanyol dengan La Liga-nya dan Italy dengan Liga Calcio-nya. Masing masing liga kerap melahirkan bintang-bintang sepakbola kenamaan. Wajar, bila sepakbola kedua negara dianggap sebagai kiblat bagi sepakbola modern.

Eniwei, kalo di suruh memilih antara Spanyol atau Italia, saya dengan sepenuh hati, tulus dan tanpa paksaan akan memilih La Furia Roja alias Tim Matador Spanyol. Why? Because I hate Italy. That simple.
Mengapa saya tidak menyukai tim berjuluk Gli Azzuri tersebut?
Jawabannya adalah...eng..ing..eng..
Saya tidak suka.

Why do I Hate Italia?

Sejak kali pertama saya tau sepak bola, waktu itu saya masih muda dan unyu-unyu, masih SMP. Waktu itu Piala Dunia 2002 Korea-Jepang, jam penanyanganya sama dengan Indonesia. Bersama almarhum papa, saya tidak pernah melewatkan satu pertandingan pun. Papa mengajarkan saya aturan-aturan sepakbola. Apa itu ofside (waktu itu saya menyebutnya 'omside'), mengapa pemain mendapat kartu, kenapa ada tendangan penalti, apa itu handsball, apa itu striker, bek dan gelandang dan apa saja tugas mereka. Tapi papa tak perlu mengajari saya untuk menilai tim mana yang harus saya pilih dan pemain bola mana yang cakep dan cuco'. Secara naluriah. saya bisa mengetahuinya dengan sendiri. Hehe. 

Maka kala itu pilihan saya jatuh pada tim Ayam Jantan Prancis (yang nasibnya tragis karena harus pulang sejak babak penyisihan*kasihan padahal masih muda*), juga pada Inggris, The Three Lions. Mau tau  kenapa saya suka tim ini? Karena sejak kecil saya ingin sekali bisa ke negerinya Ratu Elizabeth itu, sejak saya baca buku karangan Bu' De Enyd Byton (alasan saya ndak nyambung yah sama sepakbola?hoho). Lalu favorit saya berikutnya adalah Spanyol, karena saya terpesona pada Raul dan Si cakep Fernando Morientes   ( hehe, maklum lah masih ababil). Dan tentu saja sang finalis, Der Panzer, Jerman. ("Gilaa ..itu om Oliver Kahn jago banget" Saya, usia 13 tahun). Tapi entah mengapa sejak pertama melihat Tim Italy, hati dan naluri saya langsung tidak suka. Tatapan mata pemainnya yg sangat 'Cassanova' membuat saya tidak simpati. Maka sejak saat itu, saya tidak menyukai Italy (??).
Timnas Itali

Cassanova, si pemain cinta *cieh

Saya semakin tidak menyukai Itali sejak tim itu mengalahkan tim favorit saya, Prancis, dengan hasil yang menyakitkan di Final Piala Dunia 2006. Kala itu hatiku hancur mengenang dikau...berkeping-keping jadinya....♫ *plak*oke lanjut pemirsa, kala itu saya kesal luar dalem. Apalagi ada aksi pelecahan ras oleh Materazzi kepada Om Zinedine Zidane. Makin gak suka deh. Belum lagi sepakbolanya terlalu banyak skandal. Paling anyar skandal pengaturan skor, calciopoli jilid II.
Zidane Headbutt

 Hihhhh..amit..amit..udah ketahuan unfairnya.

Anehnya, di Indonesia, Italy punya banyak tifosi fanatik. Ceh..mereka gila-gilaan kalo soal membela tim pengeran biru itu. Suka alay. Bahkan ada yg sudah seperti 'menuhankan' pemain favorit mereka. Sering saya baca status teman yang alay di Twitter dan di Facebook. Parahnya, mereka suka mengumpat-umpat tim lawan, dan mengagung agungkan italy. Makanya sering banget tifosi Italy ber'tweetwar' dengan pendukung tim lawan. hedeww.
Belakangan ada yang suka ngirim sms ke saya, hanya untuk bilang "Forza Italy n bla..bla..bla.."
Ih..males banget dah.

Saking kesalnya saya sampe-sampe berikrar dalam hati " I won't marry a guy who loves Italy"

Haha, whateverlah..

If Only Torres were a moslem

Udah ah ngomongin Italy, now saya mo ngomongin tim matador Spanyol. Belakangan, tim yang di komandoi oleh Vicente Del Bosque ini makin menunjukkan kegarangannya di kancah dunia. Sejak menjuarai Euro 2008 dan World Cup 2010, tim ini menjadi tim raksasa yang disegani di seantero dunia. Pemain-pemainnya emang berkelas dan oke punya. Let's say, masa ini adalah masa emas timnas Spanyol. 

