Showing posts with label Travel Writing. Show all posts
Showing posts with label Travel Writing. Show all posts

Tuesday, July 24, 2012

Mengintip Sepenggal Surga di Kepulauan Togean #part 2

menumpuk di atas fery

Kapalpun mulai bergerak meninggalkan dermaga. Di antara hiruk pikuk penumpang, saya mencari posisi strategis untuk menikmati view laut yang indah. Karena tempat duduk di dek sudah penuh, maka saya nangkring di atas karung beras milik salah seorang penumpang yang entah kemana rimbanya. Yah, it's okelah, dari pada kaki saya pegal berdiri selama 4 jam. Beberapa teman menghilang di antara para penumpang, pergi mencari bule-bule cakep yang bisa diajak berfoto ( tipikal Indonesian sekali, hehe). Sementara yang lain memilih tidur di bilik.

Saya memilih untuk tetap duduk di atas karung beras, karena tak ingin melewatkan kesempatan menikmati pemandangan alam yang tersaji di hadapan saya. Angin laut bertiup sepoi-sepoi. Langit biru cerah, berwarna senada dengan lautan  yang berkilauan. Semakin jauh kami berkapal, semakin menakjukbkan pemandangan yang nampak. Gugusan pulau-pulau kecil tak berpenghuni berwarna kehijauan, berpadu dengan hamparan pasir putih yang berkilauan. Beberapa turis tak henti-hentinya membidik kan kamera ke berbagai arah, mengabadikan karya Tuhan yang luar biasa itu.
Gugusan Pulau-pulau kecil


Sedang asyik-asyiknya menikmati pemandangan, tiba-tiba ekor mata saya menangkap seorang ibu berusia paruh baya yang dengan santainya membuang botol pulpy orange kosong ke laut. Buset dah ini ibu, gerutu saya dalam hati. Belum hilang kekesalan saya, si ibu kembali membuang tongkol jagung rebusnya. Dengan gusar saya mendekatinya,

"Aduh bu, sampahnya jangan di buang di laut, nanti lautnya kotor" kata saya berusaha untuk tidak terkesan menggurui.

Si ibu dengan cueknya bilang
" Ah nda apa-apa, di bawa ombak juga hilang nanti"

Lalu desye lanjut mengunyah jagung rebus yang ke sekian biji.

"Hilang kemana??ke Hongkong?" Umpat saya dalam hati.
Dengan gusar saya meninggalkan si ibu. Susah juga ngomong sama orang yang pemikirannya masih 'primitif'. Masa buang sampah di laut? sekate laut TPS? Ibu itu nyadar gak sih kalo laut yang baru dia jadiin tempat sampah itu tempat hidup bagi makhluk lain? Coba kalau tempat tinggalnya dijadiin tempat sampah bagi orang lain?pasti kesal.

Saya mendelik ke arah si ibu, doski sih gak nyadar karena lagi asyik makan jagung rebus. 
Tiba-tiba pemandangan yang tadinya indah dan menawan kini berubah menjadi 'mengerikan'. Tumpukan sampah menggenang kira-kira sepanjang satu kilo meter di tengah lautan. Nah ini dia! Karena para penumpang kapal yang lewat kerap membuang sampah sembarangan,jadinya seperti ini. Sampahnya terkumpul menjadi satu, menari-nari mengikuti irama ombak. Dalam hati saya merasa prihatin. Mengapa kesadaran masyarakat kita masih kurang soal menjaga kelestarian lingkungan? tidakkah mereka sadar akan dampak yang dapat diperoleh akibat demikian? Ekosistem di kepulauan Togean yang merupakan salah satu potensi Sulawesi Tengah bisa saja rusak oleh tangan-tangan penduduknya sendiri. Tidak sadarkah mereka bahwa Tuhan telah menitipkan sepenggal surga di tanah mereka? 'Surga' yang membuat turis-turis asing rela menempuh ribuan kilo dan membayar mahal  untuk melihatnya.

