Showing posts with label My Life In USA. Show all posts
Showing posts with label My Life In USA. Show all posts

Saturday, September 1, 2012

Susahnya ngomong bahasa Inggris sama orang China..#Part II

Membaca kisah Trinity tentang betapa susahnya ngomong bahasa Inggris dengan para Chinesse sedikit menggelitik memori saya. Waktu di Iowa, saya punya beberapa kenalan orang China asli  tanpa bahan pengawet, alias China yang emang berasal dari tanah leluhurnya di China Daratan sana. Bukan China peranakan yang banyak kita temui di Indo sebagai pemilik toko A dan toko B. Rupanya, di Iowa State ada banyak sekali mahasiswa Asia terutama yang berasal dari China. Mereka seperti orang China pada umumnya: bermata sipit, berkulit kuning, modis,(nampak) tajir, punya gadget-gadget terbaru dan selalu bergerombol dengan sesamanya. katakanlah, Eksklusif!. Hampir di semua kelas IEOP, saya pasti sekelas dengan para mahasiswa China ini. Paling banyak adalah di kelas Writing dimana sebagian besar studentnya adalah mereka, hanya saya, Ocu. Luqman dan William  yang bukan Chinesse. Saya sempat kaget dan bertanya-tanya dalam hati "Ni gue di Amrik apa di China yah?? scara kemana mata memandang, pasti ada mereka.

Awalnya saya agak segan untuk bertegur sapa dengan mereka di kelas. Apalagi kalo bukan karena ke'ekslusifan' mereka. Bila berhadapan dengan orang non-China mereka pendiammmm banget, sedikit terkesan sombong, tapi kalo lagi ngumpul dengan sesamanya, buset dah, nyerocos bla..bla..bla.. pake bahasa mandarin sampai-sampai dosen saya, Mark Callison harus memberikan 'Surat Peringatan' agar lebih tertib dan sopan di dalam kelas. Saya ingat betapa kesalnya Ocu ketika para Chinesse ini mulai ngobrol (dengan bahasa mandarinnya) disela-sela jam pelajaran. Saya jadi geli sendiri ngeliat desye cemberut sambil mengumpat dalam bahasa Indonesia. Hihi..

Tetapi hal itu justru membuat saya ingin mengenal para Chinesse ini lebih dekat. Jujur, saya rada penasaran dengan 'tabiat' para Chinesse yang begitu ekslusif ini. Saya ingat sebuah pesan di film favorit saya kala masih anak-anak, Petualangan Sherina, katanya kalo kita mau menilai seseorang itu, kita harus mengenalnya lebih dekat agar kita tau sebab musababnya kenapa ia bersikap/bertingkah seperti itu. Maka saya pun mendekati para Chinesse itu. Orang yang pertama kali saya dekati adalah Vivian. 

My Chinessemate

Dengan SKSD tingkat dewa, saya mengajaknya ngobrol dannnnn...*glek* bahasa Inggrisnya parah. Whoaa..rupanya benar kata orang selama ini. orang China itu paling susah ngomong Bahasa Inggris. Tapi Vivian masih oke bila dibandingkan beberapa teman lainnya yang asli bikin saya harus pasang kuping baik-baik bila lagi ngomong dengan mereka. Bahkan tidak jarang saya meminta mereka menuliskan or mengeja kata yang mereka ucapkan agar bisa memahami maksud dari perkataaannya. Di kelas Grammar saya juga punya beberapa orang teman Chinesse yang parah banget ngomong bahasa Inggris. Pernah suatu kali, Kim, salah satu diantara Chinesse students di kelas itu, melayangkan sebuah pertanyaan tentang penggunaan past perfect tense kepada Marc, dosen grammar saya. 

"Marc..keng yu ekspleng ..ai kongfusa,wengwi yuza dise? wateede difelenge witee plesent pelfeke??

Marc hanya bisa melongo mendengarkan pertanyaan Kim, dan memintanya untuk mengulangi, sekali, dua kali, bahkan sampai tiga kali. 

Saya, Dhama dan Lyla harus menggit bibir untuk tidak tertawa. Bukan.. bukan karena mengetawai Kim,tapi ekspresi pak Marc saat Kim bicara itu benar-benar kocak abis. Tidak jarang, kami harus membantu Marc untuk mengartikan apa yang dikatakan Kim (bahasa Inggris Kim adalah yang paling parah diantara para Chinessemate saya). Kata Vivian hal inilah yang membuat mereka malu bila harus berbicara dengan bule ato International student lainnya. Jadi, mereka akan lebih memilih diam sehingga terkesan sombong dan angkuh. Saya pun manggut-manggut. Mahfum.*elus-elusjenggotyangtidakada

Mostly Chinesse students yang kuliah di negara-negara western pasti memiliki dua nama. Nama asli dan nama palsu panggilan. Hal itu dipicu oleh ketidaktegaan mereka melihat para bule dan international student lainnya  kesulitan mengeja nama mereka. Seperti Vivian (yang nama aslinya Xinyu Wei), Gwyneth (saya tidak tau nama aslinya) atau John (saya juga tidak tau). Ide yang bagus menurut saya.
My writing class

Bye the way,  ternyata para Chinesse ini gak seburuk perkiraan saya sebelumnya. mereka oke dan asyik juga diajak ngobrol. Rupa-rupanya nama Indonesia di China cukup familiar. John, teman saya di kelas Speaking langsung nyeletuk' Taufik Hidayat!' waktu saya ngobrol soal badminton dengan dia (saya balas:'Lin dan!'). Saya juga kerap berdiskusi seru dengan Graven dan John. Saling bertukar informasi tentang negara masing-masing. Lucunya, saya pernah membaca tentang Kanibalisme di China dimana ada orang-orang tertentu yang suka makan sup orok (yaik!). Pada Graven dan Vivian saya mengkonfirmasi hal itu.
"You guys know about that??"
Mereka saling berpandangan dengan tatapan bingung, sebelum menjawab
 "Noooooo....' bersamaan. " It's so yuckyyyy! Bagaimana bisa? di mana itu?? " tanya Graven.
dalam hati saya berujar.. "Yeeeee...yang Chinesse sapa, yang ditanyain sapa'. ckckc

Saya lupa kalo China itu luas.

Wednesday, March 7, 2012

Tentang Tornado dan Pintu Basement yang misterius #Cerita dari Iowa

Suatu hari, seminggu setelah kami balik dari Chicago, stasiun TV The Weather Channel mengingatkan bahwa Iowa bakal diserang severe thunderstorm yang berpotensi menjadi Tornado.  Saya yang sedang asik melahap sebiji apel hasil 'jarahan' di UDCC nyaris keselek mendengarnya. 'What??Tornado???'
Dengan segera saya mengeraskan volume TV. 

'Mbak-mbak' penyiar WC (kok jd WC??) yang berambut pirang itu menjelaskan pada pemirsa potensi angin, storm and bla..bla..dengan riang gembira tanpa menghiraukan perasaan galau kami, perantau yang belum punya pengalaman dengan tornado dan sebagainya. Kontan, saya dan teman-teman lainnya jadi agak panik sendiri. Apalagi waktu itu, emak kami, Ms. Xiong, lagi ke Georgia, menghadiri kedukaan grandpha nya yang meninggal saat kami trip ke Chicago. Otomatis, kami bingung mo bertanya pada siapa soal kebenaran berita ini.

Di kampus, saya sempat bertanya pada staff IEOP tentang 'rencana' akan datangnya si Mas Tornado ini. Mereka tenang-tenang aja. Menurut cerita mereka, Iowa emang sering diserang Tornado. kalo di Ames sendiri so far belum ada yang parah-parah amat. "Every building here have basement, so you don't need to be worry, Riska.."kata Jessie, paman-tanpa-ekspresi kami. 

Yeah...itu kabar baiknya. Kabar buruknya, kami tak tau bagaimana mencapai basement di apertement kami. 
Sejak awal kami tiba di SV, kami tidak ditunjukkan dimana letak pintu menuju basement bila something darurat terjadi. 

Ada sebuah pintu darurat yang mencurigakan di bawah tangga. Menurut anggapan kami, pintu itu kemungkinan adalah  pintu menuju basement. Sayang, pintu itu terkunci. Di depannya tertulis "FIRE DOOR, KEEP CLOSED"

Wokeh.Jadi dimanakah jalan menuju basement??

Teman-teman lain pun bingung. Katanya basement ada di Laudry.. Dari apa yang saya baca di pesan yang ada di samping pintu masuk room 9B, katanya in case of emergency, kalo ada cyclone ato tornado menyerang, kami bisa bersembunyi di basement yang terdapat di laundry. 
Yaelah...jauh amat..kalo si mas Tornadonya keburu datang, masa kami harus ngacir ke laundry dulu buat berlindung. Aduuh..bingung.
Ibu Evi yang baik hati, seorang Indonesian yang menikah dan menetap di Iowa, mengirimkan email kepada kami untuk mengingatkan soal cuaca buruk yang diprediksi bakal menyerang Iowa ini.  

For Your Information, weather forecast hr ini diprediksi 90% chance of rain, strong to severe thunderstorm (kilat dan petir) and possible hail (hujan es). Jangan lupa bawa payung ke kampus. Effective severe weather forecast (ramalan cuaca) mulai siang ini sampai malam, termasuk strong wind.
Bbrp hal yang berlu dihindari kalau thunderstorm warning:
1. Jauhi jendela kaca, 2. Hindari mandi menggunakan shower (krn dapat menghantarkan arus listrik), 3. Hindari menggunakan telephon, 4. Sebaiknya tdk menggunakan laptop dan electronic devices lainnya, juga semua yang menggunakan headphone. Seandainya ada tornado warning berupa sirene, selamatkan dokumen penting spt passport dll, cari perlindungan ke basement apartment kalian..Semoga semua maklum demi keselamatan.
Bu Evie

***
Sorenya, cuaca nampak memburuk. Gelegar dan gemuruh terdengar di kejauhan. Awan cumullunimbus menggantung, menggulung-gulung di langit kota Ames. Angin bertiup perlahan memainkan ranting-ranting kering pepohonan yang daunnya telah berguguran. 

Saya sedang asyik asyiknya menonton sebuah drama di TV Lokal, tiba-tiba suara bising seperti sirene terdengar dari box elektronik itu. 
Tornado warning!
Rupanya Tornado  menyerang Iowa. Bukan di Ames. Tepatnya di dekat ibukota Des Moines.
'Wah..sesuatu nih'batin saya sedikit panik.
Saya mengintip keluar. Mudah-mudahan gak sampe sini nih mas Tornadonya.
Beberapa menit kemudian, terdengar sebuah ketukan di pintu apartemen saya. Luqman dan Yusuf rupanya.
"Kamu dengar tadi informasi di TV, ris?"tanya mereka.
"iya, waduh gimana dong..basement mana basement?'
Tetangga dari apartemen 9c itu mengedor-gedor pintu FIRE DOOR di bawah tangga.
"Wah gak bisa....ya.. udah berdoa aja mudah-mudahan tornadonya gak sampe sini".
Lalu kedua bocah itu ngeloyor pergi, naik kembali ke lantai atas. Meninggalkan saya sendirian, menatap nanar 'FIRE DOOR harapan' yang tak kunjung terbuka. 

Saya gak ingat kemana roomate saya, Lyla, sore itu. Entah sedang di kamar ato sedang berkelana ke Walmart. Maka saya yang merasa sendirian memutuskan untuk ngacir ke apatermen sebelah, di 10 B, apartemen si Suci dan Anggi, sekalian solat magrib berjamaah di sana.

Setibanya di sana, rupanya sudah ada Vita, Lia dan Dilla. Katanya mereka sempat panik juga dengan tornado warning tadi n berharap semoga gak kejadian di Ames. 

Si Suci sebaliknya, dengan riang gembira dan penuh suka cita dia berkata: 
"Eh tau gak, aku malah pengen liat tornado yang sebenarnya, mumpung kita di Amrik, selama ini kan kita cuma liat di tipi"
Yang di balas Anggi ( ato Dilla): "Yee..mana bisa kita liat tornado kalo kitanya sembunyi di basement'
Yang di balas oleh saya: "Syukur kalo ada basement, nah ini pintu menuju basementnya aja kita kagak tau"
Yang dipotong oleh teh Lia: "Ya udah mendingan kita solat aja trus ngaji, minta doa biar dilindungi dari bahaya

Kami pun segera solat berjamaah.

Di luar, hujan mulai turun perlahan. Angin mendayu-dayu memaikan ranting kering tepat di balik jendela apartemen 10. Gelegar guntur masih terdengar di kejauhan. Sesekali 'kilat' nampak menyambar, membelah langit kota Ames.

Sore itu, doa sehabis solat saya lebih panjang dari biasanya.

***
Keesokan harinya....

Alhamdulillah severe weather tidak terlalu serius di Ames td malam. In case of another severe weather lagi..sy anjurkan utk stay tune di channel TV 26, 13, 5, 8 for complete coverage..disitu akan terlihat semua pergerakan arah angin dll yg dikirim via radar. Tornado did touch down semalam di Selatan Iowa dan menghancurkan bbrp rumah. Semalam sebetulnya sy coba telp Lukman/Yusuf..ada nada sambung namun telp tdk diangkat. Patut kita syukuri, hr ini cuaca lumayan agak lbh baik. Cuaca spring di daerah midwest rata2 spt ini tiap thnnya. Thn 2005 Ames pernah kena tornado kecil namun cukup dahsyat. Kl angin kencang, jauhi kaca jendela/cermin kamar mandi..kl td ada basement, usahakan berlindung di dalam closet (lemari pakaian) atau kamar mandi, sekali lagi kl di kmr mandi, jauhi cermin. Mudah2an tdk akan ada lagi bad weather selanjutnya..
Bu Evie




*Ames, Iowa.
  Maret, setahun yang lalu


Sunday, February 26, 2012

Remember, Ames....

Hari ini mendung.
Matahari nampaknya enggan menunjukkan kegarangannya.
Suatu ketumbenan untuk kota yang dilalui garis khatulistiwa. Tapi baguslah, paling tidak warga bumi di kota ini tidak kepanasan seperti biasa.
Eniwei...cuaca kayak gini, kadang-kadang mengingatkan saya ke suatu tempat yang jauh.
Hedeww...sebenarnya saya enggan mengenang tempat itu, membuat saya terbuai oleh romantisme masa lalu. Tapi nyatanya, memori itu akan merasuk begitu saja dan saya tak mampu menepisnya.
Kadang-kadang.

Tadi saya iseng membuka-buka diary dan menemukan sebuah catatan kecil di buku itu : 26 February 2011, my 1st day ini Ames!

Hari itu, hari ini. Setahun yang lalu.
Memori saya pun melayang....

***

Ames.
rumah saya selama dua bulan. Sudah nyaris setahun sejak saya meninggalkannya, tapi segala tentangnya masih melekat di kepala, bermain-main di ingatan. Orang-orangnya, sudut-sudut kotanya, saljunya dan dinginnya yang menusuk-nusuk serta masih banyak lagi.

Pagi yang dingin. Biasanya saya akan menengok ke luar jendela. Berharap dua. Matahari bersinar terang atau Salju turun berderai.
Bila matahari merangkak lebih tinggi, biasanya cuaca akan semakin dingin, namun terkadang berubah menghangat. Hujan turun sesekali. Membuat saya dan teman-teman harus berlari-lari ketika sedang menuju ke kelas.

Saya paling suka sore hari ketika tidak hujan dan cuaca sedang hangat. Saya kerap menikmati suasana senja di lapangan ISU sambil menatap matahari yang condong ke barat. Angin kutub akan menerpa wajah saya. Memainkan jilbab saya. Kalau sudah begitu, saya akan betah berlama-lama duduk di atas rerumputan central park sambil menatap siluet Campanile yang berdiri gagah.

Malamnya, angin mulai bertiup jahat. Ranting pohon akan menari-nari, mengeluarkan bunyi gemerisik yang agak menakutkan. Lalu saya akan menyetel musik sekerasnya agar suara-suara itu tidak merasuk hingga ke gendangn telinga saya.

Ada kalanya, bintang bersinar di langit malam Amerika. Menemani malam panjang saya dan teman-teman ketika harus berjibaku dengan Homework yang bertumpuk-tumpuk hingga larut malam.

Oh God.saya benar-benar merindukan Ames saat ini..hanya dari foto-foto saya bisa mengenangnya.
Entah kapan ...
bisa kembali ke sana...

Ames yang tenang
                                                                  

a chilly beautiful morning in Ames
                                                              
Suatu senja di Central Park
                                                                    

Walking around in Ames' Downtown
                                                                    
Cyride, bus dalam kota
                                                               

My 1st day in Ames :)

Monday, February 13, 2012

Good Bye Stories.. #Part 2

Sekitar 45 menit van kami melaju menuju Ibu kota Iowa, Des Moines. Pukul 6 lebih sedikit, kami tiba di DSM International Airport. Meski matahari telah bersinar, udara masih tetap menusuk. Angin pagi Iowa, membuat saya menggigil.

Setelah semua barang diturunkan, kami segera chek in untuk flight menuju Minnesota. Sebelumnya, kami mengucapkan salam perpisahan kepada Jared dan Jessie, pengajar di IEOP yang telah menyempatkan diri untuk mengantar kami hingga ke Des Moines. ‘Paman Jessie’ lelaki datar yang mengatai dirinya sendiri sebagai pribadi yang membosankan, tersenyum ke  arah kami sesaat ketika kami hendak masuk ke bandara.
Ah, Jessie…bagaimanapun, saya tidak akan pernah lupa, ketabahannya menemani dan menjaga kami selama  trip di Chicago sebulan yang lalu.

Kami terbang ke Mineapollis sekitar pukul 8 pagi dengan menumpang Delta Airlines berukuran mini.


 Checkin at DSM Airport

Di Mineapolis, kami harus menunggu cukup lama sebelum boarding menuju Indonesia. Hmm, baguslah. Paling tidak, kami masih memiliki beberapa jam di Amerika. Untuk membunuh waktu, saya menyempatkan jalan-jalan disekitaran bandara. Pemandangan di luar bandara tidak semenarik ketika datang dulu, tidak ada salju di luar sana. Ternyata bandaranya memang gede (seperti perkiraan sebelumnya). Saya setengah berharap dapat bertemu dengan artis  seperti ketika datang dulu. Tengok kiri kanan, saya tidak menemukan tanda-tanda Taylor Swift atau Rihanna sedang jalan-jalan di St Paul. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali bersama teman-teman di ruang tunggu. Ms. Xiong mengajak kami berfoto satu persatu. Ia juga membagikan hadiah perpisahan. Coklat dan kartu berisi  kata-kata perpisahan.