Eniwei, beberapa waktu lalu saya membaca sebuah buku yang berjudul '99 Cahaya Langit Di Eropa' sebuah buku yang berisi kisah perjalanan Hanum Salsabila Rais yang menapaktilasi perjalanan dan kejayaan islam di benua Eropa. Sungguh buku itu membuat saya bergetar. Terutama kala membaca bagian kejayaan Islam di Spanyol. Saya sampai menitikkkan air mata, ketika pada akhirnya Sultan di Kordoba harus takluk pada raja Ferdinand yang akhirnya mengusir kaum muslim keluar dari Spanyol dan mengkristenkan kembali negeri itu. Sedihnya, muslim yang tersisa di Spanyol dipaksa untuk convert keyakinan mereka bila masih terus ingin menghirup udara Spanyol, mereka bahkan  dipaksa memakan babi untuk membuktikan bahwa mereka telah murtad. Tragis.
Salah satu buku yang bikin saya merinding

Ketika saya selesai membaca bagian itu, pertandingan Spanyol melawan (entah apa, saya lupa) dimulai. Sambil menonton, pikiran saya kembali ke Spanyol masa lalu ketika Kerajaan Islam mash merajai negeri itu.
Tiba-tiba sorak sorai penonton dari televisi terdengar. Gol rupanya. Torres berlarian mengangkat tangannya sebagai selebrasi atas golnya. Hmm..Fernando Torres, bisa jadi leluhurnya adalah seorang muslim.Saya meracau dalam hati. Seandainya Spanyol tidak pernah ditaklukkan oleh Ferdinand, seandainya Spanyol masih merupakan bagian dari kesultanan Islam, seandainya Kordoba, The City Of Lights, masih menebarkan 99 cahaya ilahi di atas langitnya,  mungkin saja mereka yang berseragam Spanyol itu adalah muslim. Iker, Xavi, Fabregas, Silva...semuanya. Mungkin juga selebrasi Torres setelah menggolkan adalah sujud syukur. 
Yeahhh....If only he were a moslem.
Sungguh pikiran yang aneh dan tidak penting. Tapi cukup menggelitik hati saya yang paling dalam. Tentang sejarah kejayaan masa lalu yang telah sirna. Islam di Spanyol kini seperti sesuatu yang asing. Agama mereka kini adalah sepakbola, paling tidak itulah anggapan seorang espanola bernama Gomez yang ditemui Hanum Rais dalam perjalanannya di Spanyol.
Torres habis nge-gol
Tetapi sudahlah, sejarah kini tinggal sejarah. Yang bisa dikenang dan dijadikan pelajaran.
Sepakbola adalah sesuatu yang universal, tidak memandang suku agama ato bangsa. Jadi untuk apa menghayalkan hal yang tidak-tidak.

Semoga La Furia Roja akan kembali mengangkat piala dan mencetak sejarah baru sebagai tim yang berturut-turut merebut gelar dunia dan Eropa. Good Luck, Spain! :D
La Furia Roja

Demikian postingan tidak penting ini. Saya tidur dulu  ya, nge-charge mata buat partai final bentar. Ciaooooooo








Friday, July 20, 2012

Yang hilang kala Ramadhan tiba....

 Salah satu hal yang paling kita rindukan ketika Ramadhan tiba adalah kehangatan keluarga. Menjalankan ibadah puasa di tengah-tengah orang terkasih adalah suatu nikmat yang tiada terkira. Itulah mengapa banyak perantau yang memilih mudik di hari hari awal puasa. Alasannya agar biasa dapat awal puasa bersama keluarga di rumah.

Memang tak bisa dipungkiri. Di tengah-tengah keluarga, menjalankan ibadah puasa itu terasa semakin khusyuk dan menyenangkan. Sahur bersama, buka bersama, solat dan ngaji pun berjamaah.

Namun semakin saya besar, suasana Ramadhan semakin terasa ada yang kurang.

Waktu yang melesat begitu cepat, mengubah beberapa hal dalam kehidupan manusia. Kadang kita berharap waktu dapat statis, agar orang-orang yang kita cintai selalu berada bersama kita.

Ramadhan bertahun-tahun lalu, waktu saya masih kanak-kanak, adalah masa-masa Ramadhan terindah dalam hidup saya. Masih ada Papa dan Nenek di tengah-tengah kami. Ramadhan terasa begitu meriah. Bila solat tarawih tiba ada Papa yang mengimami, kalau hendak berbuka, ada nenek yang akan berkolaborasi dengan mama memasak di dapur.
Saya?? saya kecil akan bermain-main bersama anak tetangga atau dengan saudara sepupu yang kerap datang berkunjung kala Ramadhan tiba. Menunggu bedug magrib tiba, untuk menyantap masakan lezat mama dan nenek. Semuanya terasa mengasyikkan.