Ah,,menyedihkan.

*masih bersambung



Monday, July 23, 2012

Mengintip Sepenggal Surga di Kepulauan Togean #part 1

Apa yang paling menyenangkan bagi para pekerja kantoran selain libur kejepit?yaitu libur yang berada pas diantara hari kerja dan weekend. Sepertinya libur kejepit adalah nikmat paling luar biasa bagi kami, kaum buruh yang setiap harinya disibukkan oleh rutinitas mencari secuil rejeki bagi anak istri. hoh!
Sebagai buruh, libur kejepit kerap saya manfaat kan untuk nyantai di rumah ato travelling ke tempat-tempat yang menarik.

Hari itu, kebetulan adalah libur nasional yang' terjepit', dan sebuah ajakan tak terduga datang kepada saya. Salah seorang teman kantor mengajak untuk liburan ke Pulau Togean. Yeah Togean!. Tanpa ba-bi-bu, saya yang lagi asyik ngemil kacang atom garuda langsung mengangguk-angguk dengan bersemangat.
Alhasil, saya keselek kacang garuda.
*ini kacangku!

Sudah bertahun tahun lamanya saya memendam hasrat untuk mengunjungi pulau eksotis di teluk Tomini itu. Togean, meski kalah popular dengan Bunaken atau Raja Ampat, merupakan salah satu destinasi wisata bagi turis manca negara. Yeah! Turis manca negara. Di saat Togean telupakan oleh masyrakat domestik, para turis dari berbagai belahan dunia justru berbondong-bondong menikmati keindahannya. Menurut apa yang pernah saya baca tentang Togean, kepulauan Togean ini memiliki kekayaan bawah laut yang luar biasa, mulai dari spesies karang, jenis ikan dan banyak lagi. Beberapa di antaranya adalah spesies endemik asli kepulauan tersebut. Itu berarti you can't find them in other part on earth!

Maka hari itu juga, sepulang kantor, saya bergegas pulang ke rumah untuk packing. Dalam sekejap, backpack saya sudah terisi segala kebutuhan travelling untuk tiga hari.

Rencananya kami akan bermobil pukul 4 sore dari Palu menuju Ampana, di Kabupaten Tojo Una-Una. Sekitar 11 jam via darat. Namun karena ada beberapa hal yang belum terselesaikan, maka kami baru bisa berangkat pukul 9 malam. Mengendarai mobil Avanza yang dapat menampung 7 makhluk Tuhan paling sexy, saya dan beberapa teman kantor berhimpit himpitan menuju Ampana. Bagi saya perjalanan 11 jam dan duduk berdesakan di dalam mobil bukanlah masalah besar, yang penting saya ke Togean.

Perjalanan darat yang kami lalui awalnya cukup lancar, aman dan menyenangkan sebelum akhirnya, ketika waktu telah menunjukkan lewat tengah malam, kami tersesat.
Yeah tersesat!
tersesat tengah malam
Teman saya yang men-joki selama perjalanan berbelok ke arah yang salah.Alih-alih ke arah Ampana doski malah nyasar ke jalan entah kemana.  Nanti sudah hampir 10 kilo baru kami menyadari bahwa kami salah jalan. Pantas saja jalanannya semakin lama semakin sempit, rumah warga juga semakin jarang.