Minnesota again!

****

Detik demi detik berlalu,
dan tibalah saat itu, ketika panggilan untuk penumpang Delta Airlines kami bergema, kami tahu, hanya dalam beberapa menit, kami tidak akan melihat Ms.Xiong dan Amerika lagi (mungkin nanti dimasa depan, tetapi bukankah kata ‘mungkin’ tidak selalu memberikan kepastian??).
Saat itulah puncak haru biru kami. Satu persatu, kami menyalami dan memeluk Ms.Xiong  sambil berlinangan air mata.

Sungguh, momen itu adalah salah satu momen paling mengharukan sepanjang hidup saya. Saya tak akan lupa saat-saat terakhir bersama perempuan yang telah mendampingi kami selama dua bulan terakhir, menyayangi kami selayaknya anak sendiri. Alyssa Xiong,  mungkin hanya dua bulan kami mengenalnya. Tetapi, dua bulan itu telah memberikan kamibanyak pelajaran berharga. Kata-katanya yang penuh motivasi,inspirasi,dan nasehat tak akan pernah kami lupakan hingga akhir hayat.


Our Beloved American Mom: Alyssa Xiong

 Bila saya ingat-ingat, adegan di bandara Mineapolis itu layaknya adegan perpisahan di film2 yang sering saya tonton. Ada pelukan, ada tangis dan air mata. Namun, diantara haru biru itu, disaat semua orang menangis tersedu-sedu, salah seorang dari kami tidak nampak meneteskan airmata, tidak  sedih.
Sama sekali.
Orang itu adalah Zamzami, bujang Aceh yang memang selalu nampak riang gembira di segala situasi dan kondisi. Seperti biasa, ia selalu tersenyum lebar dan nampak tak ada beban. Saya tak habis pikir,bagaimana mungkin ia tidak bersedih di saat-saat terakhir kami di negeri paman sam. Sambil tersenyum Zamzami hanya berkata (dengan logat melayunya seperti biasa): “This is not the end, we will meet again, someday, Ms.Xiong”.
Grup kami pun dipanggil untuk segera boarding. Kami berbaris satu-satu bersiap memasuki pesawat. Ms.Xiong mengawasi kami sambil melambaikan tangan. Sesekali ia nampak terisak. Kami pun demikian.

Beberapa penumpang lainnya melirik ingin tahu mengapa  wajah kami coreng moreng dengan air mata dan nampak sebegitu sedihnya. Dalam hati saya berguman “Kalian hanya tidak pernah ikut IELSP, dan  tidak pernah tahu bagaimana rasanya ketika semuanya berakhir
Dan ketika waktu nya untuk masuk ke pesawat telah tiba, saya kembali menoleh kearah Ms.Xiong. Ia masih melambai dan tersenyum. Seiring dengan langkah kaki kami perlahan, senyum hangatnya hilang dari pandangan.
Saya kembali terisak.
***
Beberapa menit kemudian, Delta Airlines mulai bergerak dan bersiap lepas landas. Semakin lama, semakin cepat. Dari kaca pesawat, saya memandangi langit Amerika. Hari itu mendung. Semendung hati kami.

Perlahan..roda-roda pesawat terasa mulai beranjak naik.
Dan dalam sekejap, Delta Airlines menderu mengangkasa...
 membawa kami pulang, kembali ke dekapan Ibu Pertiwi…..


Selamat tinggal, Paman….I promise to see you again :)

Return to the real life :D

Good Bye Stories #Part 1

Waktu, melesat-lesat begitu cepat. Berlari begitu kencang, meninggalkan jejak-jejak memori dalam kehidupan. Rasanya hanya sekejap, 2 bulan berlalu begitu cepat..dan tibalah kami harus meninggalkan negeri Paman Sam. Program IELSP kami telah berakhir.
Saya ingat bagaimana perasaan kami,para IELSPer Iowa di hari-hari terakhir kami di sana. Perasaan kami campur aduk, tetapi perasaan sedih  adalah yang paling mendominasi. Sedih, ya tentu saja. Sedih meninggalkan semua hal baru yang telah kami kenal di Amerika, Ms.Xiong, teman2 Internasional student, teman2 sesama Indonesia, para Instruktur IEOP, kehidupan AS yang perlahan,kami telah terbiasa. Kami telah memiliki keluarga di sana. Kami merasa nyaman, meski tentu saja, tidak ada tempat di dunia ini yang senyaman tanah air.

Di hari-hari terakhir, saya dan teman-teman memilih untuk menikmati hari-hari terakhir kami dengan hal-hal yang menyenangkan. Kami lebih sering ngumpul bersama, mempererat pertemanan kami. Sebab kami sadar, bahwa sekembalinya kami di tanah air, kami akan berpisah. Kami berasal dari dari Aceh hingga Papua, kami tinggal di kota yang berbeda-beda. Kemungkinan kami akan bertemu setelah program adalah sangat kecil. Bagaimanapun, teman-teman sesama  grantee Iowa  adalah keluarga yang kami punya saat kami  berada di AS. Kami senang dan susah bersama-sama. Perpisahan yang hanya tinggal menghitung hari, membuat kami menjadi agak melankolis ketika harus berbicara soal pulang.

Siang ini, saya iseng-iseng membuka laptop, melihat-lihat foto dan video- video kala masih di Iowa. Memori saya benar-benar terbawa kembali di masa-masa itu.
                                                                 ***
April,23rd.Dinihari waktu Ames. Sebuah panggilan menyadarkanku dari tidur . Itu suara Lyla,roomateku. Katanya Ms xiong, supervisor kami telah menunggu di depan.
Aku melirik jam digital di meja belajarku. Kurang 15 menit pukul lima. Dengan mata berat,  aku bergegas  bangun, mencuci muka dan mengenakan  jaket. Tidak mandi lagi, sebab semalam sebelum tidur aku menghabiskan kurang lebih setengah jam berendam air hangat di bath up. Setelah memastikan tidak ada yang ketinggalan di kamarku, aku bersiap untuk keluar. Pagi itu, kamar tempatku tidur selama dua bulan itu nampak rapi dan bersih. Tidak ada laptop dan tumpukan buku di atas meja, tidak ada alunan Fireworks nya Katty Perry terdengar dari radio mungilnya, tidak ada sweater dan jaket tergantung di lemarinya, dan sebentar lagi… tidak akan ada lagi aku di dalamnya. Kamar itu, nampak kembali normal seperti dua bulan lalu, ketika pertama kali aku memasukinya. Hampa.
Agak kaget ketika aku menemukan Mohammed, teman sesama mahasiswa IEOP berada diruang tamu.
“Nothing left??” sapanya.
“I hope so, hey, what are you doing in this early morning??
“ To watch you leave” katanya sambil tersenyum. Senyumnya, aku tahu, tersirat kesedihan.
Aku tak menyangka Mohammed akan tiba di apartemen kami sepagi dan sedingin ini hanya untuk mengantar kami. Dibutuhkan sebuah pengorbanan besar untuk tiba di Schilleter di saat sebagian besar penduduk Ames masih terlelap di bawah selimut. Pemuda Kuwait itu memang sangat dekat dengan kami selama program. Terutama dengan Lyla, mereka layaknya saudara berbeda bangsa.
Aku  dan Lyla mengecek sekali lagi apertemen kami. Semuanya beres. Tidak ada yang ketinggalan. Kecuali dua buah pasang sepatu yang sengaja kami tinggalkan karena koper kami tidak cukup lagi menampungnya (belakangan aku menyesal meninggalkan sepatu itu)
Aku menyapukan pandangan ke seluruh ruangan apartemen 9B, sekali lagi, untuk terakhir kalinya. Ruang duduknya yang nyaman, dapurnya yang bernuansa putih semuanya nampak rapi. Selamat tinggal, Batinku. Dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan kami bergegas keluar, Mohammed membantu kami menyeret koper-koper yang gemuk luar biasa itu menuju van.

Udara pagi Ames dingin menusuk hingga ke tulang. Aku mellihat teman-teman dari apartemen lainnya sibuk menaikkan koper-koper mereka ke van.
Bang Ireng, saudara kami yang selama ini selalu menyemarakan hari-hari kami di Iowa, nampak di antara para IELSPer lainnya. Ia, sebentar lagi, akan ditinggal oleh ke-19 adik-adik Indonesianya.
Setelah semua koper dinaikkan, Ms. Xiong pun menginstruksikan kami untuk segera naik ke van. Dan inilah momen itu. Satu persatu, kami menyalami Bang Ireng dan Mohammed. Beberapa di antara kami mulai terisak pelan, termasuk aku.
Sambil menyalaminya aku berkata:“ Bang Ireng, selamat tinggal…semoga kita ketemu lagi ya, sukses buat studinya, maaf kalo selama dua bulan ini kami ada salah sama abang, terima kasih untuk semua bantuannya selama program, See you someday in Indonesia” Air mataku benar-benar tak bisa terbendung,
Bang Ireng tersenyum dan berkata” Maaf juga kalo saya ada salah, sukses buat kalian, semoga selamat sampe Indonesia, tetap semangat dan terus belajar”
Dan meskipun hari masih gelap, aku bisa melihat, di bawah sinar lampu jalanan, mata bang Ireng juga tergenang. Para anak lelaki menyalami dan merangkul Bang Ireng, erat.
Aku lalu menyalami Mohammed,” Mohammed, Thanks for everything, Thanks for our wonderful moment together,nice to be your friend, I know I’m gonna miss you, come to Indonesia if you have time”
Mohammed, yang meski secara fisik nampak jauhh lebih dewasa dari kami, nyatanya usianya jauh berada di bawah kami. Matanya berkaca-kaca. Sesekali ia mengusap air matanya.
“ I’m gonna visit ya’all in Indonesia” Katanya dengan senyum lebar meski dengan air mata yang menggenang.
Ia gagal  menyembunyikan kesedihannya.

Berdua dengan Bang Ireng, ia menatap kami satu persatu menaiki van. Di bawah lampu jalan, ditengah dinginnya udara pagi Ames, mereka melambai sebagai tanda perpisahan ketika Van kami mulai berjalan perlahan. Dari kaca jendela kami memandangi sosok dua pemuda yang telah menjadi sahabat dan saudara kami selama di perantauan. Kami pun membalas lambaian mereka. Beberapa di antara kami kembali terisak.
Good bye Bang Ireng, Good Bye Mohammed, Good Bye Schilletter….



Our Big Brother, Ireng Maulana
Mohammed, A friend from Quwait

Kami diam selama dalam perjalanan menuju Des Moines. Hening yang menyiksa. Isak tangis masih terdengar dari beberapa di antara kami. Dari kaca van yang berembun, aku memandangi jalanan yang biasa kami lewati setiap harinya dengan Cyride.  Istal kuda, tempat yang hingga detik terakhirku di Ames tak pernah ku kunjungi, perlahan hilang dari pandangan. Di kiriku, aku menatap Farm House Dr yang lengang dan gelap, tempat kami menunggu Blue North No 3 setiap hari seusai kelas.
Haha..mulai hari ini, tidak akan ada lagi kami, bergerombol menanti bus menuju Schilleter.
Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah para bule yang kerap melihat kami di bus stop itu akan bertanya-tanya tentang keberadaan kami bila mereka tak menjumpai kami hari ini dan seterusnya di Farm House Dr.

***
Semburat cahaya merah mulai nampak di ufuk timur. Sebentar lagi matahari akan muncul.
Aku menatapnya tak berkedip.
Ini, adalah pagi terakhirku di Amerika.
The place where we always wait for Blue North No 3 after class
Farm House Dr, tempat kami menanti Cyride setiap sore

***to be continued***

Wednesday, October 19, 2011

STORY OF SNOW #Chapter 2

Hari-hari berikutnya di Iowa, saya masih tetap excited dengan salju. Begitu juga teman-teman lainnya.
Suatu pagi, di hari ke 3 saya di Iowa, Salju kembali turun. Saya baru saja selesai mandi ketika roomate saya,Lyla bilang: "Wow, di luar turun salju!"
Saya mengintip dari jendela kamar, dan benar. Butiran-butiran putih seperti kapas turun dari langit perlahan-lahan. Pohon cemara di sekitar apartemen mulai memutih ditimpa salju. Saya mendengar celotehan beberapa anak di luar, rupanya teman-teman dari apartemen sebelah yang sedang menikmati snowfall pertama mereka. Dengan segera saya mengambil kamera dan bergabung bersama mereka. Tak menyadari bahwa saya hanya menggunakan kemeja tipis, gloves, dan sendal jepit. Yeah..sendal jepit!


Excited bermain salju, lupa pake jaket..hoho


Witro and Vita before going to campus

Setelah asyik foto-foto, teman-teman mulai menuliskan nama orang-orang terkasih mereka di atas salju. Ada yang menulis nama pacarnya,kakaknya, adiknya, sobatnya dll. Saya yang tidak memilki pacar, tentu saja hanya menuliskan nama-nama sobat saya dan berharap kelak mereka bisa datang ke negeri ini dan menuliskan nama mereka sendiri di atas salju. Request nama di salju pun mulai berdatangan dari teman-teman di Indonesia, namun saya tidak bisa menulis nama mereka satu persatu karena meskipun salju masih turun ketika musim semi tiba, kegiatan di kampus yang padat dan salju (yang biasanya turun pagi-pagi)keburu mencair.#beribu-ribu sori temans

Wishing you both happily ever after:D

Siska on snow

Sari On Snow

STORY OF SNOW #Chapter One

Terlahir dan tinggal di negeri tropis, rasanya wajar bagi saya bila merasa 'excited' berlebihan ketika pertama kali melihat salju dan merasakan winter di negeri Paman Sam beberapa waktu lalu.
Di Indonesia, negara dua musim beriklim tropis, salju adalah hal yang mustahil. Sejak kecil, saya ingin sekali merasakan salju seperti yang kerap saya tonton di film-film. Kebetulan paman,kakak dan sahabat saya,Anggi,telah lebih dulu menginjakkan kaki di negeri bersalju,Denmark Amerika dan Kanada. Kepada mereka saya bertanya-tanya penuh rasa ingin tahu dengan mata yang berbinar-binar lebay.

Kepada om saya,tahun 1996:
Saya:"Om bagaimana rasanya salju
Om saya: "Dingin"
Saya:Om'salju bisa dimakan?"
Om saya:"Tidak, kotor karena diinjak-injak..
Saya: "Kalo yang baru turun dari langit?'
Om saya:"Banyak es di kulkas yang bisa di makan(-_-')
Saya: (*membayangkan salju turun dari langit, saya berlarian, menengadah,membuka mulut dan 'aaaammmmm...#makansalju)


Pada kakak saya berikutnya:
Saya:"gimana sih rasanya salju ntu??"
Kakak Saya: "Biasa aja, kayak es cukur tapi lebih alus"
Saya: (*memikirkan es cukur..slurpp)


Kepada sahabat saya:
Salju:"Salju itu dingin ya,gi?sedingin apa?"
Anggie:"Lebih dingin dari es di kulkas"
Saya: (*membayangkan es di kulkas dan menambah dinginnya beberapa derajad, Brrrr...)


Maka ketika saya mendaftar beasiswa IELSP tahun lalu, saya berdoa agar bisa lulus, juga menambahkan doa saya sebagai berikut:
"God, bila engkau memperkenankan saya untuk lulus beasiswa ini, maka please berangkatkanlah saya pas musim dingin, agar saya bisa merasakan salju sepeti yang saya lihat di tipi-tipi. Saya janji tidak akan membuat es cukur dari salju-salju itu, Aamiiinnnnn"

Dan Tuhan Yang Baik benar-benar mengabulkan permintaan saya. Saya lulus, dan akan ke Amerika pada bulan Februari, bertepatan dengan akhir musim dingin.
Tentu saja saya Happy :D #bersalto di udara

Ketika pesawat Delta Airlines hendak landing di bandara St Paul Mineapolis, mata saya tak berkedip menatap butiran-butiran halus yang turun dari langit .
"Oooo..jadi itu yang namanya salju"
Penuh suka cita, saya dan teman-teman lainnya 'menempel'di jendela pesawat menatap salju yang turun berderai-derai..(to be continued)
Snow on Minneapollis

The first time I saw the real snow:D

Thursday, October 13, 2011

Be On Time atau Kau Akan Menyesal!

Seperti yang kita dengar tentang Amerika bahwa waktu adalah sesuatu yang krusial. Time is Money. Orang Amerika sangatlah menghargai waktu.
Sebagai orang Indonesia, kita kenal betul tabiat masyarakat kita. Soal waktu, kita dikenal dan mengenal diri kita sendiri sebagai penganut jam karet. Kita tak bisa memungkiri hal itu sebab kenyataannya memang demikian(meski tidak semua orang Indonesia demikian). Selama di AS saya selalu berusaha untuk be on time dan mengikuti ritme kehidupan a la Amerika. Saya yang kerap datang lelet ke kampus, sebisa mungkin untuk tidak terlambat. Saya malu bila datang terlambat ke kelas. Bukan karena apa, tapi karena selama di AS, saya dan teman-teman bukan hanya merepresentasikan diri kami secara individu tetapi juga citra bangsa kami. Indonesia. Sebab ketika kami melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan, bukan hanya nama kami yang dipertanyakan tapi asal muasal kami juga akan terbawa-bawa. Saya sadar betul hal itu. Oleh sebab itu, selama program IELSP ini, saya sebisa mungkin untuk tetap menjaga nama baik bangsa dengan tidak melakukan hal yang 'malu-malu'in.