Tapi..Time goes so fast, as I am grow, some people are dissapeared.
Yeah..menghilang.

Pertengahan tahun 2005 nenek saya tercinta meninggal dunia. Quraisyin Abdul Walid, wanita penyabar yang selalu mengingatkan saya dan cucu-cucunya yang lain untuk tidak meninggalkan sholat itu pergi untuk selamanya. Sebuah kehilangan besar dalam hidup saya. Juga bagi keluarga besar kami. Memori dan kebiasaan yang kami lakukan bersama nya tinggallah kenangan.

Empat tahun kemudian, tepatnya Juli 2009, papa saya juga pergi menghadap ke haribaan Sang Pencipta. Said Ibrahim, sang guru kehidupan yang menanamkan ilmu agama dan budi pekerti kepada saya sejak kecil itupun telah tiada.
Kepergian nya meninggalkan ruang kosong di hati saya hingga detik ini.

Mereka hilang dari episode kehidupan saya selanjutnya.

Mungkin sudah cukup lama tanpa mereka. Tapi semua memori bersama mereka selalu menari-nari di ingatan. Menimbulkan rasa rindu yang teramat dalam. Terlebih ketika bulan Ramadhan tiba.

Seperti malam ini, dan di malam-malam awal Ramadhan setiap tahunnya. Di saat orang-orang mulai mengirimkan sms-sms ucapan berpuasa, rasa kehilangan itu hadir kembali. Sedikit menyesakkan.

Saat ini, di rumah kami hanya bertiga. Saya, mama dan kakak saya.
Sepi? yeah. Sangat sepi.
Ada kalanya air mata saya tergenang bila teringat mereka yang telah tiada. Papa pergi hanya sebulan sebelum Ramadhan tiba. Empat tahun lalu, ketika kami harus melewati ramadhan pertama tanpa beliau, hati saya seperti teriris-iris.

Ramadhan 2009......
Pagi yang dingin. Hari itu hari pertama puasa. Saya biasa paling susah kalau harus bangun sahur sendiri. Biasanya sih dibangunkan dan yang biasa membangunkan adalah papa. Namun pagi itu ada yang janggal. Saya tidak mendengar suara papa membangunkan saya untuk bersahur. Saya juga tidak melihatnya kala duduk di meja makan. Saya, mama dan kakak perempuan saya duduk dalam diam. Menyantap tanpa sepatah kata terucap. Lalu mata saya menangkap sesuatu yang berbeda di sudut meja. Biasanya ada empat gelas minum di atas meja yang sudah disediakan mama. Punya saya, kakak saya, mama saya, dan papa. Pagi itu tinggal tiga. Kenyataan bahwa satu gelas sudah tak terpakai lagi membuat saya menyadari bahwa papa benar-benar telah tiada. Untuk pertama kalinya sejak kepergian papa, saya merasakan kehilangan yang teramat sangat. Betul kata orang-orang, bila salah satu anggota keluarga kita meninggal, kita baru akan benar-benar merasa kehilangan ketika bulan Ramadhan tiba.
Air mata saya tidak bisa terbendung. Saya memutuskan untuk beranjak dari meja makan. Ke ruang tamu. Di sana, saya terisak hingga bahu saya terguncang keras. Saya tahu kepiluan itu bukan hanya saya yang rasakan. Mama dan kakak saya pun demikian, Tapi kami berusaha untuk tidak menunjukkan nya satu sama lain. Mungkin karena takut melukai perasaan masing masing.
Saya tidak benar-benar menyantap sahur pagi itu. Semuanya terasa hambar. Ingin rasanya saya segera kembali tidur agar tidak seorang pun melihat air mata saya pagi itu. Tapi percuma, mama sudah duluan menangkap basah saya sedang menangis tersedu di ruang tamu. Namun beliau tidak mengatakan apa-apa. 
Dari  matanya, tersirat kepedihan dan kerinduan yang sama.

Kehilangan orang yang kita cintai itu menyakitkan karena kita juga akan kehilangan kebiasaan-kebiasan hidup yang telah kita lalui bersama mereka. Itulah mengapa kita merasa sebagian dari kita juga ikut menghilang.
Hari ini, Ramadhan ke 4 tanpa papa, dan menjadi ramadhan ke 8 tanpa nenek. Ketika orang-orang pulang ke kampung halaman mereka masing-masing untuk beramai-ramai menjalani puasa bersama keluarga besar,
Saya disini...
merasa sepi.
Dan masih seperti Ramadhan sebelumnya.
Merasa kehilangan.

Marhaban Ya Ramadhan....