Selamat datang di Ampana
Setelah tersesat dan terkantuk-kantuk, sekitar pukul 7 pagi kami memasuki kota ampana. Ampana merupakan ibu kota Kabupaten Tojo Una-Una. Wilayahnya kurang lebih sama dengan kota Poso. Di Ampana kami mampir di rumah kerabat salah seorang teman untuk numpang beristirahat sejenak, numpang mandi dan sekalian numpang makan. hehe.
Sekitar satu jam kami melepas penat setelah berkendera berjam-jam. Pukul 9 pagi kami bergegas ke Pelabuhan Ampana, sebab pukul 10 pagi, fery yang akan memboyong kami ke Togean akan segera berangkat. Hanya ada 2 fery besar ke Togean dan perjalanan ke Togean memakan waktu sekitar 4 jam, begitu kata seorang 'om', warga setempat.
Oke! Empat jam berfery. Lumayan lama juga ya. Awalnya sih saya enjoy aja mendengarnya, tapi pas tiba di pelabuhan, saya sedikit terkejut melihat 'fery besar' yang dimaksud si om tadi. 'Fery besar' dalam imajinasi saya adalah kapal fery yang dapat digunakan untuk penyebrangan dengan mobil, seperti fery pernyebrangan dari pulau Jawa ke Bali dan sebangsanya. Nyatanya??si Fery besar hanyalah 'seonggok' kapal kayu berukuran mini bertingkat dua yang nampak tidak mampu memiliki daya melawan badai yang sewaktu-waktu dapat menghadang di tengah lautan sono.
"Kita naik ini?"Yakin nih aman?seorang teman tiba-tiba nyeletuk.

Ternyata bukan hanya saya yang meragukan 'si fery besar'.

Tapi apa boleh buat, hanya dengan fery ini kami bisa ke Togean.
Maka sebelum peluit kapal dibunyikan, kami buru-buru membeli tiket dan naik ke atas fery. Rupanya kapal itu telah sesak dengan warga lokal yang membawa banyak barang bawaan, mulai dari hewan ternak sampe hasil kebun. Konon mereka adalah masyarakat suku Bajo yang tinggal di pulau-pulau kecil di teluk Tomini.
Bersiap berlayar bersama si 'Fery Besar'
tetap gaya meski kapalnya sesak
Selain warga lokal, para pelancong mancanegara juga  nampak duduk manis di atas fery. Beberapa teman cewek saya langsung kedip-kedip sambil cengengesan melihat bule cowok yang kinclong-kinclong. Sumprit dah..mereka emang cakep asli tanpa bahan pengawet.

Kalo saya perhatikan, dari tampang dan bahasa yang mereka gunakan, para turis itu berasal dari negara yang bevariasi. Ada yang dari Spanyol, Belanda, and Amerika.

Karena kami naik belakangan ke atas fery kami jadi rada kesulitan mencari space yang cukup buat rombongan kami. Setelah keliling-keliling mencari tempat, akhirnya kami menemukan sebuah bilik yang alhamdulillah tidak cukup bagi kami semua. Tapi lumayanlah untuk duduk berdesak-desakan selama 4 jam perjalanan laut.

*bersambung, adzan ashar berkumandang, penulisnya ciao dulu yaa*
Showing posts with label Travel Writing. Show all posts
Showing posts with label Travel Writing. Show all posts

Tuesday, July 24, 2012

Mengintip Sepenggal Surga di Kepulauan Togean #part 2

menumpuk di atas fery

Kapalpun mulai bergerak meninggalkan dermaga. Di antara hiruk pikuk penumpang, saya mencari posisi strategis untuk menikmati view laut yang indah. Karena tempat duduk di dek sudah penuh, maka saya nangkring di atas karung beras milik salah seorang penumpang yang entah kemana rimbanya. Yah, it's okelah, dari pada kaki saya pegal berdiri selama 4 jam. Beberapa teman menghilang di antara para penumpang, pergi mencari bule-bule cakep yang bisa diajak berfoto ( tipikal Indonesian sekali, hehe). Sementara yang lain memilih tidur di bilik.