Namun, kebiasaan jam karet yang sudah mendarah daging ini, tetap juga terbawa-bawa dalam kehidupan saya di AS. Pernah suatu kali, saya dan teman-teman hendak menghadiri suatu event mahasiswa di Memorial Union. Global Gala kalau ndak salah namanya. Dalam acara itu, akan ada pementasan dari mahasiswa-mahasiwa dari berbagai negara. Kami excited untuk pergi. Acaranya dijadwalkan akan dimulai pukul 8 malam. Sepulang kampus pukul 5 sore, saya menyempatkan diri untuk tidur sejenak . Saking mengantuknya, saya terbangun nanti pukul setengah 8 malam. Teman saya dari apartemen sebelah telah mengetuk pintu kamar saya berkali-kali. Setelah kaget saya buru-buru mengganti pakaian (tidak perlu mandi karena saya sama sekali tidak berkeringat sebab udara diluar masih dingin menusuk). Dalam sekejap saya siap. Lalu bergegas ke apartemen teman saya di apartemen No 8. Ketika tiba disana, rupanya teman saya Fik dan Alina masih tengah berdandan. Malam itu mereka mengenakan kebaya dan batik. Saya juga mengenakan batik berwarna coklat yang dipadu dengan celana jeans dan sepatu boot warna hitam. Kami mengecek jadwal bus, bus berikutnya akan tiba di halte Edenburn Dr pukul 8.45. Opss! Harusnya kami berangkat dengan bus sebelumnya yakni bus pukul 7.45, namun karena saya telat bangun, dan teman-teman saya masih bersiap-siap, mau tidak mau kami harus menunggu bus berikutnya. Walhasil ketika kami tiba di Memorial Union, acara Global Gala itu hampir selesai. Hanya sekitar 15 menit kami disana dan acara pun selesai. Saya menyesalll banget kala itu. Belum habis penyesalan saya, tiba-tiba teman saya, Luqman berkata bahwa jadwal bus terakhir yang melewati halte terdekat akan tiba pukul 10.00 am. Saya melirik jam, OMG! Kurang 5 menit lagi pukul sepuluh. Sementara kami harus berjalan menuju halte Cyride terdekat di depan UDCC. Dibutuhkan waktu beberapa menit untuk berjalan ke sana. Maka kami berlari secepat kami bisa agar tidak ketinggalan bus. Malam itu, ditengah dinginnya udara kota Ames dan di antara gedung-gedung Iowa State University, saya dan teman-teman berlarian sambil tertawa-tawa, menertawakan nasib kami yang apes banget malam itu. Beberapa orang teman sampai kehabisan napas gara-gara berlari. Sementara itu Luqman dan Yusuf (yang larinya paling kencang)telah tiba di halte. Setiba disana, halte kosong melompong, rupanya bus terakhir telah lewat. Fiuhhhh...sia-sia sudah kami berlarian ditengah malam. Udara Ames semakin menusuk-nusuk, dan meski saya membawa jaket dan memakai boot, saya lupa membawa gloves (sarung tangan).Brrr...kedingingan tentu saja.

'Menggelandang'tengah malam di Ames

Di tengah udara Ames yang menggigit, kami hanya bisa saling berpandangan. Bus terakhir telah lewat dan kami tidak tahu harus naik apa untuk bisa sampai di Schilletter Village, kompleks apartemen kami. Kami nyaris menelpon teman kami, Ian serta supervisor kami. Namun kami mengurungkan niat tersebut sebab kami tidak mau merepotkan orang lain. Dalam kegalauan dan kepekatan malam,salah seorang teman, Anggie kalau tidak salah, menyarankan agar kami pulang jalan kaki. Beberapa teman tidak setuju selain karena lokasinya cukup jauh, udara Ames benar-benar tidak bersahabat malam itu. Selain itu, berkeliaran malam-malam di Negeri Paman Sam,sama sekali bukan ide yang bagus, mengingat keselamatan kami sebagai foreigner. Ames sunyi dan senyap apalagi ditengah malam seperti ini. Saya baru saja mau mengiyakan saran Anggie tersebut, dalam hati saya berkata, "kapan lagi saya bisa jalan malam-malam di negeri orang bareng teman-teman seperti ini, pasti seru" namun tiba-tiba saya terpikir oleh psikopat(saya agak-agak parno dengan psikopat) yang berkeliaran malam-malam seperti yang kerap saya tonton di film Hollywood, maka saya langsung mengurungkan niat saya untuk mendukung pendapat anggi. Masih dalam kekalutan, Luqman mengecek kembali jadwal Cyride. Dan thanks God, rupanya ada bus bernama Moonlight Cyride yang beroperasi tengah malam. Nampaknya bus ini diperuntukkan bagi mereka yang pulang kemalaman dan ketinggalan bus terakhir seperti kami. Tapi kami harus menelpon bus tersebut agar mereka tahu dimana posisi kami. Gaswatnya tidak ada satupun dari kami yang memiliki telpon selular selama di Ames. Dalam gundah gulana bercampur geli, kami menengok ke bangunan bernama Union Drive Community Center (UCDD), tempat kami makan siang setiap hari yang berada tepat didepan kami. Dilantai bawah terdapat telpon umum. Kami berharap telpon itu dapat dipakai tanpa harus membeli kartu. Maka bergegaslah kami ke UDCC sambil berdoa semoga pintu masuknya gak dikunci, dan memang tak terkunci.(Fiuhh#ngelap ingus). UDCC nampak lengang, tak ada seorangpun di bangunan berlantai 3 itu. Seluruh karyawannya telah pulang. Kami langsung mencoba telpon umum yang terpasang didinding UDCC. Berhasil! Telpon diangkat oleh pihak Cyride dan mereka berkata bahwa mereka akan menjemput kami pukul 11.00 am di depan Memorial Union. Maka bergegaslah kami ke halte depan MU. Malam semakin larut, Ames semakin lengang. Kami berdiri sambil menunggu Cyride penyelamat kami di depan Campus Books Store. Segerombolan pemuda berkulit hitam lewat didepan kami sambil tertawa-tawa, salah seorang dari mereka menyapa kami bahkan langsung merangkul salah seorang teman saya, saya lupa siapa, Jali atau Yusuf sambil tertawa-tawa dan ngomong ngaco, sepertinya mabuk. Saya dan beberapa teman cewek lain langsung pucat. Waduh,,jangan sampai kami diapa-apain sama mereka. Dari jidat sudah jelas kami adalah pendatang. Teman saya (yang entah Jali atau Yusuf) masih tetap tenang sambil berusaha merespon si bule item dengan ramah, kemudian si bule pergi..Fiuhhh,,,lega.

Kehidupan malam di AS memang agak menakutkan, terlebih bila kau adalah pendatang.Itulah mengapa kami disarankan oleh Supervisor kami, Alyssa Xiong untuk tetap stay di apartemen bila malam tiba.
Sambil menunggu Cyride, saya memperhatikan para muda-mudi yang lewat ada yang berjalan kaki dan ada juga yang naik mobil sambil tertawa-tawa dan menyetel musik keras-keras.
Akibat tidak on time

Saat sedang menunggu Cyride, beberapa pemuda berwajah Melayu mendekat ke arah kami. Salah seorang teman saya langsung menyapa. "Are you Malaysian?". Mereka mengangguk dan ikut bergabung bersama kami. Rupanya ke tiga pemuda itu juga baru pulang dari Global Gala,seperti kami, mereka juga ketinggalan bus terakhir sehingga kebingungan mo naik apa pulang. Kami menjelaskan kondisi kami dan menawarkan mereka untuk ikut naik Cyride 'penyelamat' kami. Mereka pun langsung sumringah luar dalem.

Pukul 11 tepat Cyride penyelamatpun tiba. Kamipun selamat.

Sejak saat itu saya semakin sadar, bahwa jangan sekali-sekali bermain main dengan waktu bila tinggal di negeri Paman Sam. Bila tidak on time, silahkan terima akibatnya.

Monday, May 23, 2011

SPRING IN ILLINOIS (Catatan Perjalanan Singkat di Kampung Abraham Lincoln Part II)

MULTI ETNIS(Sambungan)
Individualistik masyarakat kota besar pun nampak dikeseharian masyarakat Chicago. Tidak ada senyum basa-basi seperti yang biasa dilakukan masyarkat Ames bila berpapasan di jalan. Diversity di Chicago juga sangat Nampak. Orang-orang dari berbagai ras dan etnis nampak dimana-mana. Menurut pengamatan saya, Tidak susah untuk menemukan muslimah berjilbab di kota ini, sebab selama beberapa hari saya di sana, tidak jarang saya melihat atau berpapasan dengan para jilbaber. Kebanyakan mereka berwajah timur tengah. Hal ini semakin menegaskan bahwa pluralism di Amerikas Serikat adalah hal yang biasa. Masyarakat AS sudah terbiasa dengan kehadiran orang-orang dari luar negeri mereka.

Selama di Chicago saya telah bertemu dengan orang-orang dari berbagai bangsa, dari asia, Eropa, Afrika, sampai Timur Tengah. Kebetulan hostel tempat kami menginap adalah sebuah hostel yang memilki ‘guest’ dari berbagai negara. Saya sempat berbincang-bincang dengan seorang Yahudi bernama( Waduh,,lupa…) yang saya temui di meja billyard. Dia mengaku sedang berlibur ke Amerika. Saya juga bertemu dengan seorang lelaki dari Chile di kelas Salsa( saya sempat ikut kelas salsa di hostel tempat saya menginap,hihii…). Ia mengaku sebagai korban PHK di perusahaan tempat ia bekerja. Untuk menghilangkan ‘stress’nya ia memutuskan untuk jalan-jalan ke Amerika.

Asik juga bertemu dengan orang-orang dari berbeda bangsa, lumayanlah, memperkenalkan bangsa kita ke masyarakat dunia. Meski hanya dengan mengatakan,


"I'm riska, from Indonesia"

( dengan penekanan pada kata’Indonesia), secara tidak sadar kita telah memberitahukan eksistensi bangsa kita di peta Internasioanal, meskipun terkadang setelah itu mereka akan bertanya:

”Indonesia??where is it??”.

Pertanyaan itu terkadang membuat saya ingin bertanya balik
”Mas,pernah belajar IPS kagak di sekolahan??*Gondok

LAKE MICHIGAN,DANAU TERBESAR DI AS

Danau Michigan, satu tempat yang saya kenal dari buku IPS waktu jaman sekolahan dulu, adalah danau terbesar di AS yang membatasi negara bagian Indiana, Illinois, Wisconsin dan Michigan. Tempat ini sangat familiar ditelinga saya. Senang bisa melihatnya langsung. Danaunya ‘guedeeeee’banget…Nampak seperti laut alih-alih sebuah danau. Uniknya, di Sulawesi Tengah kampung saya, ada dua danau yang cukup terkenal, terutama bagi para peneliti. Namanya Danau Poso dan Danau Lindu. Danau- danau ini memiliki daya tarik sendiri. Misalnya, danau Poso (yang terletak di Kabupaten Poso) terkenal karena ikan sidatnya. Sementara danau Lindu terkenal dengan keanekaragaman flora dan fauna di sekitarnya. Yang menarik dari kisah ini adalah, saya,meskipun berada di provinsi yang sama dengan kedua danau itu, tapi belum pernah menjejakkan kaki di sana. Sementara Danau Michigan yang jauhnya beribu-ribu kilometer dari rumah saya, telah saya datangi secara tak sengaja. Kenyataan yang aneh.

Skydeck (willis Tower)


Disebut2 sebagai gedung tertinggi di AS, willis tower menjadi salah satu tempat wisata yang menarik buat turis di Chicago. Tingginya 1,730 Kaki dan terdiri dari 103 lantai.
Menurut informasi, dari skydeck kita bisa melihat 4 negara bagian sekaligus,Illinois,Indiana,Michigan dan Wisconsin. Sayangnya,hal itu hanya bisa dilihat bila langit cerah. Kemarin, waktu saya disana, langit Chicago mendung dan berawan, jadilah kami tidak bisa memandang negara bagian lain dari skydeck.

Shedd Aquarium Vs Seaworld Indonesia: Lumba-Lumba Indonesia lebih pintar,believe me!


Hmmm….menurut saya, Seaworld di Taman Impian Jaya Ancol lebih menarik dari Shedd Aquarium. Entahlah, tapi saya tidak menikmati kunjungan ke dua tempat ini. Yang pertama: Saya telah lebih dulu dikecewakan dengan pementasan lumba-lumba yang ‘biasa-biasa saja’ bila dibandingkan dengan pementasan lumba-lumba di Ancol(yang bisa berhitung dan melompati cincin api). Pementasan di Shedd sama skali tidak menarik sebab si Lumba-lumba hanya bisa mondar-mandir dari ujung kolam satu ke ujung lainnya karena dipanggil oleh para penyelam berbodi bohai. Selain itu, tidak ada yang bisa mereka lakukan. Mereka tidak melompat dengan indah seperti lumba-lumba Ancol yang bahkan bisa diajak salaman. Sungguhh..sama sekali tidak menarik menurut saya.*tepokjidat


Adler Planetarium: Kami datang untuk melihat bintang-bintang, bukan untuk menonton proses pembuatan Teleskop


Dari kecil saya selalu tertarik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan antariksa. Planetarium dan Observatorium adalah tempat yang masuk daftar TOPTEN sebagai tempat yang paling ingin saya kunjungi. Di Indonesia, saya ingin sekali bisa ke Boscha Lembang, namun hingga saat ini keinginan itu belumlah tercapai. Makanya ketika Tour guide kami, Kevin White, mengatakan bahwa hari itu kami akan mengunjungi Adler Planetarium. Saya benar-benar excited luar dalem. Begitu masuk ke dalam planetarium, kami diberi tiket bertuliskan JOURNEY TO THE STARS. Wah…sepertinya kami akan menonton film documenter tentang bintang-bintang. Saya semakin menggebu-gebu dan bersemangat. Sebelum masuk kami diberi kacamata 3 dimensi. Wuihhh…kayaknya bakal seru nih,saya berguman dalam hati. Kemudian masuklah kami ke ruang nonton. Seperti di bioskop,namun lebih kecil. Film pun dimulai.

Dibuka dengan adegan langit malam penuh bintang,kemudian gambar beralih pada beberapa teleskop yang akan dipakai mengamati bintang-bintang. Sayangnya,setelah beberapa menit film diputar, tidak ada tanda-tanda kami akan diajak melakukan Journey to the star, yang ada hanyalah pengenalan teleskop dan proses kerjanya..Hoaaaaammm…membosankan…proses kerja teleskop telah kami pelajari di sekolah dalam mata pelajaran Fisika(meski saya sudah lupa sih..hehee). Kecewa asli. Padahal saya membayangkan kami akan dibawa menjelajahi bintang-bintang dan diperkenalkan rasi-rasi. Nyatanya??Walhasil saya jadi ngantuk. Ketika film usai, beberapa orang teman terbangun. Rupanya mereka tertidur segera setelah film diputar. LOL

Museum Science and Industry Chicago



Setelah dari Adler kami pergi ke Museum Science. Kami menonton film documenter tentang Tornados. Menarik, karena visualisasinya benar-benar nyata, bioskopnya dirancang unik, dimana seluruh dinding dijadikan layar. Kecuali yang bagian belakang. Kami menyaksikan tornado datang seperti benar-benar terlibat di dalamanya. Sayangnya,beberapa hari kemudian,gara2 film tornado itu, kami jadi ketakutan ketika ada Tornado Alert di Iowa. Hahaa..saya dan beberapa teman jadi panik sendiri.

Rabu Pagi di Millenium Park


Kalau di Indonesia ada film berjudul Minggu Pagi di Victoria Park, maka saya mencontek judulnya untuk kisah saya di taman millennium ini. Taman ini adalah tempat paling menarik yang saya kunjungi di Chicago. Letaknya tepat di downtown kota Chicago. Sebenarnya tidak ada yang special dari taman ini, hanya saja, ada sebuah bola kaca(entah bagaimana mendeskripsikannya, karena ia sama skali tidak berbentuk benar-benar bola, melainkan elips) yang sangat menarik perhatian saya dan pengunjung lain. Di bola itu (biarlah saya menyebutnya bola), kita bisa melihat pantulan diri kita dan pantulan alam sekitar kita, termasuk gedung-gedung pencakar langit Chicago. Biasa saja kan sebenarnya? Tapi saya sangat menyukai taman ini, dan betah menghabiskan waktu berjam-jam di sana, hanya untuk....…ngaca! Hahahaa.

Di taman ini banyak sekali turis. Tanpa disangka-sangka kami bertemu dua orang backpacker asal Indonesia, namanya bang Jordan & Bang Ryan. Katanya mereka sedang travelling keliling AS (jadi ngiri)



Begitulah, perjalanan singkat saya di kota ketiga terbesar di Amerika itu. Sangat berkesan meski beberapa tempat yang saya datangi membosankan. Namun demikian, saya bersyukur untuk kesempatan itu. Bisa melihat sisa lain dunia ini rasanya menyenangkan. Rupanya, dunia tidak benar-benar selebar daun kelor,jenderal!=D
 ***
NB: Suatu hari nanti saya ingin kembali ke Chicago (bila Tuhan menghendaki), travelling sendirian (emm,,ralat, jangan sendirian deh, at least ada partner biar cuman seorang,hehe) tanpa harus ikut Rombongan Tour, sebab ada banyak hal menarik yang saya lewatkan di kota ini karena keterbatasan waktu (harus ikut aturan Tour Leader ternyata kurang menyenangkan*sigh)

Sunday, March 27, 2011

Musim Semi di Illinois #Catatan Perjalanan Singkat di Kampung Abraham Lincoln Part I

Pada suatu malam di musim panas,bulan oktober ,1871, sebuah percikan api kecil berujung malapetaka terjadi di sebuah lumbung kecil milik pasangan O’leary,di sudut kota Chicago, Illinois. Kala itu, Chicago masih berumur sangat muda, tidak semodern saat ini. Kebanyakan bangunannya masih terbuat dari kayu. Percikan apa itu merembes ke rumah-rumah sekitarnya sehingga berujung pada tragedy besar yang di kenal dengan sebutan”The GREAT FIRE CHICAGO’ dan tercatat sebgai salah satu kebakaran terhebat dalam sejarah. Ratusan orang tewas, ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal. Selama berhari-hari kota itu menjadi lautan api. Chicago lumpuh total, orang-orang kehilangan tempat tinggal, kehilangan harta benda. Saudagar kaya berubah jadi pengemis miskin berpakaian compang-comping, tingkat kriminalitas meningkat dratis sejak saat itu. Namun kota itu tidak ‘mati’.Sebab beratus tahun kemudian, Chicago menjelma sebagai salah satu kota termodern dan terkenal di dunia.

Chicago, It's America!

Mendengar kata Chicago, semua orang pasti tahu bahwa kata itu menunjuk pada sebuah kota di Amerika Serikat. Chicago telah lama digambarkan di film-film barat, dijadikan lokasi syuting video klip, disebutkan di buku sejarah dan lain sebagainya. Chicago merupakan kota terbesar di Illinois. Illinois sangat lekat dengan nama-nama orang terkenal, sebut saja Abraham Lincoln, presiden ke 16 AS, dan Barrack Obama, yang sebelum menjadi presiden ke 44 AS, dikenal sebagai’sang senator dari Illinois. Juga Al-Capone, si mafia yang namanya terkenal di antara para gangster.