Lihatlah…hari berganti
Namun tiada seindah dulu
      Datanglah..aku ingin bertemu
.....

*Jumat, 20 Juli 2012, kamar, hari pertama Ramadhan, dengan mata yang sedikit tergenang.

Sunday, July 1, 2012

Euro 2012: The Dream Final!

Yay! Malam ini perhelatan akbar sepakbola di benua biru akan segera berakhir. Yeah, Spanyol vs Italy bakal jadi laga pamungkas Euro 2012. Dream final? yeah..mostly people berpendapat begitu,
Kedua tim merupakan raksasa di benua tua. Masing-masing negara memiliki liga terbaik dan prestisius di level dunia. Spanyol dengan La Liga-nya dan Italy dengan Liga Calcio-nya. Masing masing liga kerap melahirkan bintang-bintang sepakbola kenamaan. Wajar, bila sepakbola kedua negara dianggap sebagai kiblat bagi sepakbola modern.

Eniwei, kalo di suruh memilih antara Spanyol atau Italia, saya dengan sepenuh hati, tulus dan tanpa paksaan akan memilih La Furia Roja alias Tim Matador Spanyol. Why? Because I hate Italy. That simple.
Mengapa saya tidak menyukai tim berjuluk Gli Azzuri tersebut?
Jawabannya adalah...eng..ing..eng..
Saya tidak suka.

Why do I Hate Italia?

Sejak kali pertama saya tau sepak bola, waktu itu saya masih muda dan unyu-unyu, masih SMP. Waktu itu Piala Dunia 2002 Korea-Jepang, jam penanyanganya sama dengan Indonesia. Bersama almarhum papa, saya tidak pernah melewatkan satu pertandingan pun. Papa mengajarkan saya aturan-aturan sepakbola. Apa itu ofside (waktu itu saya menyebutnya 'omside'), mengapa pemain mendapat kartu, kenapa ada tendangan penalti, apa itu handsball, apa itu striker, bek dan gelandang dan apa saja tugas mereka. Tapi papa tak perlu mengajari saya untuk menilai tim mana yang harus saya pilih dan pemain bola mana yang cakep dan cuco'. Secara naluriah. saya bisa mengetahuinya dengan sendiri. Hehe. 

Maka kala itu pilihan saya jatuh pada tim Ayam Jantan Prancis (yang nasibnya tragis karena harus pulang sejak babak penyisihan*kasihan padahal masih muda*), juga pada Inggris, The Three Lions. Mau tau  kenapa saya suka tim ini? Karena sejak kecil saya ingin sekali bisa ke negerinya Ratu Elizabeth itu, sejak saya baca buku karangan Bu' De Enyd Byton (alasan saya ndak nyambung yah sama sepakbola?hoho). Lalu favorit saya berikutnya adalah Spanyol, karena saya terpesona pada Raul dan Si cakep Fernando Morientes   ( hehe, maklum lah masih ababil). Dan tentu saja sang finalis, Der Panzer, Jerman. ("Gilaa ..itu om Oliver Kahn jago banget" Saya, usia 13 tahun). Tapi entah mengapa sejak pertama melihat Tim Italy, hati dan naluri saya langsung tidak suka. Tatapan mata pemainnya yg sangat 'Cassanova' membuat saya tidak simpati. Maka sejak saat itu, saya tidak menyukai Italy (??).
Timnas Itali

Cassanova, si pemain cinta *cieh

Saya semakin tidak menyukai Itali sejak tim itu mengalahkan tim favorit saya, Prancis, dengan hasil yang menyakitkan di Final Piala Dunia 2006. Kala itu hatiku hancur mengenang dikau...berkeping-keping jadinya....♫ *plak*oke lanjut pemirsa, kala itu saya kesal luar dalem. Apalagi ada aksi pelecahan ras oleh Materazzi kepada Om Zinedine Zidane. Makin gak suka deh. Belum lagi sepakbolanya terlalu banyak skandal. Paling anyar skandal pengaturan skor, calciopoli jilid II.
Zidane Headbutt

 Hihhhh..amit..amit..udah ketahuan unfairnya.

Anehnya, di Indonesia, Italy punya banyak tifosi fanatik. Ceh..mereka gila-gilaan kalo soal membela tim pengeran biru itu. Suka alay. Bahkan ada yg sudah seperti 'menuhankan' pemain favorit mereka. Sering saya baca status teman yang alay di Twitter dan di Facebook. Parahnya, mereka suka mengumpat-umpat tim lawan, dan mengagung agungkan italy. Makanya sering banget tifosi Italy ber'tweetwar' dengan pendukung tim lawan. hedeww.
Belakangan ada yang suka ngirim sms ke saya, hanya untuk bilang "Forza Italy n bla..bla..bla.."
Ih..males banget dah.