Saya memilih untuk tetap duduk di atas karung beras, karena tak ingin melewatkan kesempatan menikmati pemandangan alam yang tersaji di hadapan saya. Angin laut bertiup sepoi-sepoi. Langit biru cerah, berwarna senada dengan lautan  yang berkilauan. Semakin jauh kami berkapal, semakin menakjukbkan pemandangan yang nampak. Gugusan pulau-pulau kecil tak berpenghuni berwarna kehijauan, berpadu dengan hamparan pasir putih yang berkilauan. Beberapa turis tak henti-hentinya membidik kan kamera ke berbagai arah, mengabadikan karya Tuhan yang luar biasa itu.
Gugusan Pulau-pulau kecil


Sedang asyik-asyiknya menikmati pemandangan, tiba-tiba ekor mata saya menangkap seorang ibu berusia paruh baya yang dengan santainya membuang botol pulpy orange kosong ke laut. Buset dah ini ibu, gerutu saya dalam hati. Belum hilang kekesalan saya, si ibu kembali membuang tongkol jagung rebusnya. Dengan gusar saya mendekatinya,

"Aduh bu, sampahnya jangan di buang di laut, nanti lautnya kotor" kata saya berusaha untuk tidak terkesan menggurui.

Si ibu dengan cueknya bilang
" Ah nda apa-apa, di bawa ombak juga hilang nanti"

Lalu desye lanjut mengunyah jagung rebus yang ke sekian biji.

"Hilang kemana??ke Hongkong?" Umpat saya dalam hati.
Dengan gusar saya meninggalkan si ibu. Susah juga ngomong sama orang yang pemikirannya masih 'primitif'. Masa buang sampah di laut? sekate laut TPS? Ibu itu nyadar gak sih kalo laut yang baru dia jadiin tempat sampah itu tempat hidup bagi makhluk lain? Coba kalau tempat tinggalnya dijadiin tempat sampah bagi orang lain?pasti kesal.

Saya mendelik ke arah si ibu, doski sih gak nyadar karena lagi asyik makan jagung rebus. 
Tiba-tiba pemandangan yang tadinya indah dan menawan kini berubah menjadi 'mengerikan'. Tumpukan sampah menggenang kira-kira sepanjang satu kilo meter di tengah lautan. Nah ini dia! Karena para penumpang kapal yang lewat kerap membuang sampah sembarangan,jadinya seperti ini. Sampahnya terkumpul menjadi satu, menari-nari mengikuti irama ombak. Dalam hati saya merasa prihatin. Mengapa kesadaran masyarakat kita masih kurang soal menjaga kelestarian lingkungan? tidakkah mereka sadar akan dampak yang dapat diperoleh akibat demikian? Ekosistem di kepulauan Togean yang merupakan salah satu potensi Sulawesi Tengah bisa saja rusak oleh tangan-tangan penduduknya sendiri. Tidak sadarkah mereka bahwa Tuhan telah menitipkan sepenggal surga di tanah mereka? 'Surga' yang membuat turis-turis asing rela menempuh ribuan kilo dan membayar mahal  untuk melihatnya.

Ah,,menyedihkan.

*masih bersambung



Monday, July 23, 2012

Mengintip Sepenggal Surga di Kepulauan Togean #part 1

Apa yang paling menyenangkan bagi para pekerja kantoran selain libur kejepit?yaitu libur yang berada pas diantara hari kerja dan weekend. Sepertinya libur kejepit adalah nikmat paling luar biasa bagi kami, kaum buruh yang setiap harinya disibukkan oleh rutinitas mencari secuil rejeki bagi anak istri. hoh!
Sebagai buruh, libur kejepit kerap saya manfaat kan untuk nyantai di rumah ato travelling ke tempat-tempat yang menarik.

Hari itu, kebetulan adalah libur nasional yang' terjepit', dan sebuah ajakan tak terduga datang kepada saya. Salah seorang teman kantor mengajak untuk liburan ke Pulau Togean. Yeah Togean!. Tanpa ba-bi-bu, saya yang lagi asyik ngemil kacang atom garuda langsung mengangguk-angguk dengan bersemangat.
Alhasil, saya keselek kacang garuda.
*ini kacangku!