Saya menyebutnya sebagai sebuah keberuntungan, ketika saya dan ke 18 teman dari Indonesia bisa berkunjung ke kota terbesar ke – 3 di Amerika serikat itu. Menikmati musim semi di kota kosmopolitan dengan gedung-gedung pencakar langit yang berarsitektur luar biasa, dengan orang-orang yang berlalu lalang di pusat kota. Hiruk pikuknya benar-benar terasa. 

Di Chicago, Untuk pertama kalinya sejak saya tiba di AS, saya benar-benar merasa sedang berada di Amerika.

I80 Derajat: Antara Chicago & Ames

Ames adalah sebuah kota kecil disebelah utara Des Moines, ibukota Iowa. Dari Ames, dibutuhkan waktu sekitar 6 jam untuk mencapai Chicago dengan mobil. Kehidupan Ames dan Chicago sangat berbeda 180 derajat. Di Ames, tidak ada hiruk pikuk seperti di Chicago. Chicago, seperti umumnya kota besar di dunia, memiliki tingkat kriminalitas yang cukup tinggi (seperti yang diterangkan supervisor kami, Ms Xiong). Bila di Ames, kami tak pernah (atau tepatnya belum pernah) melihat pengemis dan gelandangan, maka di Chicago kami begitu mudah menemukan peminta-minta yang duduk dipinggir jalan berpakaian compang-camping  sambil menengadahkan karton (bukan tangan) yang bertuliskan ’Homeless,need some cent for eat" (sayang, saya gak punya fotonya) 
Wajah Chicago

Pose di depan salah satu gedung pencakar langit Chicago

Ames yang tenang, kalem dan nampak'baik-baik'


Individualistik masyarakat kota besar pun nampak dikeseharian masyarakat Chicago. Tidak ada senyum basa-basi seperti yang biasa dilakukan masyarkat Ames bila berpapasan di jalan. Diversity di Chicago juga sangat nampak. Orang-orang dari berbagai ras dan etnis nampak dimana-mana. Menurut pengamatan saya, tidak susah untuk menemukan muslimah berjilbab di kota ini, sebab selama beberapa hari saya di sana, tidak jarang saya melihat atau berpapasan dengan para jilbaber. Kebanyakan mereka berwajah timur tengah…
(To be Continued, penulisnya harus kerja PR..hohohh..:P)

*SUV Apartment, Room 9B, Musim Semi 2011,disela-sela buku grammar tingkat 4.

Showing posts with label My Life In USA. Show all posts
Showing posts with label My Life In USA. Show all posts

Saturday, September 1, 2012

Susahnya ngomong bahasa Inggris sama orang China..#Part II

Membaca kisah Trinity tentang betapa susahnya ngomong bahasa Inggris dengan para Chinesse sedikit menggelitik memori saya. Waktu di Iowa, saya punya beberapa kenalan orang China asli  tanpa bahan pengawet, alias China yang emang berasal dari tanah leluhurnya di China Daratan sana. Bukan China peranakan yang banyak kita temui di Indo sebagai pemilik toko A dan toko B. Rupanya, di Iowa State ada banyak sekali mahasiswa Asia terutama yang berasal dari China. Mereka seperti orang China pada umumnya: bermata sipit, berkulit kuning, modis,(nampak) tajir, punya gadget-gadget terbaru dan selalu bergerombol dengan sesamanya. katakanlah, Eksklusif!. Hampir di semua kelas IEOP, saya pasti sekelas dengan para mahasiswa China ini. Paling banyak adalah di kelas Writing dimana sebagian besar studentnya adalah mereka, hanya saya, Ocu. Luqman dan William  yang bukan Chinesse. Saya sempat kaget dan bertanya-tanya dalam hati "Ni gue di Amrik apa di China yah?? scara kemana mata memandang, pasti ada mereka.

Awalnya saya agak segan untuk bertegur sapa dengan mereka di kelas. Apalagi kalo bukan karena ke'ekslusifan' mereka. Bila berhadapan dengan orang non-China mereka pendiammmm banget, sedikit terkesan sombong, tapi kalo lagi ngumpul dengan sesamanya, buset dah, nyerocos bla..bla..bla.. pake bahasa mandarin sampai-sampai dosen saya, Mark Callison harus memberikan 'Surat Peringatan' agar lebih tertib dan sopan di dalam kelas. Saya ingat betapa kesalnya Ocu ketika para Chinesse ini mulai ngobrol (dengan bahasa mandarinnya) disela-sela jam pelajaran. Saya jadi geli sendiri ngeliat desye cemberut sambil mengumpat dalam bahasa Indonesia. Hihi..

Tetapi hal itu justru membuat saya ingin mengenal para Chinesse ini lebih dekat. Jujur, saya rada penasaran dengan 'tabiat' para Chinesse yang begitu ekslusif ini. Saya ingat sebuah pesan di film favorit saya kala masih anak-anak, Petualangan Sherina, katanya kalo kita mau menilai seseorang itu, kita harus mengenalnya lebih dekat agar kita tau sebab musababnya kenapa ia bersikap/bertingkah seperti itu. Maka saya pun mendekati para Chinesse itu. Orang yang pertama kali saya dekati adalah Vivian. 

My Chinessemate

Dengan SKSD tingkat dewa, saya mengajaknya ngobrol dannnnn...*glek* bahasa Inggrisnya parah. Whoaa..rupanya benar kata orang selama ini. orang China itu paling susah ngomong Bahasa Inggris. Tapi Vivian masih oke bila dibandingkan beberapa teman lainnya yang asli bikin saya harus pasang kuping baik-baik bila lagi ngomong dengan mereka. Bahkan tidak jarang saya meminta mereka menuliskan or mengeja kata yang mereka ucapkan agar bisa memahami maksud dari perkataaannya. Di kelas Grammar saya juga punya beberapa orang teman Chinesse yang parah banget ngomong bahasa Inggris. Pernah suatu kali, Kim, salah satu diantara Chinesse students di kelas itu, melayangkan sebuah pertanyaan tentang penggunaan past perfect tense kepada Marc, dosen grammar saya. 

"Marc..keng yu ekspleng ..ai kongfusa,wengwi yuza dise? wateede difelenge witee plesent pelfeke??

Marc hanya bisa melongo mendengarkan pertanyaan Kim, dan memintanya untuk mengulangi, sekali, dua kali, bahkan sampai tiga kali. 

Saya, Dhama dan Lyla harus menggit bibir untuk tidak tertawa. Bukan.. bukan karena mengetawai Kim,tapi ekspresi pak Marc saat Kim bicara itu benar-benar kocak abis. Tidak jarang, kami harus membantu Marc untuk mengartikan apa yang dikatakan Kim (bahasa Inggris Kim adalah yang paling parah diantara para Chinessemate saya). Kata Vivian hal inilah yang membuat mereka malu bila harus berbicara dengan bule ato International student lainnya. Jadi, mereka akan lebih memilih diam sehingga terkesan sombong dan angkuh. Saya pun manggut-manggut. Mahfum.*elus-elusjenggotyangtidakada

Mostly Chinesse students yang kuliah di negara-negara western pasti memiliki dua nama. Nama asli dan nama palsu panggilan. Hal itu dipicu oleh ketidaktegaan mereka melihat para bule dan international student lainnya  kesulitan mengeja nama mereka. Seperti Vivian (yang nama aslinya Xinyu Wei), Gwyneth (saya tidak tau nama aslinya) atau John (saya juga tidak tau). Ide yang bagus menurut saya.
My writing class

Bye the way,  ternyata para Chinesse ini gak seburuk perkiraan saya sebelumnya. mereka oke dan asyik juga diajak ngobrol. Rupa-rupanya nama Indonesia di China cukup familiar. John, teman saya di kelas Speaking langsung nyeletuk' Taufik Hidayat!' waktu saya ngobrol soal badminton dengan dia (saya balas:'Lin dan!'). Saya juga kerap berdiskusi seru dengan Graven dan John. Saling bertukar informasi tentang negara masing-masing. Lucunya, saya pernah membaca tentang Kanibalisme di China dimana ada orang-orang tertentu yang suka makan sup orok (yaik!). Pada Graven dan Vivian saya mengkonfirmasi hal itu.
"You guys know about that??"
Mereka saling berpandangan dengan tatapan bingung, sebelum menjawab
 "Noooooo....' bersamaan. " It's so yuckyyyy! Bagaimana bisa? di mana itu?? " tanya Graven.
dalam hati saya berujar.. "Yeeeee...yang Chinesse sapa, yang ditanyain sapa'. ckckc

Saya lupa kalo China itu luas.

Wednesday, March 7, 2012

Tentang Tornado dan Pintu Basement yang misterius #Cerita dari Iowa

Suatu hari, seminggu setelah kami balik dari Chicago, stasiun TV The Weather Channel mengingatkan bahwa Iowa bakal diserang severe thunderstorm yang berpotensi menjadi Tornado.  Saya yang sedang asik melahap sebiji apel hasil 'jarahan' di UDCC nyaris keselek mendengarnya. 'What??Tornado???'
Dengan segera saya mengeraskan volume TV. 

'Mbak-mbak' penyiar WC (kok jd WC??) yang berambut pirang itu menjelaskan pada pemirsa potensi angin, storm and bla..bla..dengan riang gembira tanpa menghiraukan perasaan galau kami, perantau yang belum punya pengalaman dengan tornado dan sebagainya. Kontan, saya dan teman-teman lainnya jadi agak panik sendiri. Apalagi waktu itu, emak kami, Ms. Xiong, lagi ke Georgia, menghadiri kedukaan grandpha nya yang meninggal saat kami trip ke Chicago. Otomatis, kami bingung mo bertanya pada siapa soal kebenaran berita ini.

Di kampus, saya sempat bertanya pada staff IEOP tentang 'rencana' akan datangnya si Mas Tornado ini. Mereka tenang-tenang aja. Menurut cerita mereka, Iowa emang sering diserang Tornado. kalo di Ames sendiri so far belum ada yang parah-parah amat. "Every building here have basement, so you don't need to be worry, Riska.."kata Jessie, paman-tanpa-ekspresi kami. 

Yeah...itu kabar baiknya. Kabar buruknya, kami tak tau bagaimana mencapai basement di apertement kami. 
Sejak awal kami tiba di SV, kami tidak ditunjukkan dimana letak pintu menuju basement bila something darurat terjadi. 

Ada sebuah pintu darurat yang mencurigakan di bawah tangga. Menurut anggapan kami, pintu itu kemungkinan adalah  pintu menuju basement. Sayang, pintu itu terkunci. Di depannya tertulis "FIRE DOOR, KEEP CLOSED"

Wokeh.Jadi dimanakah jalan menuju basement??

Teman-teman lain pun bingung. Katanya basement ada di Laudry.. Dari apa yang saya baca di pesan yang ada di samping pintu masuk room 9B, katanya in case of emergency, kalo ada cyclone ato tornado menyerang, kami bisa bersembunyi di basement yang terdapat di laundry. 
Yaelah...jauh amat..kalo si mas Tornadonya keburu datang, masa kami harus ngacir ke laundry dulu buat berlindung. Aduuh..bingung.
Ibu Evi yang baik hati, seorang Indonesian yang menikah dan menetap di Iowa, mengirimkan email kepada kami untuk mengingatkan soal cuaca buruk yang diprediksi bakal menyerang Iowa ini.  

For Your Information, weather forecast hr ini diprediksi 90% chance of rain, strong to severe thunderstorm (kilat dan petir) and possible hail (hujan es). Jangan lupa bawa payung ke kampus. Effective severe weather forecast (ramalan cuaca) mulai siang ini sampai malam, termasuk strong wind.
Bbrp hal yang berlu dihindari kalau thunderstorm warning:
1. Jauhi jendela kaca, 2. Hindari mandi menggunakan shower (krn dapat menghantarkan arus listrik), 3. Hindari menggunakan telephon, 4. Sebaiknya tdk menggunakan laptop dan electronic devices lainnya, juga semua yang menggunakan headphone. Seandainya ada tornado warning berupa sirene, selamatkan dokumen penting spt passport dll, cari perlindungan ke basement apartment kalian..Semoga semua maklum demi keselamatan.
Bu Evie

***
Sorenya, cuaca nampak memburuk. Gelegar dan gemuruh terdengar di kejauhan. Awan cumullunimbus menggantung, menggulung-gulung di langit kota Ames. Angin bertiup perlahan memainkan ranting-ranting kering pepohonan yang daunnya telah berguguran. 

Saya sedang asyik asyiknya menonton sebuah drama di TV Lokal, tiba-tiba suara bising seperti sirene terdengar dari box elektronik itu. 
Tornado warning!
Rupanya Tornado  menyerang Iowa. Bukan di Ames. Tepatnya di dekat ibukota Des Moines.
'Wah..sesuatu nih'batin saya sedikit panik.
Saya mengintip keluar. Mudah-mudahan gak sampe sini nih mas Tornadonya.
Beberapa menit kemudian, terdengar sebuah ketukan di pintu apartemen saya. Luqman dan Yusuf rupanya.
"Kamu dengar tadi informasi di TV, ris?"tanya mereka.
"iya, waduh gimana dong..basement mana basement?'
Tetangga dari apartemen 9c itu mengedor-gedor pintu FIRE DOOR di bawah tangga.
"Wah gak bisa....ya.. udah berdoa aja mudah-mudahan tornadonya gak sampe sini".
Lalu kedua bocah itu ngeloyor pergi, naik kembali ke lantai atas. Meninggalkan saya sendirian, menatap nanar 'FIRE DOOR harapan' yang tak kunjung terbuka. 

Saya gak ingat kemana roomate saya, Lyla, sore itu. Entah sedang di kamar ato sedang berkelana ke Walmart. Maka saya yang merasa sendirian memutuskan untuk ngacir ke apatermen sebelah, di 10 B, apartemen si Suci dan Anggi, sekalian solat magrib berjamaah di sana.

Setibanya di sana, rupanya sudah ada Vita, Lia dan Dilla. Katanya mereka sempat panik juga dengan tornado warning tadi n berharap semoga gak kejadian di Ames. 

Si Suci sebaliknya, dengan riang gembira dan penuh suka cita dia berkata: 
"Eh tau gak, aku malah pengen liat tornado yang sebenarnya, mumpung kita di Amrik, selama ini kan kita cuma liat di tipi"
Yang di balas Anggi ( ato Dilla): "Yee..mana bisa kita liat tornado kalo kitanya sembunyi di basement'
Yang di balas oleh saya: "Syukur kalo ada basement, nah ini pintu menuju basementnya aja kita kagak tau"
Yang dipotong oleh teh Lia: "Ya udah mendingan kita solat aja trus ngaji, minta doa biar dilindungi dari bahaya

Kami pun segera solat berjamaah.

Di luar, hujan mulai turun perlahan. Angin mendayu-dayu memaikan ranting kering tepat di balik jendela apartemen 10. Gelegar guntur masih terdengar di kejauhan. Sesekali 'kilat' nampak menyambar, membelah langit kota Ames.

Sore itu, doa sehabis solat saya lebih panjang dari biasanya.

***
Keesokan harinya....

Alhamdulillah severe weather tidak terlalu serius di Ames td malam. In case of another severe weather lagi..sy anjurkan utk stay tune di channel TV 26, 13, 5, 8 for complete coverage..disitu akan terlihat semua pergerakan arah angin dll yg dikirim via radar. Tornado did touch down semalam di Selatan Iowa dan menghancurkan bbrp rumah. Semalam sebetulnya sy coba telp Lukman/Yusuf..ada nada sambung namun telp tdk diangkat. Patut kita syukuri, hr ini cuaca lumayan agak lbh baik. Cuaca spring di daerah midwest rata2 spt ini tiap thnnya. Thn 2005 Ames pernah kena tornado kecil namun cukup dahsyat. Kl angin kencang, jauhi kaca jendela/cermin kamar mandi..kl td ada basement, usahakan berlindung di dalam closet (lemari pakaian) atau kamar mandi, sekali lagi kl di kmr mandi, jauhi cermin. Mudah2an tdk akan ada lagi bad weather selanjutnya..
Bu Evie




*Ames, Iowa.
  Maret, setahun yang lalu


Sunday, February 26, 2012

Remember, Ames....

Hari ini mendung.
Matahari nampaknya enggan menunjukkan kegarangannya.
Suatu ketumbenan untuk kota yang dilalui garis khatulistiwa. Tapi baguslah, paling tidak warga bumi di kota ini tidak kepanasan seperti biasa.
Eniwei...cuaca kayak gini, kadang-kadang mengingatkan saya ke suatu tempat yang jauh.
Hedeww...sebenarnya saya enggan mengenang tempat itu, membuat saya terbuai oleh romantisme masa lalu. Tapi nyatanya, memori itu akan merasuk begitu saja dan saya tak mampu menepisnya.
Kadang-kadang.

Tadi saya iseng membuka-buka diary dan menemukan sebuah catatan kecil di buku itu : 26 February 2011, my 1st day ini Ames!

Hari itu, hari ini. Setahun yang lalu.
Memori saya pun melayang....

***

Ames.
rumah saya selama dua bulan. Sudah nyaris setahun sejak saya meninggalkannya, tapi segala tentangnya masih melekat di kepala, bermain-main di ingatan. Orang-orangnya, sudut-sudut kotanya, saljunya dan dinginnya yang menusuk-nusuk serta masih banyak lagi.

Pagi yang dingin. Biasanya saya akan menengok ke luar jendela. Berharap dua. Matahari bersinar terang atau Salju turun berderai.
Bila matahari merangkak lebih tinggi, biasanya cuaca akan semakin dingin, namun terkadang berubah menghangat. Hujan turun sesekali. Membuat saya dan teman-teman harus berlari-lari ketika sedang menuju ke kelas.

Saya paling suka sore hari ketika tidak hujan dan cuaca sedang hangat. Saya kerap menikmati suasana senja di lapangan ISU sambil menatap matahari yang condong ke barat. Angin kutub akan menerpa wajah saya. Memainkan jilbab saya. Kalau sudah begitu, saya akan betah berlama-lama duduk di atas rerumputan central park sambil menatap siluet Campanile yang berdiri gagah.

Malamnya, angin mulai bertiup jahat. Ranting pohon akan menari-nari, mengeluarkan bunyi gemerisik yang agak menakutkan. Lalu saya akan menyetel musik sekerasnya agar suara-suara itu tidak merasuk hingga ke gendangn telinga saya.