Saking kesalnya saya sampe-sampe berikrar dalam hati " I won't marry a guy who loves Italy"

Haha, whateverlah..

If Only Torres were a moslem

Udah ah ngomongin Italy, now saya mo ngomongin tim matador Spanyol. Belakangan, tim yang di komandoi oleh Vicente Del Bosque ini makin menunjukkan kegarangannya di kancah dunia. Sejak menjuarai Euro 2008 dan World Cup 2010, tim ini menjadi tim raksasa yang disegani di seantero dunia. Pemain-pemainnya emang berkelas dan oke punya. Let's say, masa ini adalah masa emas timnas Spanyol. 

Eniwei, beberapa waktu lalu saya membaca sebuah buku yang berjudul '99 Cahaya Langit Di Eropa' sebuah buku yang berisi kisah perjalanan Hanum Salsabila Rais yang menapaktilasi perjalanan dan kejayaan islam di benua Eropa. Sungguh buku itu membuat saya bergetar. Terutama kala membaca bagian kejayaan Islam di Spanyol. Saya sampai menitikkkan air mata, ketika pada akhirnya Sultan di Kordoba harus takluk pada raja Ferdinand yang akhirnya mengusir kaum muslim keluar dari Spanyol dan mengkristenkan kembali negeri itu. Sedihnya, muslim yang tersisa di Spanyol dipaksa untuk convert keyakinan mereka bila masih terus ingin menghirup udara Spanyol, mereka bahkan  dipaksa memakan babi untuk membuktikan bahwa mereka telah murtad. Tragis.
Salah satu buku yang bikin saya merinding

Ketika saya selesai membaca bagian itu, pertandingan Spanyol melawan (entah apa, saya lupa) dimulai. Sambil menonton, pikiran saya kembali ke Spanyol masa lalu ketika Kerajaan Islam mash merajai negeri itu.
Tiba-tiba sorak sorai penonton dari televisi terdengar. Gol rupanya. Torres berlarian mengangkat tangannya sebagai selebrasi atas golnya. Hmm..Fernando Torres, bisa jadi leluhurnya adalah seorang muslim.Saya meracau dalam hati. Seandainya Spanyol tidak pernah ditaklukkan oleh Ferdinand, seandainya Spanyol masih merupakan bagian dari kesultanan Islam, seandainya Kordoba, The City Of Lights, masih menebarkan 99 cahaya ilahi di atas langitnya,  mungkin saja mereka yang berseragam Spanyol itu adalah muslim. Iker, Xavi, Fabregas, Silva...semuanya. Mungkin juga selebrasi Torres setelah menggolkan adalah sujud syukur. 
Yeahhh....If only he were a moslem.
Sungguh pikiran yang aneh dan tidak penting. Tapi cukup menggelitik hati saya yang paling dalam. Tentang sejarah kejayaan masa lalu yang telah sirna. Islam di Spanyol kini seperti sesuatu yang asing. Agama mereka kini adalah sepakbola, paling tidak itulah anggapan seorang espanola bernama Gomez yang ditemui Hanum Rais dalam perjalanannya di Spanyol.
Torres habis nge-gol
Tetapi sudahlah, sejarah kini tinggal sejarah. Yang bisa dikenang dan dijadikan pelajaran.
Sepakbola adalah sesuatu yang universal, tidak memandang suku agama ato bangsa. Jadi untuk apa menghayalkan hal yang tidak-tidak.

Semoga La Furia Roja akan kembali mengangkat piala dan mencetak sejarah baru sebagai tim yang berturut-turut merebut gelar dunia dan Eropa. Good Luck, Spain! :D
La Furia Roja

Demikian postingan tidak penting ini. Saya tidur dulu  ya, nge-charge mata buat partai final bentar. Ciaooooooo








Blogger templates

Free Cloud Cursors at www.totallyfreecursors.com
Kegagalan selalu membangkitkan rasa penasaran. Menyerah berarti berbuat kekonyolan. Bangkit, berlari dan teruslah berjuang! (rfs)

Friday, July 20, 2012

Yang hilang kala Ramadhan tiba....

 Salah satu hal yang paling kita rindukan ketika Ramadhan tiba adalah kehangatan keluarga. Menjalankan ibadah puasa di tengah-tengah orang terkasih adalah suatu nikmat yang tiada terkira. Itulah mengapa banyak perantau yang memilih mudik di hari hari awal puasa. Alasannya agar biasa dapat awal puasa bersama keluarga di rumah.

Memang tak bisa dipungkiri. Di tengah-tengah keluarga, menjalankan ibadah puasa itu terasa semakin khusyuk dan menyenangkan. Sahur bersama, buka bersama, solat dan ngaji pun berjamaah.