Sudah bertahun tahun lamanya saya memendam hasrat untuk mengunjungi pulau eksotis di teluk Tomini itu. Togean, meski kalah popular dengan Bunaken atau Raja Ampat, merupakan salah satu destinasi wisata bagi turis manca negara. Yeah! Turis manca negara. Di saat Togean telupakan oleh masyrakat domestik, para turis dari berbagai belahan dunia justru berbondong-bondong menikmati keindahannya. Menurut apa yang pernah saya baca tentang Togean, kepulauan Togean ini memiliki kekayaan bawah laut yang luar biasa, mulai dari spesies karang, jenis ikan dan banyak lagi. Beberapa di antaranya adalah spesies endemik asli kepulauan tersebut. Itu berarti you can't find them in other part on earth!

Maka hari itu juga, sepulang kantor, saya bergegas pulang ke rumah untuk packing. Dalam sekejap, backpack saya sudah terisi segala kebutuhan travelling untuk tiga hari.

Rencananya kami akan bermobil pukul 4 sore dari Palu menuju Ampana, di Kabupaten Tojo Una-Una. Sekitar 11 jam via darat. Namun karena ada beberapa hal yang belum terselesaikan, maka kami baru bisa berangkat pukul 9 malam. Mengendarai mobil Avanza yang dapat menampung 7 makhluk Tuhan paling sexy, saya dan beberapa teman kantor berhimpit himpitan menuju Ampana. Bagi saya perjalanan 11 jam dan duduk berdesakan di dalam mobil bukanlah masalah besar, yang penting saya ke Togean.

Perjalanan darat yang kami lalui awalnya cukup lancar, aman dan menyenangkan sebelum akhirnya, ketika waktu telah menunjukkan lewat tengah malam, kami tersesat.
Yeah tersesat!
tersesat tengah malam
Teman saya yang men-joki selama perjalanan berbelok ke arah yang salah.Alih-alih ke arah Ampana doski malah nyasar ke jalan entah kemana.  Nanti sudah hampir 10 kilo baru kami menyadari bahwa kami salah jalan. Pantas saja jalanannya semakin lama semakin sempit, rumah warga juga semakin jarang.

Selamat datang di Ampana
Setelah tersesat dan terkantuk-kantuk, sekitar pukul 7 pagi kami memasuki kota ampana. Ampana merupakan ibu kota Kabupaten Tojo Una-Una. Wilayahnya kurang lebih sama dengan kota Poso. Di Ampana kami mampir di rumah kerabat salah seorang teman untuk numpang beristirahat sejenak, numpang mandi dan sekalian numpang makan. hehe.
Sekitar satu jam kami melepas penat setelah berkendera berjam-jam. Pukul 9 pagi kami bergegas ke Pelabuhan Ampana, sebab pukul 10 pagi, fery yang akan memboyong kami ke Togean akan segera berangkat. Hanya ada 2 fery besar ke Togean dan perjalanan ke Togean memakan waktu sekitar 4 jam, begitu kata seorang 'om', warga setempat.
Oke! Empat jam berfery. Lumayan lama juga ya. Awalnya sih saya enjoy aja mendengarnya, tapi pas tiba di pelabuhan, saya sedikit terkejut melihat 'fery besar' yang dimaksud si om tadi. 'Fery besar' dalam imajinasi saya adalah kapal fery yang dapat digunakan untuk penyebrangan dengan mobil, seperti fery pernyebrangan dari pulau Jawa ke Bali dan sebangsanya. Nyatanya??si Fery besar hanyalah 'seonggok' kapal kayu berukuran mini bertingkat dua yang nampak tidak mampu memiliki daya melawan badai yang sewaktu-waktu dapat menghadang di tengah lautan sono.
"Kita naik ini?"Yakin nih aman?seorang teman tiba-tiba nyeletuk.

Ternyata bukan hanya saya yang meragukan 'si fery besar'.