Ada kalanya, bintang bersinar di langit malam Amerika. Menemani malam panjang saya dan teman-teman ketika harus berjibaku dengan Homework yang bertumpuk-tumpuk hingga larut malam.

Oh God.saya benar-benar merindukan Ames saat ini..hanya dari foto-foto saya bisa mengenangnya.
Entah kapan ...
bisa kembali ke sana...

Ames yang tenang
                                                                  

a chilly beautiful morning in Ames
                                                              
Suatu senja di Central Park
                                                                    

Walking around in Ames' Downtown
                                                                    
Cyride, bus dalam kota
                                                               

My 1st day in Ames :)

Monday, February 13, 2012

Good Bye Stories.. #Part 2

Sekitar 45 menit van kami melaju menuju Ibu kota Iowa, Des Moines. Pukul 6 lebih sedikit, kami tiba di DSM International Airport. Meski matahari telah bersinar, udara masih tetap menusuk. Angin pagi Iowa, membuat saya menggigil.

Setelah semua barang diturunkan, kami segera chek in untuk flight menuju Minnesota. Sebelumnya, kami mengucapkan salam perpisahan kepada Jared dan Jessie, pengajar di IEOP yang telah menyempatkan diri untuk mengantar kami hingga ke Des Moines. ‘Paman Jessie’ lelaki datar yang mengatai dirinya sendiri sebagai pribadi yang membosankan, tersenyum ke  arah kami sesaat ketika kami hendak masuk ke bandara.
Ah, Jessie…bagaimanapun, saya tidak akan pernah lupa, ketabahannya menemani dan menjaga kami selama  trip di Chicago sebulan yang lalu.

Kami terbang ke Mineapollis sekitar pukul 8 pagi dengan menumpang Delta Airlines berukuran mini.


 Checkin at DSM Airport

Di Mineapolis, kami harus menunggu cukup lama sebelum boarding menuju Indonesia. Hmm, baguslah. Paling tidak, kami masih memiliki beberapa jam di Amerika. Untuk membunuh waktu, saya menyempatkan jalan-jalan disekitaran bandara. Pemandangan di luar bandara tidak semenarik ketika datang dulu, tidak ada salju di luar sana. Ternyata bandaranya memang gede (seperti perkiraan sebelumnya). Saya setengah berharap dapat bertemu dengan artis  seperti ketika datang dulu. Tengok kiri kanan, saya tidak menemukan tanda-tanda Taylor Swift atau Rihanna sedang jalan-jalan di St Paul. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali bersama teman-teman di ruang tunggu. Ms. Xiong mengajak kami berfoto satu persatu. Ia juga membagikan hadiah perpisahan. Coklat dan kartu berisi  kata-kata perpisahan.


Minnesota again!

****

Detik demi detik berlalu,
dan tibalah saat itu, ketika panggilan untuk penumpang Delta Airlines kami bergema, kami tahu, hanya dalam beberapa menit, kami tidak akan melihat Ms.Xiong dan Amerika lagi (mungkin nanti dimasa depan, tetapi bukankah kata ‘mungkin’ tidak selalu memberikan kepastian??).
Saat itulah puncak haru biru kami. Satu persatu, kami menyalami dan memeluk Ms.Xiong  sambil berlinangan air mata.

Sungguh, momen itu adalah salah satu momen paling mengharukan sepanjang hidup saya. Saya tak akan lupa saat-saat terakhir bersama perempuan yang telah mendampingi kami selama dua bulan terakhir, menyayangi kami selayaknya anak sendiri. Alyssa Xiong,  mungkin hanya dua bulan kami mengenalnya. Tetapi, dua bulan itu telah memberikan kamibanyak pelajaran berharga. Kata-katanya yang penuh motivasi,inspirasi,dan nasehat tak akan pernah kami lupakan hingga akhir hayat.


Our Beloved American Mom: Alyssa Xiong

 Bila saya ingat-ingat, adegan di bandara Mineapolis itu layaknya adegan perpisahan di film2 yang sering saya tonton. Ada pelukan, ada tangis dan air mata. Namun, diantara haru biru itu, disaat semua orang menangis tersedu-sedu, salah seorang dari kami tidak nampak meneteskan airmata, tidak  sedih.
Sama sekali.
Orang itu adalah Zamzami, bujang Aceh yang memang selalu nampak riang gembira di segala situasi dan kondisi. Seperti biasa, ia selalu tersenyum lebar dan nampak tak ada beban. Saya tak habis pikir,bagaimana mungkin ia tidak bersedih di saat-saat terakhir kami di negeri paman sam. Sambil tersenyum Zamzami hanya berkata (dengan logat melayunya seperti biasa): “This is not the end, we will meet again, someday, Ms.Xiong”.
Grup kami pun dipanggil untuk segera boarding. Kami berbaris satu-satu bersiap memasuki pesawat. Ms.Xiong mengawasi kami sambil melambaikan tangan. Sesekali ia nampak terisak. Kami pun demikian.

Beberapa penumpang lainnya melirik ingin tahu mengapa  wajah kami coreng moreng dengan air mata dan nampak sebegitu sedihnya. Dalam hati saya berguman “Kalian hanya tidak pernah ikut IELSP, dan  tidak pernah tahu bagaimana rasanya ketika semuanya berakhir
Dan ketika waktu nya untuk masuk ke pesawat telah tiba, saya kembali menoleh kearah Ms.Xiong. Ia masih melambai dan tersenyum. Seiring dengan langkah kaki kami perlahan, senyum hangatnya hilang dari pandangan.
Saya kembali terisak.
***
Beberapa menit kemudian, Delta Airlines mulai bergerak dan bersiap lepas landas. Semakin lama, semakin cepat. Dari kaca pesawat, saya memandangi langit Amerika. Hari itu mendung. Semendung hati kami.

Perlahan..roda-roda pesawat terasa mulai beranjak naik.
Dan dalam sekejap, Delta Airlines menderu mengangkasa...
 membawa kami pulang, kembali ke dekapan Ibu Pertiwi…..


Selamat tinggal, Paman….I promise to see you again :)

Return to the real life :D

Good Bye Stories #Part 1

Waktu, melesat-lesat begitu cepat. Berlari begitu kencang, meninggalkan jejak-jejak memori dalam kehidupan. Rasanya hanya sekejap, 2 bulan berlalu begitu cepat..dan tibalah kami harus meninggalkan negeri Paman Sam. Program IELSP kami telah berakhir.
Saya ingat bagaimana perasaan kami,para IELSPer Iowa di hari-hari terakhir kami di sana. Perasaan kami campur aduk, tetapi perasaan sedih  adalah yang paling mendominasi. Sedih, ya tentu saja. Sedih meninggalkan semua hal baru yang telah kami kenal di Amerika, Ms.Xiong, teman2 Internasional student, teman2 sesama Indonesia, para Instruktur IEOP, kehidupan AS yang perlahan,kami telah terbiasa. Kami telah memiliki keluarga di sana. Kami merasa nyaman, meski tentu saja, tidak ada tempat di dunia ini yang senyaman tanah air.

Di hari-hari terakhir, saya dan teman-teman memilih untuk menikmati hari-hari terakhir kami dengan hal-hal yang menyenangkan. Kami lebih sering ngumpul bersama, mempererat pertemanan kami. Sebab kami sadar, bahwa sekembalinya kami di tanah air, kami akan berpisah. Kami berasal dari dari Aceh hingga Papua, kami tinggal di kota yang berbeda-beda. Kemungkinan kami akan bertemu setelah program adalah sangat kecil. Bagaimanapun, teman-teman sesama  grantee Iowa  adalah keluarga yang kami punya saat kami  berada di AS. Kami senang dan susah bersama-sama. Perpisahan yang hanya tinggal menghitung hari, membuat kami menjadi agak melankolis ketika harus berbicara soal pulang.

Siang ini, saya iseng-iseng membuka laptop, melihat-lihat foto dan video- video kala masih di Iowa. Memori saya benar-benar terbawa kembali di masa-masa itu.
                                                                 ***
April,23rd.Dinihari waktu Ames. Sebuah panggilan menyadarkanku dari tidur . Itu suara Lyla,roomateku. Katanya Ms xiong, supervisor kami telah menunggu di depan.
Aku melirik jam digital di meja belajarku. Kurang 15 menit pukul lima. Dengan mata berat,  aku bergegas  bangun, mencuci muka dan mengenakan  jaket. Tidak mandi lagi, sebab semalam sebelum tidur aku menghabiskan kurang lebih setengah jam berendam air hangat di bath up. Setelah memastikan tidak ada yang ketinggalan di kamarku, aku bersiap untuk keluar. Pagi itu, kamar tempatku tidur selama dua bulan itu nampak rapi dan bersih. Tidak ada laptop dan tumpukan buku di atas meja, tidak ada alunan Fireworks nya Katty Perry terdengar dari radio mungilnya, tidak ada sweater dan jaket tergantung di lemarinya, dan sebentar lagi… tidak akan ada lagi aku di dalamnya. Kamar itu, nampak kembali normal seperti dua bulan lalu, ketika pertama kali aku memasukinya. Hampa.
Agak kaget ketika aku menemukan Mohammed, teman sesama mahasiswa IEOP berada diruang tamu.
“Nothing left??” sapanya.
“I hope so, hey, what are you doing in this early morning??
“ To watch you leave” katanya sambil tersenyum. Senyumnya, aku tahu, tersirat kesedihan.
Aku tak menyangka Mohammed akan tiba di apartemen kami sepagi dan sedingin ini hanya untuk mengantar kami. Dibutuhkan sebuah pengorbanan besar untuk tiba di Schilleter di saat sebagian besar penduduk Ames masih terlelap di bawah selimut. Pemuda Kuwait itu memang sangat dekat dengan kami selama program. Terutama dengan Lyla, mereka layaknya saudara berbeda bangsa.
Aku  dan Lyla mengecek sekali lagi apertemen kami. Semuanya beres. Tidak ada yang ketinggalan. Kecuali dua buah pasang sepatu yang sengaja kami tinggalkan karena koper kami tidak cukup lagi menampungnya (belakangan aku menyesal meninggalkan sepatu itu)
Aku menyapukan pandangan ke seluruh ruangan apartemen 9B, sekali lagi, untuk terakhir kalinya. Ruang duduknya yang nyaman, dapurnya yang bernuansa putih semuanya nampak rapi. Selamat tinggal, Batinku. Dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan kami bergegas keluar, Mohammed membantu kami menyeret koper-koper yang gemuk luar biasa itu menuju van.

Udara pagi Ames dingin menusuk hingga ke tulang. Aku mellihat teman-teman dari apartemen lainnya sibuk menaikkan koper-koper mereka ke van.
Bang Ireng, saudara kami yang selama ini selalu menyemarakan hari-hari kami di Iowa, nampak di antara para IELSPer lainnya. Ia, sebentar lagi, akan ditinggal oleh ke-19 adik-adik Indonesianya.
Setelah semua koper dinaikkan, Ms. Xiong pun menginstruksikan kami untuk segera naik ke van. Dan inilah momen itu. Satu persatu, kami menyalami Bang Ireng dan Mohammed. Beberapa di antara kami mulai terisak pelan, termasuk aku.
Sambil menyalaminya aku berkata:“ Bang Ireng, selamat tinggal…semoga kita ketemu lagi ya, sukses buat studinya, maaf kalo selama dua bulan ini kami ada salah sama abang, terima kasih untuk semua bantuannya selama program, See you someday in Indonesia” Air mataku benar-benar tak bisa terbendung,
Bang Ireng tersenyum dan berkata” Maaf juga kalo saya ada salah, sukses buat kalian, semoga selamat sampe Indonesia, tetap semangat dan terus belajar”
Dan meskipun hari masih gelap, aku bisa melihat, di bawah sinar lampu jalanan, mata bang Ireng juga tergenang. Para anak lelaki menyalami dan merangkul Bang Ireng, erat.
Aku lalu menyalami Mohammed,” Mohammed, Thanks for everything, Thanks for our wonderful moment together,nice to be your friend, I know I’m gonna miss you, come to Indonesia if you have time”
Mohammed, yang meski secara fisik nampak jauhh lebih dewasa dari kami, nyatanya usianya jauh berada di bawah kami. Matanya berkaca-kaca. Sesekali ia mengusap air matanya.
“ I’m gonna visit ya’all in Indonesia” Katanya dengan senyum lebar meski dengan air mata yang menggenang.
Ia gagal  menyembunyikan kesedihannya.

Berdua dengan Bang Ireng, ia menatap kami satu persatu menaiki van. Di bawah lampu jalan, ditengah dinginnya udara pagi Ames, mereka melambai sebagai tanda perpisahan ketika Van kami mulai berjalan perlahan. Dari kaca jendela kami memandangi sosok dua pemuda yang telah menjadi sahabat dan saudara kami selama di perantauan. Kami pun membalas lambaian mereka. Beberapa di antara kami kembali terisak.
Good bye Bang Ireng, Good Bye Mohammed, Good Bye Schilletter….



Our Big Brother, Ireng Maulana
Mohammed, A friend from Quwait

Kami diam selama dalam perjalanan menuju Des Moines. Hening yang menyiksa. Isak tangis masih terdengar dari beberapa di antara kami. Dari kaca van yang berembun, aku memandangi jalanan yang biasa kami lewati setiap harinya dengan Cyride.  Istal kuda, tempat yang hingga detik terakhirku di Ames tak pernah ku kunjungi, perlahan hilang dari pandangan. Di kiriku, aku menatap Farm House Dr yang lengang dan gelap, tempat kami menunggu Blue North No 3 setiap hari seusai kelas.
Haha..mulai hari ini, tidak akan ada lagi kami, bergerombol menanti bus menuju Schilleter.
Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah para bule yang kerap melihat kami di bus stop itu akan bertanya-tanya tentang keberadaan kami bila mereka tak menjumpai kami hari ini dan seterusnya di Farm House Dr.

***
Semburat cahaya merah mulai nampak di ufuk timur. Sebentar lagi matahari akan muncul.
Aku menatapnya tak berkedip.
Ini, adalah pagi terakhirku di Amerika.
The place where we always wait for Blue North No 3 after class
Farm House Dr, tempat kami menanti Cyride setiap sore

***to be continued***

Wednesday, October 19, 2011

STORY OF SNOW #Chapter 2

Hari-hari berikutnya di Iowa, saya masih tetap excited dengan salju. Begitu juga teman-teman lainnya.
Suatu pagi, di hari ke 3 saya di Iowa, Salju kembali turun. Saya baru saja selesai mandi ketika roomate saya,Lyla bilang: "Wow, di luar turun salju!"
Saya mengintip dari jendela kamar, dan benar. Butiran-butiran putih seperti kapas turun dari langit perlahan-lahan. Pohon cemara di sekitar apartemen mulai memutih ditimpa salju. Saya mendengar celotehan beberapa anak di luar, rupanya teman-teman dari apartemen sebelah yang sedang menikmati snowfall pertama mereka. Dengan segera saya mengambil kamera dan bergabung bersama mereka. Tak menyadari bahwa saya hanya menggunakan kemeja tipis, gloves, dan sendal jepit. Yeah..sendal jepit!


Excited bermain salju, lupa pake jaket..hoho


Witro and Vita before going to campus

Setelah asyik foto-foto, teman-teman mulai menuliskan nama orang-orang terkasih mereka di atas salju. Ada yang menulis nama pacarnya,kakaknya, adiknya, sobatnya dll. Saya yang tidak memilki pacar, tentu saja hanya menuliskan nama-nama sobat saya dan berharap kelak mereka bisa datang ke negeri ini dan menuliskan nama mereka sendiri di atas salju. Request nama di salju pun mulai berdatangan dari teman-teman di Indonesia, namun saya tidak bisa menulis nama mereka satu persatu karena meskipun salju masih turun ketika musim semi tiba, kegiatan di kampus yang padat dan salju (yang biasanya turun pagi-pagi)keburu mencair.#beribu-ribu sori temans

Wishing you both happily ever after:D

Siska on snow

Sari On Snow

STORY OF SNOW #Chapter One

Terlahir dan tinggal di negeri tropis, rasanya wajar bagi saya bila merasa 'excited' berlebihan ketika pertama kali melihat salju dan merasakan winter di negeri Paman Sam beberapa waktu lalu.
Di Indonesia, negara dua musim beriklim tropis, salju adalah hal yang mustahil. Sejak kecil, saya ingin sekali merasakan salju seperti yang kerap saya tonton di film-film. Kebetulan paman,kakak dan sahabat saya,Anggi,telah lebih dulu menginjakkan kaki di negeri bersalju,Denmark Amerika dan Kanada. Kepada mereka saya bertanya-tanya penuh rasa ingin tahu dengan mata yang berbinar-binar lebay.

Kepada om saya,tahun 1996:
Saya:"Om bagaimana rasanya salju
Om saya: "Dingin"
Saya:Om'salju bisa dimakan?"
Om saya:"Tidak, kotor karena diinjak-injak..
Saya: "Kalo yang baru turun dari langit?'
Om saya:"Banyak es di kulkas yang bisa di makan(-_-')
Saya: (*membayangkan salju turun dari langit, saya berlarian, menengadah,membuka mulut dan 'aaaammmmm...#makansalju)


Pada kakak saya berikutnya:
Saya:"gimana sih rasanya salju ntu??"
Kakak Saya: "Biasa aja, kayak es cukur tapi lebih alus"
Saya: (*memikirkan es cukur..slurpp)


Kepada sahabat saya:
Salju:"Salju itu dingin ya,gi?sedingin apa?"
Anggie:"Lebih dingin dari es di kulkas"
Saya: (*membayangkan es di kulkas dan menambah dinginnya beberapa derajad, Brrrr...)


Maka ketika saya mendaftar beasiswa IELSP tahun lalu, saya berdoa agar bisa lulus, juga menambahkan doa saya sebagai berikut:
"God, bila engkau memperkenankan saya untuk lulus beasiswa ini, maka please berangkatkanlah saya pas musim dingin, agar saya bisa merasakan salju sepeti yang saya lihat di tipi-tipi. Saya janji tidak akan membuat es cukur dari salju-salju itu, Aamiiinnnnn"

Dan Tuhan Yang Baik benar-benar mengabulkan permintaan saya. Saya lulus, dan akan ke Amerika pada bulan Februari, bertepatan dengan akhir musim dingin.
Tentu saja saya Happy :D #bersalto di udara

Ketika pesawat Delta Airlines hendak landing di bandara St Paul Mineapolis, mata saya tak berkedip menatap butiran-butiran halus yang turun dari langit .
"Oooo..jadi itu yang namanya salju"
Penuh suka cita, saya dan teman-teman lainnya 'menempel'di jendela pesawat menatap salju yang turun berderai-derai..(to be continued)
Snow on Minneapollis

The first time I saw the real snow:D

Thursday, October 13, 2011

Be On Time atau Kau Akan Menyesal!