Namun semakin saya besar, suasana Ramadhan semakin terasa ada yang kurang.

Waktu yang melesat begitu cepat, mengubah beberapa hal dalam kehidupan manusia. Kadang kita berharap waktu dapat statis, agar orang-orang yang kita cintai selalu berada bersama kita.

Ramadhan bertahun-tahun lalu, waktu saya masih kanak-kanak, adalah masa-masa Ramadhan terindah dalam hidup saya. Masih ada Papa dan Nenek di tengah-tengah kami. Ramadhan terasa begitu meriah. Bila solat tarawih tiba ada Papa yang mengimami, kalau hendak berbuka, ada nenek yang akan berkolaborasi dengan mama memasak di dapur.
Saya?? saya kecil akan bermain-main bersama anak tetangga atau dengan saudara sepupu yang kerap datang berkunjung kala Ramadhan tiba. Menunggu bedug magrib tiba, untuk menyantap masakan lezat mama dan nenek. Semuanya terasa mengasyikkan.

Tapi..Time goes so fast, as I am grow, some people are dissapeared.
Yeah..menghilang.

Pertengahan tahun 2005 nenek saya tercinta meninggal dunia. Quraisyin Abdul Walid, wanita penyabar yang selalu mengingatkan saya dan cucu-cucunya yang lain untuk tidak meninggalkan sholat itu pergi untuk selamanya. Sebuah kehilangan besar dalam hidup saya. Juga bagi keluarga besar kami. Memori dan kebiasaan yang kami lakukan bersama nya tinggallah kenangan.

Empat tahun kemudian, tepatnya Juli 2009, papa saya juga pergi menghadap ke haribaan Sang Pencipta. Said Ibrahim, sang guru kehidupan yang menanamkan ilmu agama dan budi pekerti kepada saya sejak kecil itupun telah tiada.
Kepergian nya meninggalkan ruang kosong di hati saya hingga detik ini.

Mereka hilang dari episode kehidupan saya selanjutnya.

Mungkin sudah cukup lama tanpa mereka. Tapi semua memori bersama mereka selalu menari-nari di ingatan. Menimbulkan rasa rindu yang teramat dalam. Terlebih ketika bulan Ramadhan tiba.

Seperti malam ini, dan di malam-malam awal Ramadhan setiap tahunnya. Di saat orang-orang mulai mengirimkan sms-sms ucapan berpuasa, rasa kehilangan itu hadir kembali. Sedikit menyesakkan.

Saat ini, di rumah kami hanya bertiga. Saya, mama dan kakak saya.
Sepi? yeah. Sangat sepi.
Ada kalanya air mata saya tergenang bila teringat mereka yang telah tiada. Papa pergi hanya sebulan sebelum Ramadhan tiba. Empat tahun lalu, ketika kami harus melewati ramadhan pertama tanpa beliau, hati saya seperti teriris-iris.

Ramadhan 2009......
Pagi yang dingin. Hari itu hari pertama puasa. Saya biasa paling susah kalau harus bangun sahur sendiri. Biasanya sih dibangunkan dan yang biasa membangunkan adalah papa. Namun pagi itu ada yang janggal. Saya tidak mendengar suara papa membangunkan saya untuk bersahur. Saya juga tidak melihatnya kala duduk di meja makan. Saya, mama dan kakak perempuan saya duduk dalam diam. Menyantap tanpa sepatah kata terucap. Lalu mata saya menangkap sesuatu yang berbeda di sudut meja. Biasanya ada empat gelas minum di atas meja yang sudah disediakan mama. Punya saya, kakak saya, mama saya, dan papa. Pagi itu tinggal tiga. Kenyataan bahwa satu gelas sudah tak terpakai lagi membuat saya menyadari bahwa papa benar-benar telah tiada. Untuk pertama kalinya sejak kepergian papa, saya merasakan kehilangan yang teramat sangat. Betul kata orang-orang, bila salah satu anggota keluarga kita meninggal, kita baru akan benar-benar merasa kehilangan ketika bulan Ramadhan tiba.
Air mata saya tidak bisa terbendung. Saya memutuskan untuk beranjak dari meja makan. Ke ruang tamu. Di sana, saya terisak hingga bahu saya terguncang keras. Saya tahu kepiluan itu bukan hanya saya yang rasakan. Mama dan kakak saya pun demikian, Tapi kami berusaha untuk tidak menunjukkan nya satu sama lain. Mungkin karena takut melukai perasaan masing masing.
Saya tidak benar-benar menyantap sahur pagi itu. Semuanya terasa hambar. Ingin rasanya saya segera kembali tidur agar tidak seorang pun melihat air mata saya pagi itu. Tapi percuma, mama sudah duluan menangkap basah saya sedang menangis tersedu di ruang tamu. Namun beliau tidak mengatakan apa-apa. 
Dari  matanya, tersirat kepedihan dan kerinduan yang sama.