Tapi apa boleh buat, hanya dengan fery ini kami bisa ke Togean.
Maka sebelum peluit kapal dibunyikan, kami buru-buru membeli tiket dan naik ke atas fery. Rupanya kapal itu telah sesak dengan warga lokal yang membawa banyak barang bawaan, mulai dari hewan ternak sampe hasil kebun. Konon mereka adalah masyarakat suku Bajo yang tinggal di pulau-pulau kecil di teluk Tomini.
Bersiap berlayar bersama si 'Fery Besar'
tetap gaya meski kapalnya sesak
Selain warga lokal, para pelancong mancanegara juga  nampak duduk manis di atas fery. Beberapa teman cewek saya langsung kedip-kedip sambil cengengesan melihat bule cowok yang kinclong-kinclong. Sumprit dah..mereka emang cakep asli tanpa bahan pengawet.

Kalo saya perhatikan, dari tampang dan bahasa yang mereka gunakan, para turis itu berasal dari negara yang bevariasi. Ada yang dari Spanyol, Belanda, and Amerika.

Karena kami naik belakangan ke atas fery kami jadi rada kesulitan mencari space yang cukup buat rombongan kami. Setelah keliling-keliling mencari tempat, akhirnya kami menemukan sebuah bilik yang alhamdulillah tidak cukup bagi kami semua. Tapi lumayanlah untuk duduk berdesak-desakan selama 4 jam perjalanan laut.

*bersambung, adzan ashar berkumandang, penulisnya ciao dulu yaa*

Blogger templates

Free Cloud Cursors at www.totallyfreecursors.com
Kegagalan selalu membangkitkan rasa penasaran. Menyerah berarti berbuat kekonyolan. Bangkit, berlari dan teruslah berjuang! (rfs)
Showing posts with label Travel Writing. Show all posts
Showing posts with label Travel Writing. Show all posts

Tuesday, July 24, 2012

Mengintip Sepenggal Surga di Kepulauan Togean #part 2

menumpuk di atas fery

Kapalpun mulai bergerak meninggalkan dermaga. Di antara hiruk pikuk penumpang, saya mencari posisi strategis untuk menikmati view laut yang indah. Karena tempat duduk di dek sudah penuh, maka saya nangkring di atas karung beras milik salah seorang penumpang yang entah kemana rimbanya. Yah, it's okelah, dari pada kaki saya pegal berdiri selama 4 jam. Beberapa teman menghilang di antara para penumpang, pergi mencari bule-bule cakep yang bisa diajak berfoto ( tipikal Indonesian sekali, hehe). Sementara yang lain memilih tidur di bilik.

Saya memilih untuk tetap duduk di atas karung beras, karena tak ingin melewatkan kesempatan menikmati pemandangan alam yang tersaji di hadapan saya. Angin laut bertiup sepoi-sepoi. Langit biru cerah, berwarna senada dengan lautan  yang berkilauan. Semakin jauh kami berkapal, semakin menakjukbkan pemandangan yang nampak. Gugusan pulau-pulau kecil tak berpenghuni berwarna kehijauan, berpadu dengan hamparan pasir putih yang berkilauan. Beberapa turis tak henti-hentinya membidik kan kamera ke berbagai arah, mengabadikan karya Tuhan yang luar biasa itu.
Gugusan Pulau-pulau kecil


Sedang asyik-asyiknya menikmati pemandangan, tiba-tiba ekor mata saya menangkap seorang ibu berusia paruh baya yang dengan santainya membuang botol pulpy orange kosong ke laut. Buset dah ini ibu, gerutu saya dalam hati. Belum hilang kekesalan saya, si ibu kembali membuang tongkol jagung rebusnya. Dengan gusar saya mendekatinya,

"Aduh bu, sampahnya jangan di buang di laut, nanti lautnya kotor" kata saya berusaha untuk tidak terkesan menggurui.

Si ibu dengan cueknya bilang
" Ah nda apa-apa, di bawa ombak juga hilang nanti"

Lalu desye lanjut mengunyah jagung rebus yang ke sekian biji.

"Hilang kemana??ke Hongkong?" Umpat saya dalam hati.
Dengan gusar saya meninggalkan si ibu. Susah juga ngomong sama orang yang pemikirannya masih 'primitif'. Masa buang sampah di laut? sekate laut TPS? Ibu itu nyadar gak sih kalo laut yang baru dia jadiin tempat sampah itu tempat hidup bagi makhluk lain? Coba kalau tempat tinggalnya dijadiin tempat sampah bagi orang lain?pasti kesal.