Seperti yang kita dengar tentang Amerika bahwa waktu adalah sesuatu yang krusial. Time is Money. Orang Amerika sangatlah menghargai waktu.
Sebagai orang Indonesia, kita kenal betul tabiat masyarakat kita. Soal waktu, kita dikenal dan mengenal diri kita sendiri sebagai penganut jam karet. Kita tak bisa memungkiri hal itu sebab kenyataannya memang demikian(meski tidak semua orang Indonesia demikian). Selama di AS saya selalu berusaha untuk be on time dan mengikuti ritme kehidupan a la Amerika. Saya yang kerap datang lelet ke kampus, sebisa mungkin untuk tidak terlambat. Saya malu bila datang terlambat ke kelas. Bukan karena apa, tapi karena selama di AS, saya dan teman-teman bukan hanya merepresentasikan diri kami secara individu tetapi juga citra bangsa kami. Indonesia. Sebab ketika kami melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan, bukan hanya nama kami yang dipertanyakan tapi asal muasal kami juga akan terbawa-bawa. Saya sadar betul hal itu. Oleh sebab itu, selama program IELSP ini, saya sebisa mungkin untuk tetap menjaga nama baik bangsa dengan tidak melakukan hal yang 'malu-malu'in.

Namun, kebiasaan jam karet yang sudah mendarah daging ini, tetap juga terbawa-bawa dalam kehidupan saya di AS. Pernah suatu kali, saya dan teman-teman hendak menghadiri suatu event mahasiswa di Memorial Union. Global Gala kalau ndak salah namanya. Dalam acara itu, akan ada pementasan dari mahasiswa-mahasiwa dari berbagai negara. Kami excited untuk pergi. Acaranya dijadwalkan akan dimulai pukul 8 malam. Sepulang kampus pukul 5 sore, saya menyempatkan diri untuk tidur sejenak . Saking mengantuknya, saya terbangun nanti pukul setengah 8 malam. Teman saya dari apartemen sebelah telah mengetuk pintu kamar saya berkali-kali. Setelah kaget saya buru-buru mengganti pakaian (tidak perlu mandi karena saya sama sekali tidak berkeringat sebab udara diluar masih dingin menusuk). Dalam sekejap saya siap. Lalu bergegas ke apartemen teman saya di apartemen No 8. Ketika tiba disana, rupanya teman saya Fik dan Alina masih tengah berdandan. Malam itu mereka mengenakan kebaya dan batik. Saya juga mengenakan batik berwarna coklat yang dipadu dengan celana jeans dan sepatu boot warna hitam. Kami mengecek jadwal bus, bus berikutnya akan tiba di halte Edenburn Dr pukul 8.45. Opss! Harusnya kami berangkat dengan bus sebelumnya yakni bus pukul 7.45, namun karena saya telat bangun, dan teman-teman saya masih bersiap-siap, mau tidak mau kami harus menunggu bus berikutnya. Walhasil ketika kami tiba di Memorial Union, acara Global Gala itu hampir selesai. Hanya sekitar 15 menit kami disana dan acara pun selesai. Saya menyesalll banget kala itu. Belum habis penyesalan saya, tiba-tiba teman saya, Luqman berkata bahwa jadwal bus terakhir yang melewati halte terdekat akan tiba pukul 10.00 am. Saya melirik jam, OMG! Kurang 5 menit lagi pukul sepuluh. Sementara kami harus berjalan menuju halte Cyride terdekat di depan UDCC. Dibutuhkan waktu beberapa menit untuk berjalan ke sana. Maka kami berlari secepat kami bisa agar tidak ketinggalan bus. Malam itu, ditengah dinginnya udara kota Ames dan di antara gedung-gedung Iowa State University, saya dan teman-teman berlarian sambil tertawa-tawa, menertawakan nasib kami yang apes banget malam itu. Beberapa orang teman sampai kehabisan napas gara-gara berlari. Sementara itu Luqman dan Yusuf (yang larinya paling kencang)telah tiba di halte. Setiba disana, halte kosong melompong, rupanya bus terakhir telah lewat. Fiuhhhh...sia-sia sudah kami berlarian ditengah malam. Udara Ames semakin menusuk-nusuk, dan meski saya membawa jaket dan memakai boot, saya lupa membawa gloves (sarung tangan).Brrr...kedingingan tentu saja.

'Menggelandang'tengah malam di Ames

Di tengah udara Ames yang menggigit, kami hanya bisa saling berpandangan. Bus terakhir telah lewat dan kami tidak tahu harus naik apa untuk bisa sampai di Schilletter Village, kompleks apartemen kami. Kami nyaris menelpon teman kami, Ian serta supervisor kami. Namun kami mengurungkan niat tersebut sebab kami tidak mau merepotkan orang lain. Dalam kegalauan dan kepekatan malam,salah seorang teman, Anggie kalau tidak salah, menyarankan agar kami pulang jalan kaki. Beberapa teman tidak setuju selain karena lokasinya cukup jauh, udara Ames benar-benar tidak bersahabat malam itu. Selain itu, berkeliaran malam-malam di Negeri Paman Sam,sama sekali bukan ide yang bagus, mengingat keselamatan kami sebagai foreigner. Ames sunyi dan senyap apalagi ditengah malam seperti ini. Saya baru saja mau mengiyakan saran Anggie tersebut, dalam hati saya berkata, "kapan lagi saya bisa jalan malam-malam di negeri orang bareng teman-teman seperti ini, pasti seru" namun tiba-tiba saya terpikir oleh psikopat(saya agak-agak parno dengan psikopat) yang berkeliaran malam-malam seperti yang kerap saya tonton di film Hollywood, maka saya langsung mengurungkan niat saya untuk mendukung pendapat anggi. Masih dalam kekalutan, Luqman mengecek kembali jadwal Cyride. Dan thanks God, rupanya ada bus bernama Moonlight Cyride yang beroperasi tengah malam. Nampaknya bus ini diperuntukkan bagi mereka yang pulang kemalaman dan ketinggalan bus terakhir seperti kami. Tapi kami harus menelpon bus tersebut agar mereka tahu dimana posisi kami. Gaswatnya tidak ada satupun dari kami yang memiliki telpon selular selama di Ames. Dalam gundah gulana bercampur geli, kami menengok ke bangunan bernama Union Drive Community Center (UCDD), tempat kami makan siang setiap hari yang berada tepat didepan kami. Dilantai bawah terdapat telpon umum. Kami berharap telpon itu dapat dipakai tanpa harus membeli kartu. Maka bergegaslah kami ke UDCC sambil berdoa semoga pintu masuknya gak dikunci, dan memang tak terkunci.(Fiuhh#ngelap ingus). UDCC nampak lengang, tak ada seorangpun di bangunan berlantai 3 itu. Seluruh karyawannya telah pulang. Kami langsung mencoba telpon umum yang terpasang didinding UDCC. Berhasil! Telpon diangkat oleh pihak Cyride dan mereka berkata bahwa mereka akan menjemput kami pukul 11.00 am di depan Memorial Union. Maka bergegaslah kami ke halte depan MU. Malam semakin larut, Ames semakin lengang. Kami berdiri sambil menunggu Cyride penyelamat kami di depan Campus Books Store. Segerombolan pemuda berkulit hitam lewat didepan kami sambil tertawa-tawa, salah seorang dari mereka menyapa kami bahkan langsung merangkul salah seorang teman saya, saya lupa siapa, Jali atau Yusuf sambil tertawa-tawa dan ngomong ngaco, sepertinya mabuk. Saya dan beberapa teman cewek lain langsung pucat. Waduh,,jangan sampai kami diapa-apain sama mereka. Dari jidat sudah jelas kami adalah pendatang. Teman saya (yang entah Jali atau Yusuf) masih tetap tenang sambil berusaha merespon si bule item dengan ramah, kemudian si bule pergi..Fiuhhh,,,lega.

Kehidupan malam di AS memang agak menakutkan, terlebih bila kau adalah pendatang.Itulah mengapa kami disarankan oleh Supervisor kami, Alyssa Xiong untuk tetap stay di apartemen bila malam tiba.
Sambil menunggu Cyride, saya memperhatikan para muda-mudi yang lewat ada yang berjalan kaki dan ada juga yang naik mobil sambil tertawa-tawa dan menyetel musik keras-keras.
Akibat tidak on time

Saat sedang menunggu Cyride, beberapa pemuda berwajah Melayu mendekat ke arah kami. Salah seorang teman saya langsung menyapa. "Are you Malaysian?". Mereka mengangguk dan ikut bergabung bersama kami. Rupanya ke tiga pemuda itu juga baru pulang dari Global Gala,seperti kami, mereka juga ketinggalan bus terakhir sehingga kebingungan mo naik apa pulang. Kami menjelaskan kondisi kami dan menawarkan mereka untuk ikut naik Cyride 'penyelamat' kami. Mereka pun langsung sumringah luar dalem.

Pukul 11 tepat Cyride penyelamatpun tiba. Kamipun selamat.

Sejak saat itu saya semakin sadar, bahwa jangan sekali-sekali bermain main dengan waktu bila tinggal di negeri Paman Sam. Bila tidak on time, silahkan terima akibatnya.

Monday, May 23, 2011

SPRING IN ILLINOIS (Catatan Perjalanan Singkat di Kampung Abraham Lincoln Part II)

MULTI ETNIS(Sambungan)
Individualistik masyarakat kota besar pun nampak dikeseharian masyarakat Chicago. Tidak ada senyum basa-basi seperti yang biasa dilakukan masyarkat Ames bila berpapasan di jalan. Diversity di Chicago juga sangat Nampak. Orang-orang dari berbagai ras dan etnis nampak dimana-mana. Menurut pengamatan saya, Tidak susah untuk menemukan muslimah berjilbab di kota ini, sebab selama beberapa hari saya di sana, tidak jarang saya melihat atau berpapasan dengan para jilbaber. Kebanyakan mereka berwajah timur tengah. Hal ini semakin menegaskan bahwa pluralism di Amerikas Serikat adalah hal yang biasa. Masyarakat AS sudah terbiasa dengan kehadiran orang-orang dari luar negeri mereka.

Selama di Chicago saya telah bertemu dengan orang-orang dari berbagai bangsa, dari asia, Eropa, Afrika, sampai Timur Tengah. Kebetulan hostel tempat kami menginap adalah sebuah hostel yang memilki ‘guest’ dari berbagai negara. Saya sempat berbincang-bincang dengan seorang Yahudi bernama( Waduh,,lupa…) yang saya temui di meja billyard. Dia mengaku sedang berlibur ke Amerika. Saya juga bertemu dengan seorang lelaki dari Chile di kelas Salsa( saya sempat ikut kelas salsa di hostel tempat saya menginap,hihii…). Ia mengaku sebagai korban PHK di perusahaan tempat ia bekerja. Untuk menghilangkan ‘stress’nya ia memutuskan untuk jalan-jalan ke Amerika.

Asik juga bertemu dengan orang-orang dari berbeda bangsa, lumayanlah, memperkenalkan bangsa kita ke masyarakat dunia. Meski hanya dengan mengatakan,


"I'm riska, from Indonesia"

( dengan penekanan pada kata’Indonesia), secara tidak sadar kita telah memberitahukan eksistensi bangsa kita di peta Internasioanal, meskipun terkadang setelah itu mereka akan bertanya:

”Indonesia??where is it??”.

Pertanyaan itu terkadang membuat saya ingin bertanya balik
”Mas,pernah belajar IPS kagak di sekolahan??*Gondok

LAKE MICHIGAN,DANAU TERBESAR DI AS

Danau Michigan, satu tempat yang saya kenal dari buku IPS waktu jaman sekolahan dulu, adalah danau terbesar di AS yang membatasi negara bagian Indiana, Illinois, Wisconsin dan Michigan. Tempat ini sangat familiar ditelinga saya. Senang bisa melihatnya langsung. Danaunya ‘guedeeeee’banget…Nampak seperti laut alih-alih sebuah danau. Uniknya, di Sulawesi Tengah kampung saya, ada dua danau yang cukup terkenal, terutama bagi para peneliti. Namanya Danau Poso dan Danau Lindu. Danau- danau ini memiliki daya tarik sendiri. Misalnya, danau Poso (yang terletak di Kabupaten Poso) terkenal karena ikan sidatnya. Sementara danau Lindu terkenal dengan keanekaragaman flora dan fauna di sekitarnya. Yang menarik dari kisah ini adalah, saya,meskipun berada di provinsi yang sama dengan kedua danau itu, tapi belum pernah menjejakkan kaki di sana. Sementara Danau Michigan yang jauhnya beribu-ribu kilometer dari rumah saya, telah saya datangi secara tak sengaja. Kenyataan yang aneh.

Skydeck (willis Tower)


Disebut2 sebagai gedung tertinggi di AS, willis tower menjadi salah satu tempat wisata yang menarik buat turis di Chicago. Tingginya 1,730 Kaki dan terdiri dari 103 lantai.
Menurut informasi, dari skydeck kita bisa melihat 4 negara bagian sekaligus,Illinois,Indiana,Michigan dan Wisconsin. Sayangnya,hal itu hanya bisa dilihat bila langit cerah. Kemarin, waktu saya disana, langit Chicago mendung dan berawan, jadilah kami tidak bisa memandang negara bagian lain dari skydeck.

Shedd Aquarium Vs Seaworld Indonesia: Lumba-Lumba Indonesia lebih pintar,believe me!


Hmmm….menurut saya, Seaworld di Taman Impian Jaya Ancol lebih menarik dari Shedd Aquarium. Entahlah, tapi saya tidak menikmati kunjungan ke dua tempat ini. Yang pertama: Saya telah lebih dulu dikecewakan dengan pementasan lumba-lumba yang ‘biasa-biasa saja’ bila dibandingkan dengan pementasan lumba-lumba di Ancol(yang bisa berhitung dan melompati cincin api). Pementasan di Shedd sama skali tidak menarik sebab si Lumba-lumba hanya bisa mondar-mandir dari ujung kolam satu ke ujung lainnya karena dipanggil oleh para penyelam berbodi bohai. Selain itu, tidak ada yang bisa mereka lakukan. Mereka tidak melompat dengan indah seperti lumba-lumba Ancol yang bahkan bisa diajak salaman. Sungguhh..sama sekali tidak menarik menurut saya.*tepokjidat


Adler Planetarium: Kami datang untuk melihat bintang-bintang, bukan untuk menonton proses pembuatan Teleskop


Dari kecil saya selalu tertarik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan antariksa. Planetarium dan Observatorium adalah tempat yang masuk daftar TOPTEN sebagai tempat yang paling ingin saya kunjungi. Di Indonesia, saya ingin sekali bisa ke Boscha Lembang, namun hingga saat ini keinginan itu belumlah tercapai. Makanya ketika Tour guide kami, Kevin White, mengatakan bahwa hari itu kami akan mengunjungi Adler Planetarium. Saya benar-benar excited luar dalem. Begitu masuk ke dalam planetarium, kami diberi tiket bertuliskan JOURNEY TO THE STARS. Wah…sepertinya kami akan menonton film documenter tentang bintang-bintang. Saya semakin menggebu-gebu dan bersemangat. Sebelum masuk kami diberi kacamata 3 dimensi. Wuihhh…kayaknya bakal seru nih,saya berguman dalam hati. Kemudian masuklah kami ke ruang nonton. Seperti di bioskop,namun lebih kecil. Film pun dimulai.

Dibuka dengan adegan langit malam penuh bintang,kemudian gambar beralih pada beberapa teleskop yang akan dipakai mengamati bintang-bintang. Sayangnya,setelah beberapa menit film diputar, tidak ada tanda-tanda kami akan diajak melakukan Journey to the star, yang ada hanyalah pengenalan teleskop dan proses kerjanya..Hoaaaaammm…membosankan…proses kerja teleskop telah kami pelajari di sekolah dalam mata pelajaran Fisika(meski saya sudah lupa sih..hehee). Kecewa asli. Padahal saya membayangkan kami akan dibawa menjelajahi bintang-bintang dan diperkenalkan rasi-rasi. Nyatanya??Walhasil saya jadi ngantuk. Ketika film usai, beberapa orang teman terbangun. Rupanya mereka tertidur segera setelah film diputar. LOL

Museum Science and Industry Chicago



Setelah dari Adler kami pergi ke Museum Science. Kami menonton film documenter tentang Tornados. Menarik, karena visualisasinya benar-benar nyata, bioskopnya dirancang unik, dimana seluruh dinding dijadikan layar. Kecuali yang bagian belakang. Kami menyaksikan tornado datang seperti benar-benar terlibat di dalamanya. Sayangnya,beberapa hari kemudian,gara2 film tornado itu, kami jadi ketakutan ketika ada Tornado Alert di Iowa. Hahaa..saya dan beberapa teman jadi panik sendiri.

Rabu Pagi di Millenium Park


Kalau di Indonesia ada film berjudul Minggu Pagi di Victoria Park, maka saya mencontek judulnya untuk kisah saya di taman millennium ini. Taman ini adalah tempat paling menarik yang saya kunjungi di Chicago. Letaknya tepat di downtown kota Chicago. Sebenarnya tidak ada yang special dari taman ini, hanya saja, ada sebuah bola kaca(entah bagaimana mendeskripsikannya, karena ia sama skali tidak berbentuk benar-benar bola, melainkan elips) yang sangat menarik perhatian saya dan pengunjung lain. Di bola itu (biarlah saya menyebutnya bola), kita bisa melihat pantulan diri kita dan pantulan alam sekitar kita, termasuk gedung-gedung pencakar langit Chicago. Biasa saja kan sebenarnya? Tapi saya sangat menyukai taman ini, dan betah menghabiskan waktu berjam-jam di sana, hanya untuk....…ngaca! Hahahaa.