Kehilangan orang yang kita cintai itu menyakitkan karena kita juga akan kehilangan kebiasaan-kebiasan hidup yang telah kita lalui bersama mereka. Itulah mengapa kita merasa sebagian dari kita juga ikut menghilang.
Hari ini, Ramadhan ke 4 tanpa papa, dan menjadi ramadhan ke 8 tanpa nenek. Ketika orang-orang pulang ke kampung halaman mereka masing-masing untuk beramai-ramai menjalani puasa bersama keluarga besar,
Saya disini...
merasa sepi.
Dan masih seperti Ramadhan sebelumnya.
Merasa kehilangan.

Marhaban Ya Ramadhan....

Lihatlah…hari berganti
Namun tiada seindah dulu
      Datanglah..aku ingin bertemu
.....

*Jumat, 20 Juli 2012, kamar, hari pertama Ramadhan, dengan mata yang sedikit tergenang.

Sunday, July 1, 2012

Euro 2012: The Dream Final!

Yay! Malam ini perhelatan akbar sepakbola di benua biru akan segera berakhir. Yeah, Spanyol vs Italy bakal jadi laga pamungkas Euro 2012. Dream final? yeah..mostly people berpendapat begitu,
Kedua tim merupakan raksasa di benua tua. Masing-masing negara memiliki liga terbaik dan prestisius di level dunia. Spanyol dengan La Liga-nya dan Italy dengan Liga Calcio-nya. Masing masing liga kerap melahirkan bintang-bintang sepakbola kenamaan. Wajar, bila sepakbola kedua negara dianggap sebagai kiblat bagi sepakbola modern.

Eniwei, kalo di suruh memilih antara Spanyol atau Italia, saya dengan sepenuh hati, tulus dan tanpa paksaan akan memilih La Furia Roja alias Tim Matador Spanyol. Why? Because I hate Italy. That simple.
Mengapa saya tidak menyukai tim berjuluk Gli Azzuri tersebut?
Jawabannya adalah...eng..ing..eng..
Saya tidak suka.

Why do I Hate Italia?

Sejak kali pertama saya tau sepak bola, waktu itu saya masih muda dan unyu-unyu, masih SMP. Waktu itu Piala Dunia 2002 Korea-Jepang, jam penanyanganya sama dengan Indonesia. Bersama almarhum papa, saya tidak pernah melewatkan satu pertandingan pun. Papa mengajarkan saya aturan-aturan sepakbola. Apa itu ofside (waktu itu saya menyebutnya 'omside'), mengapa pemain mendapat kartu, kenapa ada tendangan penalti, apa itu handsball, apa itu striker, bek dan gelandang dan apa saja tugas mereka. Tapi papa tak perlu mengajari saya untuk menilai tim mana yang harus saya pilih dan pemain bola mana yang cakep dan cuco'. Secara naluriah. saya bisa mengetahuinya dengan sendiri. Hehe. 

Maka kala itu pilihan saya jatuh pada tim Ayam Jantan Prancis (yang nasibnya tragis karena harus pulang sejak babak penyisihan*kasihan padahal masih muda*), juga pada Inggris, The Three Lions. Mau tau  kenapa saya suka tim ini? Karena sejak kecil saya ingin sekali bisa ke negerinya Ratu Elizabeth itu, sejak saya baca buku karangan Bu' De Enyd Byton (alasan saya ndak nyambung yah sama sepakbola?hoho). Lalu favorit saya berikutnya adalah Spanyol, karena saya terpesona pada Raul dan Si cakep Fernando Morientes   ( hehe, maklum lah masih ababil). Dan tentu saja sang finalis, Der Panzer, Jerman. ("Gilaa ..itu om Oliver Kahn jago banget" Saya, usia 13 tahun). Tapi entah mengapa sejak pertama melihat Tim Italy, hati dan naluri saya langsung tidak suka. Tatapan mata pemainnya yg sangat 'Cassanova' membuat saya tidak simpati. Maka sejak saat itu, saya tidak menyukai Italy (??).
Timnas Itali

Cassanova, si pemain cinta *cieh

Saya semakin tidak menyukai Itali sejak tim itu mengalahkan tim favorit saya, Prancis, dengan hasil yang menyakitkan di Final Piala Dunia 2006. Kala itu hatiku hancur mengenang dikau...berkeping-keping jadinya....♫ *plak*oke lanjut pemirsa, kala itu saya kesal luar dalem. Apalagi ada aksi pelecahan ras oleh Materazzi kepada Om Zinedine Zidane. Makin gak suka deh. Belum lagi sepakbolanya terlalu banyak skandal. Paling anyar skandal pengaturan skor, calciopoli jilid II.
Zidane Headbutt

 Hihhhh..amit..amit..udah ketahuan unfairnya.