Saya mendelik ke arah si ibu, doski sih gak nyadar karena lagi asyik makan jagung rebus. 
Tiba-tiba pemandangan yang tadinya indah dan menawan kini berubah menjadi 'mengerikan'. Tumpukan sampah menggenang kira-kira sepanjang satu kilo meter di tengah lautan. Nah ini dia! Karena para penumpang kapal yang lewat kerap membuang sampah sembarangan,jadinya seperti ini. Sampahnya terkumpul menjadi satu, menari-nari mengikuti irama ombak. Dalam hati saya merasa prihatin. Mengapa kesadaran masyarakat kita masih kurang soal menjaga kelestarian lingkungan? tidakkah mereka sadar akan dampak yang dapat diperoleh akibat demikian? Ekosistem di kepulauan Togean yang merupakan salah satu potensi Sulawesi Tengah bisa saja rusak oleh tangan-tangan penduduknya sendiri. Tidak sadarkah mereka bahwa Tuhan telah menitipkan sepenggal surga di tanah mereka? 'Surga' yang membuat turis-turis asing rela menempuh ribuan kilo dan membayar mahal  untuk melihatnya.

Ah,,menyedihkan.

*masih bersambung



Monday, July 23, 2012

Mengintip Sepenggal Surga di Kepulauan Togean #part 1

Apa yang paling menyenangkan bagi para pekerja kantoran selain libur kejepit?yaitu libur yang berada pas diantara hari kerja dan weekend. Sepertinya libur kejepit adalah nikmat paling luar biasa bagi kami, kaum buruh yang setiap harinya disibukkan oleh rutinitas mencari secuil rejeki bagi anak istri. hoh!
Sebagai buruh, libur kejepit kerap saya manfaat kan untuk nyantai di rumah ato travelling ke tempat-tempat yang menarik.

Hari itu, kebetulan adalah libur nasional yang' terjepit', dan sebuah ajakan tak terduga datang kepada saya. Salah seorang teman kantor mengajak untuk liburan ke Pulau Togean. Yeah Togean!. Tanpa ba-bi-bu, saya yang lagi asyik ngemil kacang atom garuda langsung mengangguk-angguk dengan bersemangat.
Alhasil, saya keselek kacang garuda.
*ini kacangku!

Sudah bertahun tahun lamanya saya memendam hasrat untuk mengunjungi pulau eksotis di teluk Tomini itu. Togean, meski kalah popular dengan Bunaken atau Raja Ampat, merupakan salah satu destinasi wisata bagi turis manca negara. Yeah! Turis manca negara. Di saat Togean telupakan oleh masyrakat domestik, para turis dari berbagai belahan dunia justru berbondong-bondong menikmati keindahannya. Menurut apa yang pernah saya baca tentang Togean, kepulauan Togean ini memiliki kekayaan bawah laut yang luar biasa, mulai dari spesies karang, jenis ikan dan banyak lagi. Beberapa di antaranya adalah spesies endemik asli kepulauan tersebut. Itu berarti you can't find them in other part on earth!

Maka hari itu juga, sepulang kantor, saya bergegas pulang ke rumah untuk packing. Dalam sekejap, backpack saya sudah terisi segala kebutuhan travelling untuk tiga hari.

Rencananya kami akan bermobil pukul 4 sore dari Palu menuju Ampana, di Kabupaten Tojo Una-Una. Sekitar 11 jam via darat. Namun karena ada beberapa hal yang belum terselesaikan, maka kami baru bisa berangkat pukul 9 malam. Mengendarai mobil Avanza yang dapat menampung 7 makhluk Tuhan paling sexy, saya dan beberapa teman kantor berhimpit himpitan menuju Ampana. Bagi saya perjalanan 11 jam dan duduk berdesakan di dalam mobil bukanlah masalah besar, yang penting saya ke Togean.