Di taman ini banyak sekali turis. Tanpa disangka-sangka kami bertemu dua orang backpacker asal Indonesia, namanya bang Jordan & Bang Ryan. Katanya mereka sedang travelling keliling AS (jadi ngiri)



Begitulah, perjalanan singkat saya di kota ketiga terbesar di Amerika itu. Sangat berkesan meski beberapa tempat yang saya datangi membosankan. Namun demikian, saya bersyukur untuk kesempatan itu. Bisa melihat sisa lain dunia ini rasanya menyenangkan. Rupanya, dunia tidak benar-benar selebar daun kelor,jenderal!=D
 ***
NB: Suatu hari nanti saya ingin kembali ke Chicago (bila Tuhan menghendaki), travelling sendirian (emm,,ralat, jangan sendirian deh, at least ada partner biar cuman seorang,hehe) tanpa harus ikut Rombongan Tour, sebab ada banyak hal menarik yang saya lewatkan di kota ini karena keterbatasan waktu (harus ikut aturan Tour Leader ternyata kurang menyenangkan*sigh)

Sunday, March 27, 2011

Musim Semi di Illinois #Catatan Perjalanan Singkat di Kampung Abraham Lincoln Part I

Pada suatu malam di musim panas,bulan oktober ,1871, sebuah percikan api kecil berujung malapetaka terjadi di sebuah lumbung kecil milik pasangan O’leary,di sudut kota Chicago, Illinois. Kala itu, Chicago masih berumur sangat muda, tidak semodern saat ini. Kebanyakan bangunannya masih terbuat dari kayu. Percikan apa itu merembes ke rumah-rumah sekitarnya sehingga berujung pada tragedy besar yang di kenal dengan sebutan”The GREAT FIRE CHICAGO’ dan tercatat sebgai salah satu kebakaran terhebat dalam sejarah. Ratusan orang tewas, ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal. Selama berhari-hari kota itu menjadi lautan api. Chicago lumpuh total, orang-orang kehilangan tempat tinggal, kehilangan harta benda. Saudagar kaya berubah jadi pengemis miskin berpakaian compang-comping, tingkat kriminalitas meningkat dratis sejak saat itu. Namun kota itu tidak ‘mati’.Sebab beratus tahun kemudian, Chicago menjelma sebagai salah satu kota termodern dan terkenal di dunia.

Chicago, It's America!

Mendengar kata Chicago, semua orang pasti tahu bahwa kata itu menunjuk pada sebuah kota di Amerika Serikat. Chicago telah lama digambarkan di film-film barat, dijadikan lokasi syuting video klip, disebutkan di buku sejarah dan lain sebagainya. Chicago merupakan kota terbesar di Illinois. Illinois sangat lekat dengan nama-nama orang terkenal, sebut saja Abraham Lincoln, presiden ke 16 AS, dan Barrack Obama, yang sebelum menjadi presiden ke 44 AS, dikenal sebagai’sang senator dari Illinois. Juga Al-Capone, si mafia yang namanya terkenal di antara para gangster.

Saya menyebutnya sebagai sebuah keberuntungan, ketika saya dan ke 18 teman dari Indonesia bisa berkunjung ke kota terbesar ke – 3 di Amerika serikat itu. Menikmati musim semi di kota kosmopolitan dengan gedung-gedung pencakar langit yang berarsitektur luar biasa, dengan orang-orang yang berlalu lalang di pusat kota. Hiruk pikuknya benar-benar terasa. 

Di Chicago, Untuk pertama kalinya sejak saya tiba di AS, saya benar-benar merasa sedang berada di Amerika.

I80 Derajat: Antara Chicago & Ames

Ames adalah sebuah kota kecil disebelah utara Des Moines, ibukota Iowa. Dari Ames, dibutuhkan waktu sekitar 6 jam untuk mencapai Chicago dengan mobil. Kehidupan Ames dan Chicago sangat berbeda 180 derajat. Di Ames, tidak ada hiruk pikuk seperti di Chicago. Chicago, seperti umumnya kota besar di dunia, memiliki tingkat kriminalitas yang cukup tinggi (seperti yang diterangkan supervisor kami, Ms Xiong). Bila di Ames, kami tak pernah (atau tepatnya belum pernah) melihat pengemis dan gelandangan, maka di Chicago kami begitu mudah menemukan peminta-minta yang duduk dipinggir jalan berpakaian compang-camping  sambil menengadahkan karton (bukan tangan) yang bertuliskan ’Homeless,need some cent for eat" (sayang, saya gak punya fotonya) 
Wajah Chicago

Pose di depan salah satu gedung pencakar langit Chicago

Ames yang tenang, kalem dan nampak'baik-baik'


Individualistik masyarakat kota besar pun nampak dikeseharian masyarakat Chicago. Tidak ada senyum basa-basi seperti yang biasa dilakukan masyarkat Ames bila berpapasan di jalan. Diversity di Chicago juga sangat nampak. Orang-orang dari berbagai ras dan etnis nampak dimana-mana. Menurut pengamatan saya, tidak susah untuk menemukan muslimah berjilbab di kota ini, sebab selama beberapa hari saya di sana, tidak jarang saya melihat atau berpapasan dengan para jilbaber. Kebanyakan mereka berwajah timur tengah…
(To be Continued, penulisnya harus kerja PR..hohohh..:P)

*SUV Apartment, Room 9B, Musim Semi 2011,disela-sela buku grammar tingkat 4.

Blogger templates

Free Cloud Cursors at www.totallyfreecursors.com
Kegagalan selalu membangkitkan rasa penasaran. Menyerah berarti berbuat kekonyolan. Bangkit, berlari dan teruslah berjuang! (rfs)
Showing posts with label My Life In USA. Show all posts
Showing posts with label My Life In USA. Show all posts

Saturday, September 1, 2012

Susahnya ngomong bahasa Inggris sama orang China..#Part II

Membaca kisah Trinity tentang betapa susahnya ngomong bahasa Inggris dengan para Chinesse sedikit menggelitik memori saya. Waktu di Iowa, saya punya beberapa kenalan orang China asli  tanpa bahan pengawet, alias China yang emang berasal dari tanah leluhurnya di China Daratan sana. Bukan China peranakan yang banyak kita temui di Indo sebagai pemilik toko A dan toko B. Rupanya, di Iowa State ada banyak sekali mahasiswa Asia terutama yang berasal dari China. Mereka seperti orang China pada umumnya: bermata sipit, berkulit kuning, modis,(nampak) tajir, punya gadget-gadget terbaru dan selalu bergerombol dengan sesamanya. katakanlah, Eksklusif!. Hampir di semua kelas IEOP, saya pasti sekelas dengan para mahasiswa China ini. Paling banyak adalah di kelas Writing dimana sebagian besar studentnya adalah mereka, hanya saya, Ocu. Luqman dan William  yang bukan Chinesse. Saya sempat kaget dan bertanya-tanya dalam hati "Ni gue di Amrik apa di China yah?? scara kemana mata memandang, pasti ada mereka.

Awalnya saya agak segan untuk bertegur sapa dengan mereka di kelas. Apalagi kalo bukan karena ke'ekslusifan' mereka. Bila berhadapan dengan orang non-China mereka pendiammmm banget, sedikit terkesan sombong, tapi kalo lagi ngumpul dengan sesamanya, buset dah, nyerocos bla..bla..bla.. pake bahasa mandarin sampai-sampai dosen saya, Mark Callison harus memberikan 'Surat Peringatan' agar lebih tertib dan sopan di dalam kelas. Saya ingat betapa kesalnya Ocu ketika para Chinesse ini mulai ngobrol (dengan bahasa mandarinnya) disela-sela jam pelajaran. Saya jadi geli sendiri ngeliat desye cemberut sambil mengumpat dalam bahasa Indonesia. Hihi..

Tetapi hal itu justru membuat saya ingin mengenal para Chinesse ini lebih dekat. Jujur, saya rada penasaran dengan 'tabiat' para Chinesse yang begitu ekslusif ini. Saya ingat sebuah pesan di film favorit saya kala masih anak-anak, Petualangan Sherina, katanya kalo kita mau menilai seseorang itu, kita harus mengenalnya lebih dekat agar kita tau sebab musababnya kenapa ia bersikap/bertingkah seperti itu. Maka saya pun mendekati para Chinesse itu. Orang yang pertama kali saya dekati adalah Vivian. 

My Chinessemate

Dengan SKSD tingkat dewa, saya mengajaknya ngobrol dannnnn...*glek* bahasa Inggrisnya parah. Whoaa..rupanya benar kata orang selama ini. orang China itu paling susah ngomong Bahasa Inggris. Tapi Vivian masih oke bila dibandingkan beberapa teman lainnya yang asli bikin saya harus pasang kuping baik-baik bila lagi ngomong dengan mereka. Bahkan tidak jarang saya meminta mereka menuliskan or mengeja kata yang mereka ucapkan agar bisa memahami maksud dari perkataaannya. Di kelas Grammar saya juga punya beberapa orang teman Chinesse yang parah banget ngomong bahasa Inggris. Pernah suatu kali, Kim, salah satu diantara Chinesse students di kelas itu, melayangkan sebuah pertanyaan tentang penggunaan past perfect tense kepada Marc, dosen grammar saya. 

"Marc..keng yu ekspleng ..ai kongfusa,wengwi yuza dise? wateede difelenge witee plesent pelfeke??

Marc hanya bisa melongo mendengarkan pertanyaan Kim, dan memintanya untuk mengulangi, sekali, dua kali, bahkan sampai tiga kali. 

Saya, Dhama dan Lyla harus menggit bibir untuk tidak tertawa. Bukan.. bukan karena mengetawai Kim,tapi ekspresi pak Marc saat Kim bicara itu benar-benar kocak abis. Tidak jarang, kami harus membantu Marc untuk mengartikan apa yang dikatakan Kim (bahasa Inggris Kim adalah yang paling parah diantara para Chinessemate saya). Kata Vivian hal inilah yang membuat mereka malu bila harus berbicara dengan bule ato International student lainnya. Jadi, mereka akan lebih memilih diam sehingga terkesan sombong dan angkuh. Saya pun manggut-manggut. Mahfum.*elus-elusjenggotyangtidakada

Mostly Chinesse students yang kuliah di negara-negara western pasti memiliki dua nama. Nama asli dan nama palsu panggilan. Hal itu dipicu oleh ketidaktegaan mereka melihat para bule dan international student lainnya  kesulitan mengeja nama mereka. Seperti Vivian (yang nama aslinya Xinyu Wei), Gwyneth (saya tidak tau nama aslinya) atau John (saya juga tidak tau). Ide yang bagus menurut saya.
My writing class

Bye the way,  ternyata para Chinesse ini gak seburuk perkiraan saya sebelumnya. mereka oke dan asyik juga diajak ngobrol. Rupa-rupanya nama Indonesia di China cukup familiar. John, teman saya di kelas Speaking langsung nyeletuk' Taufik Hidayat!' waktu saya ngobrol soal badminton dengan dia (saya balas:'Lin dan!'). Saya juga kerap berdiskusi seru dengan Graven dan John. Saling bertukar informasi tentang negara masing-masing. Lucunya, saya pernah membaca tentang Kanibalisme di China dimana ada orang-orang tertentu yang suka makan sup orok (yaik!). Pada Graven dan Vivian saya mengkonfirmasi hal itu.
"You guys know about that??"
Mereka saling berpandangan dengan tatapan bingung, sebelum menjawab
 "Noooooo....' bersamaan. " It's so yuckyyyy! Bagaimana bisa? di mana itu?? " tanya Graven.
dalam hati saya berujar.. "Yeeeee...yang Chinesse sapa, yang ditanyain sapa'. ckckc

Saya lupa kalo China itu luas.

Wednesday, March 7, 2012

Tentang Tornado dan Pintu Basement yang misterius #Cerita dari Iowa

Suatu hari, seminggu setelah kami balik dari Chicago, stasiun TV The Weather Channel mengingatkan bahwa Iowa bakal diserang severe thunderstorm yang berpotensi menjadi Tornado.  Saya yang sedang asik melahap sebiji apel hasil 'jarahan' di UDCC nyaris keselek mendengarnya. 'What??Tornado???'
Dengan segera saya mengeraskan volume TV. 

'Mbak-mbak' penyiar WC (kok jd WC??) yang berambut pirang itu menjelaskan pada pemirsa potensi angin, storm and bla..bla..dengan riang gembira tanpa menghiraukan perasaan galau kami, perantau yang belum punya pengalaman dengan tornado dan sebagainya. Kontan, saya dan teman-teman lainnya jadi agak panik sendiri. Apalagi waktu itu, emak kami, Ms. Xiong, lagi ke Georgia, menghadiri kedukaan grandpha nya yang meninggal saat kami trip ke Chicago. Otomatis, kami bingung mo bertanya pada siapa soal kebenaran berita ini.

Di kampus, saya sempat bertanya pada staff IEOP tentang 'rencana' akan datangnya si Mas Tornado ini. Mereka tenang-tenang aja. Menurut cerita mereka, Iowa emang sering diserang Tornado. kalo di Ames sendiri so far belum ada yang parah-parah amat. "Every building here have basement, so you don't need to be worry, Riska.."kata Jessie, paman-tanpa-ekspresi kami. 

Yeah...itu kabar baiknya. Kabar buruknya, kami tak tau bagaimana mencapai basement di apertement kami. 
Sejak awal kami tiba di SV, kami tidak ditunjukkan dimana letak pintu menuju basement bila something darurat terjadi. 

Ada sebuah pintu darurat yang mencurigakan di bawah tangga. Menurut anggapan kami, pintu itu kemungkinan adalah  pintu menuju basement. Sayang, pintu itu terkunci. Di depannya tertulis "FIRE DOOR, KEEP CLOSED"

Wokeh.Jadi dimanakah jalan menuju basement??

Teman-teman lain pun bingung. Katanya basement ada di Laudry.. Dari apa yang saya baca di pesan yang ada di samping pintu masuk room 9B, katanya in case of emergency, kalo ada cyclone ato tornado menyerang, kami bisa bersembunyi di basement yang terdapat di laundry. 
Yaelah...jauh amat..kalo si mas Tornadonya keburu datang, masa kami harus ngacir ke laundry dulu buat berlindung. Aduuh..bingung.
Ibu Evi yang baik hati, seorang Indonesian yang menikah dan menetap di Iowa, mengirimkan email kepada kami untuk mengingatkan soal cuaca buruk yang diprediksi bakal menyerang Iowa ini.  

For Your Information, weather forecast hr ini diprediksi 90% chance of rain, strong to severe thunderstorm (kilat dan petir) and possible hail (hujan es). Jangan lupa bawa payung ke kampus. Effective severe weather forecast (ramalan cuaca) mulai siang ini sampai malam, termasuk strong wind.
Bbrp hal yang berlu dihindari kalau thunderstorm warning:
1. Jauhi jendela kaca, 2. Hindari mandi menggunakan shower (krn dapat menghantarkan arus listrik), 3. Hindari menggunakan telephon, 4. Sebaiknya tdk menggunakan laptop dan electronic devices lainnya, juga semua yang menggunakan headphone. Seandainya ada tornado warning berupa sirene, selamatkan dokumen penting spt passport dll, cari perlindungan ke basement apartment kalian..Semoga semua maklum demi keselamatan.
Bu Evie

***
Sorenya, cuaca nampak memburuk. Gelegar dan gemuruh terdengar di kejauhan. Awan cumullunimbus menggantung, menggulung-gulung di langit kota Ames. Angin bertiup perlahan memainkan ranting-ranting kering pepohonan yang daunnya telah berguguran. 

Saya sedang asyik asyiknya menonton sebuah drama di TV Lokal, tiba-tiba suara bising seperti sirene terdengar dari box elektronik itu. 
Tornado warning!
Rupanya Tornado  menyerang Iowa. Bukan di Ames. Tepatnya di dekat ibukota Des Moines.
'Wah..sesuatu nih'batin saya sedikit panik.
Saya mengintip keluar. Mudah-mudahan gak sampe sini nih mas Tornadonya.
Beberapa menit kemudian, terdengar sebuah ketukan di pintu apartemen saya. Luqman dan Yusuf rupanya.
"Kamu dengar tadi informasi di TV, ris?"tanya mereka.
"iya, waduh gimana dong..basement mana basement?'
Tetangga dari apartemen 9c itu mengedor-gedor pintu FIRE DOOR di bawah tangga.
"Wah gak bisa....ya.. udah berdoa aja mudah-mudahan tornadonya gak sampe sini".
Lalu kedua bocah itu ngeloyor pergi, naik kembali ke lantai atas. Meninggalkan saya sendirian, menatap nanar 'FIRE DOOR harapan' yang tak kunjung terbuka. 

Saya gak ingat kemana roomate saya, Lyla, sore itu. Entah sedang di kamar ato sedang berkelana ke Walmart. Maka saya yang merasa sendirian memutuskan untuk ngacir ke apatermen sebelah, di 10 B, apartemen si Suci dan Anggi, sekalian solat magrib berjamaah di sana.

Setibanya di sana, rupanya sudah ada Vita, Lia dan Dilla. Katanya mereka sempat panik juga dengan tornado warning tadi n berharap semoga gak kejadian di Ames. 

Si Suci sebaliknya, dengan riang gembira dan penuh suka cita dia berkata: 
"Eh tau gak, aku malah pengen liat tornado yang sebenarnya, mumpung kita di Amrik, selama ini kan kita cuma liat di tipi"
Yang di balas Anggi ( ato Dilla): "Yee..mana bisa kita liat tornado kalo kitanya sembunyi di basement'
Yang di balas oleh saya: "Syukur kalo ada basement, nah ini pintu menuju basementnya aja kita kagak tau"
Yang dipotong oleh teh Lia: "Ya udah mendingan kita solat aja trus ngaji, minta doa biar dilindungi dari bahaya

Kami pun segera solat berjamaah.

Di luar, hujan mulai turun perlahan. Angin mendayu-dayu memaikan ranting kering tepat di balik jendela apartemen 10. Gelegar guntur masih terdengar di kejauhan. Sesekali 'kilat' nampak menyambar, membelah langit kota Ames.

Sore itu, doa sehabis solat saya lebih panjang dari biasanya.