Anehnya, di Indonesia, Italy punya banyak tifosi fanatik. Ceh..mereka gila-gilaan kalo soal membela tim pengeran biru itu. Suka alay. Bahkan ada yg sudah seperti 'menuhankan' pemain favorit mereka. Sering saya baca status teman yang alay di Twitter dan di Facebook. Parahnya, mereka suka mengumpat-umpat tim lawan, dan mengagung agungkan italy. Makanya sering banget tifosi Italy ber'tweetwar' dengan pendukung tim lawan. hedeww.
Belakangan ada yang suka ngirim sms ke saya, hanya untuk bilang "Forza Italy n bla..bla..bla.."
Ih..males banget dah.

Saking kesalnya saya sampe-sampe berikrar dalam hati " I won't marry a guy who loves Italy"

Haha, whateverlah..

If Only Torres were a moslem

Udah ah ngomongin Italy, now saya mo ngomongin tim matador Spanyol. Belakangan, tim yang di komandoi oleh Vicente Del Bosque ini makin menunjukkan kegarangannya di kancah dunia. Sejak menjuarai Euro 2008 dan World Cup 2010, tim ini menjadi tim raksasa yang disegani di seantero dunia. Pemain-pemainnya emang berkelas dan oke punya. Let's say, masa ini adalah masa emas timnas Spanyol. 

Eniwei, beberapa waktu lalu saya membaca sebuah buku yang berjudul '99 Cahaya Langit Di Eropa' sebuah buku yang berisi kisah perjalanan Hanum Salsabila Rais yang menapaktilasi perjalanan dan kejayaan islam di benua Eropa. Sungguh buku itu membuat saya bergetar. Terutama kala membaca bagian kejayaan Islam di Spanyol. Saya sampai menitikkkan air mata, ketika pada akhirnya Sultan di Kordoba harus takluk pada raja Ferdinand yang akhirnya mengusir kaum muslim keluar dari Spanyol dan mengkristenkan kembali negeri itu. Sedihnya, muslim yang tersisa di Spanyol dipaksa untuk convert keyakinan mereka bila masih terus ingin menghirup udara Spanyol, mereka bahkan  dipaksa memakan babi untuk membuktikan bahwa mereka telah murtad. Tragis.
Salah satu buku yang bikin saya merinding

Ketika saya selesai membaca bagian itu, pertandingan Spanyol melawan (entah apa, saya lupa) dimulai. Sambil menonton, pikiran saya kembali ke Spanyol masa lalu ketika Kerajaan Islam mash merajai negeri itu.
Tiba-tiba sorak sorai penonton dari televisi terdengar. Gol rupanya. Torres berlarian mengangkat tangannya sebagai selebrasi atas golnya. Hmm..Fernando Torres, bisa jadi leluhurnya adalah seorang muslim.Saya meracau dalam hati. Seandainya Spanyol tidak pernah ditaklukkan oleh Ferdinand, seandainya Spanyol masih merupakan bagian dari kesultanan Islam, seandainya Kordoba, The City Of Lights, masih menebarkan 99 cahaya ilahi di atas langitnya,  mungkin saja mereka yang berseragam Spanyol itu adalah muslim. Iker, Xavi, Fabregas, Silva...semuanya. Mungkin juga selebrasi Torres setelah menggolkan adalah sujud syukur. 
Yeahhh....If only he were a moslem.
Sungguh pikiran yang aneh dan tidak penting. Tapi cukup menggelitik hati saya yang paling dalam. Tentang sejarah kejayaan masa lalu yang telah sirna. Islam di Spanyol kini seperti sesuatu yang asing. Agama mereka kini adalah sepakbola, paling tidak itulah anggapan seorang espanola bernama Gomez yang ditemui Hanum Rais dalam perjalanannya di Spanyol.
Torres habis nge-gol
Tetapi sudahlah, sejarah kini tinggal sejarah. Yang bisa dikenang dan dijadikan pelajaran.
Sepakbola adalah sesuatu yang universal, tidak memandang suku agama ato bangsa. Jadi untuk apa menghayalkan hal yang tidak-tidak.

Semoga La Furia Roja akan kembali mengangkat piala dan mencetak sejarah baru sebagai tim yang berturut-turut merebut gelar dunia dan Eropa. Good Luck, Spain! :D
La Furia Roja

Demikian postingan tidak penting ini. Saya tidur dulu  ya, nge-charge mata buat partai final bentar. Ciaooooooo