Perjalanan darat yang kami lalui awalnya cukup lancar, aman dan menyenangkan sebelum akhirnya, ketika waktu telah menunjukkan lewat tengah malam, kami tersesat.
Yeah tersesat!
tersesat tengah malam
Teman saya yang men-joki selama perjalanan berbelok ke arah yang salah.Alih-alih ke arah Ampana doski malah nyasar ke jalan entah kemana.  Nanti sudah hampir 10 kilo baru kami menyadari bahwa kami salah jalan. Pantas saja jalanannya semakin lama semakin sempit, rumah warga juga semakin jarang.

Selamat datang di Ampana
Setelah tersesat dan terkantuk-kantuk, sekitar pukul 7 pagi kami memasuki kota ampana. Ampana merupakan ibu kota Kabupaten Tojo Una-Una. Wilayahnya kurang lebih sama dengan kota Poso. Di Ampana kami mampir di rumah kerabat salah seorang teman untuk numpang beristirahat sejenak, numpang mandi dan sekalian numpang makan. hehe.
Sekitar satu jam kami melepas penat setelah berkendera berjam-jam. Pukul 9 pagi kami bergegas ke Pelabuhan Ampana, sebab pukul 10 pagi, fery yang akan memboyong kami ke Togean akan segera berangkat. Hanya ada 2 fery besar ke Togean dan perjalanan ke Togean memakan waktu sekitar 4 jam, begitu kata seorang 'om', warga setempat.
Oke! Empat jam berfery. Lumayan lama juga ya. Awalnya sih saya enjoy aja mendengarnya, tapi pas tiba di pelabuhan, saya sedikit terkejut melihat 'fery besar' yang dimaksud si om tadi. 'Fery besar' dalam imajinasi saya adalah kapal fery yang dapat digunakan untuk penyebrangan dengan mobil, seperti fery pernyebrangan dari pulau Jawa ke Bali dan sebangsanya. Nyatanya??si Fery besar hanyalah 'seonggok' kapal kayu berukuran mini bertingkat dua yang nampak tidak mampu memiliki daya melawan badai yang sewaktu-waktu dapat menghadang di tengah lautan sono.
"Kita naik ini?"Yakin nih aman?seorang teman tiba-tiba nyeletuk.

Ternyata bukan hanya saya yang meragukan 'si fery besar'.

Tapi apa boleh buat, hanya dengan fery ini kami bisa ke Togean.
Maka sebelum peluit kapal dibunyikan, kami buru-buru membeli tiket dan naik ke atas fery. Rupanya kapal itu telah sesak dengan warga lokal yang membawa banyak barang bawaan, mulai dari hewan ternak sampe hasil kebun. Konon mereka adalah masyarakat suku Bajo yang tinggal di pulau-pulau kecil di teluk Tomini.
Bersiap berlayar bersama si 'Fery Besar'
tetap gaya meski kapalnya sesak
Selain warga lokal, para pelancong mancanegara juga  nampak duduk manis di atas fery. Beberapa teman cewek saya langsung kedip-kedip sambil cengengesan melihat bule cowok yang kinclong-kinclong. Sumprit dah..mereka emang cakep asli tanpa bahan pengawet.

Kalo saya perhatikan, dari tampang dan bahasa yang mereka gunakan, para turis itu berasal dari negara yang bevariasi. Ada yang dari Spanyol, Belanda, and Amerika.

Karena kami naik belakangan ke atas fery kami jadi rada kesulitan mencari space yang cukup buat rombongan kami. Setelah keliling-keliling mencari tempat, akhirnya kami menemukan sebuah bilik yang alhamdulillah tidak cukup bagi kami semua. Tapi lumayanlah untuk duduk berdesak-desakan selama 4 jam perjalanan laut.

*bersambung, adzan ashar berkumandang, penulisnya ciao dulu yaa*