***
Keesokan harinya....

Alhamdulillah severe weather tidak terlalu serius di Ames td malam. In case of another severe weather lagi..sy anjurkan utk stay tune di channel TV 26, 13, 5, 8 for complete coverage..disitu akan terlihat semua pergerakan arah angin dll yg dikirim via radar. Tornado did touch down semalam di Selatan Iowa dan menghancurkan bbrp rumah. Semalam sebetulnya sy coba telp Lukman/Yusuf..ada nada sambung namun telp tdk diangkat. Patut kita syukuri, hr ini cuaca lumayan agak lbh baik. Cuaca spring di daerah midwest rata2 spt ini tiap thnnya. Thn 2005 Ames pernah kena tornado kecil namun cukup dahsyat. Kl angin kencang, jauhi kaca jendela/cermin kamar mandi..kl td ada basement, usahakan berlindung di dalam closet (lemari pakaian) atau kamar mandi, sekali lagi kl di kmr mandi, jauhi cermin. Mudah2an tdk akan ada lagi bad weather selanjutnya..
Bu Evie




*Ames, Iowa.
  Maret, setahun yang lalu


Sunday, February 26, 2012

Remember, Ames....

Hari ini mendung.
Matahari nampaknya enggan menunjukkan kegarangannya.
Suatu ketumbenan untuk kota yang dilalui garis khatulistiwa. Tapi baguslah, paling tidak warga bumi di kota ini tidak kepanasan seperti biasa.
Eniwei...cuaca kayak gini, kadang-kadang mengingatkan saya ke suatu tempat yang jauh.
Hedeww...sebenarnya saya enggan mengenang tempat itu, membuat saya terbuai oleh romantisme masa lalu. Tapi nyatanya, memori itu akan merasuk begitu saja dan saya tak mampu menepisnya.
Kadang-kadang.

Tadi saya iseng membuka-buka diary dan menemukan sebuah catatan kecil di buku itu : 26 February 2011, my 1st day ini Ames!

Hari itu, hari ini. Setahun yang lalu.
Memori saya pun melayang....

***

Ames.
rumah saya selama dua bulan. Sudah nyaris setahun sejak saya meninggalkannya, tapi segala tentangnya masih melekat di kepala, bermain-main di ingatan. Orang-orangnya, sudut-sudut kotanya, saljunya dan dinginnya yang menusuk-nusuk serta masih banyak lagi.

Pagi yang dingin. Biasanya saya akan menengok ke luar jendela. Berharap dua. Matahari bersinar terang atau Salju turun berderai.
Bila matahari merangkak lebih tinggi, biasanya cuaca akan semakin dingin, namun terkadang berubah menghangat. Hujan turun sesekali. Membuat saya dan teman-teman harus berlari-lari ketika sedang menuju ke kelas.

Saya paling suka sore hari ketika tidak hujan dan cuaca sedang hangat. Saya kerap menikmati suasana senja di lapangan ISU sambil menatap matahari yang condong ke barat. Angin kutub akan menerpa wajah saya. Memainkan jilbab saya. Kalau sudah begitu, saya akan betah berlama-lama duduk di atas rerumputan central park sambil menatap siluet Campanile yang berdiri gagah.

Malamnya, angin mulai bertiup jahat. Ranting pohon akan menari-nari, mengeluarkan bunyi gemerisik yang agak menakutkan. Lalu saya akan menyetel musik sekerasnya agar suara-suara itu tidak merasuk hingga ke gendangn telinga saya.

Ada kalanya, bintang bersinar di langit malam Amerika. Menemani malam panjang saya dan teman-teman ketika harus berjibaku dengan Homework yang bertumpuk-tumpuk hingga larut malam.

Oh God.saya benar-benar merindukan Ames saat ini..hanya dari foto-foto saya bisa mengenangnya.
Entah kapan ...
bisa kembali ke sana...

Ames yang tenang
                                                                  

a chilly beautiful morning in Ames
                                                              
Suatu senja di Central Park
                                                                    

Walking around in Ames' Downtown
                                                                    
Cyride, bus dalam kota
                                                               

My 1st day in Ames :)

Monday, February 13, 2012

Good Bye Stories.. #Part 2

Sekitar 45 menit van kami melaju menuju Ibu kota Iowa, Des Moines. Pukul 6 lebih sedikit, kami tiba di DSM International Airport. Meski matahari telah bersinar, udara masih tetap menusuk. Angin pagi Iowa, membuat saya menggigil.

Setelah semua barang diturunkan, kami segera chek in untuk flight menuju Minnesota. Sebelumnya, kami mengucapkan salam perpisahan kepada Jared dan Jessie, pengajar di IEOP yang telah menyempatkan diri untuk mengantar kami hingga ke Des Moines. ‘Paman Jessie’ lelaki datar yang mengatai dirinya sendiri sebagai pribadi yang membosankan, tersenyum ke  arah kami sesaat ketika kami hendak masuk ke bandara.
Ah, Jessie…bagaimanapun, saya tidak akan pernah lupa, ketabahannya menemani dan menjaga kami selama  trip di Chicago sebulan yang lalu.

Kami terbang ke Mineapollis sekitar pukul 8 pagi dengan menumpang Delta Airlines berukuran mini.


 Checkin at DSM Airport

Di Mineapolis, kami harus menunggu cukup lama sebelum boarding menuju Indonesia. Hmm, baguslah. Paling tidak, kami masih memiliki beberapa jam di Amerika. Untuk membunuh waktu, saya menyempatkan jalan-jalan disekitaran bandara. Pemandangan di luar bandara tidak semenarik ketika datang dulu, tidak ada salju di luar sana. Ternyata bandaranya memang gede (seperti perkiraan sebelumnya). Saya setengah berharap dapat bertemu dengan artis  seperti ketika datang dulu. Tengok kiri kanan, saya tidak menemukan tanda-tanda Taylor Swift atau Rihanna sedang jalan-jalan di St Paul. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali bersama teman-teman di ruang tunggu. Ms. Xiong mengajak kami berfoto satu persatu. Ia juga membagikan hadiah perpisahan. Coklat dan kartu berisi  kata-kata perpisahan.


Minnesota again!

****

Detik demi detik berlalu,
dan tibalah saat itu, ketika panggilan untuk penumpang Delta Airlines kami bergema, kami tahu, hanya dalam beberapa menit, kami tidak akan melihat Ms.Xiong dan Amerika lagi (mungkin nanti dimasa depan, tetapi bukankah kata ‘mungkin’ tidak selalu memberikan kepastian??).
Saat itulah puncak haru biru kami. Satu persatu, kami menyalami dan memeluk Ms.Xiong  sambil berlinangan air mata.

Sungguh, momen itu adalah salah satu momen paling mengharukan sepanjang hidup saya. Saya tak akan lupa saat-saat terakhir bersama perempuan yang telah mendampingi kami selama dua bulan terakhir, menyayangi kami selayaknya anak sendiri. Alyssa Xiong,  mungkin hanya dua bulan kami mengenalnya. Tetapi, dua bulan itu telah memberikan kamibanyak pelajaran berharga. Kata-katanya yang penuh motivasi,inspirasi,dan nasehat tak akan pernah kami lupakan hingga akhir hayat.


Our Beloved American Mom: Alyssa Xiong

 Bila saya ingat-ingat, adegan di bandara Mineapolis itu layaknya adegan perpisahan di film2 yang sering saya tonton. Ada pelukan, ada tangis dan air mata. Namun, diantara haru biru itu, disaat semua orang menangis tersedu-sedu, salah seorang dari kami tidak nampak meneteskan airmata, tidak  sedih.
Sama sekali.
Orang itu adalah Zamzami, bujang Aceh yang memang selalu nampak riang gembira di segala situasi dan kondisi. Seperti biasa, ia selalu tersenyum lebar dan nampak tak ada beban. Saya tak habis pikir,bagaimana mungkin ia tidak bersedih di saat-saat terakhir kami di negeri paman sam. Sambil tersenyum Zamzami hanya berkata (dengan logat melayunya seperti biasa): “This is not the end, we will meet again, someday, Ms.Xiong”.
Grup kami pun dipanggil untuk segera boarding. Kami berbaris satu-satu bersiap memasuki pesawat. Ms.Xiong mengawasi kami sambil melambaikan tangan. Sesekali ia nampak terisak. Kami pun demikian.

Beberapa penumpang lainnya melirik ingin tahu mengapa  wajah kami coreng moreng dengan air mata dan nampak sebegitu sedihnya. Dalam hati saya berguman “Kalian hanya tidak pernah ikut IELSP, dan  tidak pernah tahu bagaimana rasanya ketika semuanya berakhir
Dan ketika waktu nya untuk masuk ke pesawat telah tiba, saya kembali menoleh kearah Ms.Xiong. Ia masih melambai dan tersenyum. Seiring dengan langkah kaki kami perlahan, senyum hangatnya hilang dari pandangan.
Saya kembali terisak.
***
Beberapa menit kemudian, Delta Airlines mulai bergerak dan bersiap lepas landas. Semakin lama, semakin cepat. Dari kaca pesawat, saya memandangi langit Amerika. Hari itu mendung. Semendung hati kami.

Perlahan..roda-roda pesawat terasa mulai beranjak naik.
Dan dalam sekejap, Delta Airlines menderu mengangkasa...
 membawa kami pulang, kembali ke dekapan Ibu Pertiwi…..


Selamat tinggal, Paman….I promise to see you again :)

Return to the real life :D

Good Bye Stories #Part 1

Waktu, melesat-lesat begitu cepat. Berlari begitu kencang, meninggalkan jejak-jejak memori dalam kehidupan. Rasanya hanya sekejap, 2 bulan berlalu begitu cepat..dan tibalah kami harus meninggalkan negeri Paman Sam. Program IELSP kami telah berakhir.
Saya ingat bagaimana perasaan kami,para IELSPer Iowa di hari-hari terakhir kami di sana. Perasaan kami campur aduk, tetapi perasaan sedih  adalah yang paling mendominasi. Sedih, ya tentu saja. Sedih meninggalkan semua hal baru yang telah kami kenal di Amerika, Ms.Xiong, teman2 Internasional student, teman2 sesama Indonesia, para Instruktur IEOP, kehidupan AS yang perlahan,kami telah terbiasa. Kami telah memiliki keluarga di sana. Kami merasa nyaman, meski tentu saja, tidak ada tempat di dunia ini yang senyaman tanah air.

Di hari-hari terakhir, saya dan teman-teman memilih untuk menikmati hari-hari terakhir kami dengan hal-hal yang menyenangkan. Kami lebih sering ngumpul bersama, mempererat pertemanan kami. Sebab kami sadar, bahwa sekembalinya kami di tanah air, kami akan berpisah. Kami berasal dari dari Aceh hingga Papua, kami tinggal di kota yang berbeda-beda. Kemungkinan kami akan bertemu setelah program adalah sangat kecil. Bagaimanapun, teman-teman sesama  grantee Iowa  adalah keluarga yang kami punya saat kami  berada di AS. Kami senang dan susah bersama-sama. Perpisahan yang hanya tinggal menghitung hari, membuat kami menjadi agak melankolis ketika harus berbicara soal pulang.

Siang ini, saya iseng-iseng membuka laptop, melihat-lihat foto dan video- video kala masih di Iowa. Memori saya benar-benar terbawa kembali di masa-masa itu.
                                                                 ***
April,23rd.Dinihari waktu Ames. Sebuah panggilan menyadarkanku dari tidur . Itu suara Lyla,roomateku. Katanya Ms xiong, supervisor kami telah menunggu di depan.
Aku melirik jam digital di meja belajarku. Kurang 15 menit pukul lima. Dengan mata berat,  aku bergegas  bangun, mencuci muka dan mengenakan  jaket. Tidak mandi lagi, sebab semalam sebelum tidur aku menghabiskan kurang lebih setengah jam berendam air hangat di bath up. Setelah memastikan tidak ada yang ketinggalan di kamarku, aku bersiap untuk keluar. Pagi itu, kamar tempatku tidur selama dua bulan itu nampak rapi dan bersih. Tidak ada laptop dan tumpukan buku di atas meja, tidak ada alunan Fireworks nya Katty Perry terdengar dari radio mungilnya, tidak ada sweater dan jaket tergantung di lemarinya, dan sebentar lagi… tidak akan ada lagi aku di dalamnya. Kamar itu, nampak kembali normal seperti dua bulan lalu, ketika pertama kali aku memasukinya. Hampa.
Agak kaget ketika aku menemukan Mohammed, teman sesama mahasiswa IEOP berada diruang tamu.
“Nothing left??” sapanya.
“I hope so, hey, what are you doing in this early morning??
“ To watch you leave” katanya sambil tersenyum. Senyumnya, aku tahu, tersirat kesedihan.
Aku tak menyangka Mohammed akan tiba di apartemen kami sepagi dan sedingin ini hanya untuk mengantar kami. Dibutuhkan sebuah pengorbanan besar untuk tiba di Schilleter di saat sebagian besar penduduk Ames masih terlelap di bawah selimut. Pemuda Kuwait itu memang sangat dekat dengan kami selama program. Terutama dengan Lyla, mereka layaknya saudara berbeda bangsa.
Aku  dan Lyla mengecek sekali lagi apertemen kami. Semuanya beres. Tidak ada yang ketinggalan. Kecuali dua buah pasang sepatu yang sengaja kami tinggalkan karena koper kami tidak cukup lagi menampungnya (belakangan aku menyesal meninggalkan sepatu itu)
Aku menyapukan pandangan ke seluruh ruangan apartemen 9B, sekali lagi, untuk terakhir kalinya. Ruang duduknya yang nyaman, dapurnya yang bernuansa putih semuanya nampak rapi. Selamat tinggal, Batinku. Dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan kami bergegas keluar, Mohammed membantu kami menyeret koper-koper yang gemuk luar biasa itu menuju van.

Udara pagi Ames dingin menusuk hingga ke tulang. Aku mellihat teman-teman dari apartemen lainnya sibuk menaikkan koper-koper mereka ke van.
Bang Ireng, saudara kami yang selama ini selalu menyemarakan hari-hari kami di Iowa, nampak di antara para IELSPer lainnya. Ia, sebentar lagi, akan ditinggal oleh ke-19 adik-adik Indonesianya.
Setelah semua koper dinaikkan, Ms. Xiong pun menginstruksikan kami untuk segera naik ke van. Dan inilah momen itu. Satu persatu, kami menyalami Bang Ireng dan Mohammed. Beberapa di antara kami mulai terisak pelan, termasuk aku.
Sambil menyalaminya aku berkata:“ Bang Ireng, selamat tinggal…semoga kita ketemu lagi ya, sukses buat studinya, maaf kalo selama dua bulan ini kami ada salah sama abang, terima kasih untuk semua bantuannya selama program, See you someday in Indonesia” Air mataku benar-benar tak bisa terbendung,
Bang Ireng tersenyum dan berkata” Maaf juga kalo saya ada salah, sukses buat kalian, semoga selamat sampe Indonesia, tetap semangat dan terus belajar”
Dan meskipun hari masih gelap, aku bisa melihat, di bawah sinar lampu jalanan, mata bang Ireng juga tergenang. Para anak lelaki menyalami dan merangkul Bang Ireng, erat.
Aku lalu menyalami Mohammed,” Mohammed, Thanks for everything, Thanks for our wonderful moment together,nice to be your friend, I know I’m gonna miss you, come to Indonesia if you have time”
Mohammed, yang meski secara fisik nampak jauhh lebih dewasa dari kami, nyatanya usianya jauh berada di bawah kami. Matanya berkaca-kaca. Sesekali ia mengusap air matanya.
“ I’m gonna visit ya’all in Indonesia” Katanya dengan senyum lebar meski dengan air mata yang menggenang.
Ia gagal  menyembunyikan kesedihannya.

Berdua dengan Bang Ireng, ia menatap kami satu persatu menaiki van. Di bawah lampu jalan, ditengah dinginnya udara pagi Ames, mereka melambai sebagai tanda perpisahan ketika Van kami mulai berjalan perlahan. Dari kaca jendela kami memandangi sosok dua pemuda yang telah menjadi sahabat dan saudara kami selama di perantauan. Kami pun membalas lambaian mereka. Beberapa di antara kami kembali terisak.
Good bye Bang Ireng, Good Bye Mohammed, Good Bye Schilletter….



Our Big Brother, Ireng Maulana
Mohammed, A friend from Quwait

Kami diam selama dalam perjalanan menuju Des Moines. Hening yang menyiksa. Isak tangis masih terdengar dari beberapa di antara kami. Dari kaca van yang berembun, aku memandangi jalanan yang biasa kami lewati setiap harinya dengan Cyride.  Istal kuda, tempat yang hingga detik terakhirku di Ames tak pernah ku kunjungi, perlahan hilang dari pandangan. Di kiriku, aku menatap Farm House Dr yang lengang dan gelap, tempat kami menunggu Blue North No 3 setiap hari seusai kelas.
Haha..mulai hari ini, tidak akan ada lagi kami, bergerombol menanti bus menuju Schilleter.
Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah para bule yang kerap melihat kami di bus stop itu akan bertanya-tanya tentang keberadaan kami bila mereka tak menjumpai kami hari ini dan seterusnya di Farm House Dr.

***
Semburat cahaya merah mulai nampak di ufuk timur. Sebentar lagi matahari akan muncul.
Aku menatapnya tak berkedip.
Ini, adalah pagi terakhirku di Amerika.
The place where we always wait for Blue North No 3 after class
Farm House Dr, tempat kami menanti Cyride setiap sore

***to be continued***

Wednesday, October 19, 2011

STORY OF SNOW #Chapter 2

Hari-hari berikutnya di Iowa, saya masih tetap excited dengan salju. Begitu juga teman-teman lainnya.
Suatu pagi, di hari ke 3 saya di Iowa, Salju kembali turun. Saya baru saja selesai mandi ketika roomate saya,Lyla bilang: "Wow, di luar turun salju!"
Saya mengintip dari jendela kamar, dan benar. Butiran-butiran putih seperti kapas turun dari langit perlahan-lahan. Pohon cemara di sekitar apartemen mulai memutih ditimpa salju. Saya mendengar celotehan beberapa anak di luar, rupanya teman-teman dari apartemen sebelah yang sedang menikmati snowfall pertama mereka. Dengan segera saya mengambil kamera dan bergabung bersama mereka. Tak menyadari bahwa saya hanya menggunakan kemeja tipis, gloves, dan sendal jepit. Yeah..sendal jepit!


Excited bermain salju, lupa pake jaket..hoho


Witro and Vita before going to campus

Setelah asyik foto-foto, teman-teman mulai menuliskan nama orang-orang terkasih mereka di atas salju. Ada yang menulis nama pacarnya,kakaknya, adiknya, sobatnya dll. Saya yang tidak memilki pacar, tentu saja hanya menuliskan nama-nama sobat saya dan berharap kelak mereka bisa datang ke negeri ini dan menuliskan nama mereka sendiri di atas salju. Request nama di salju pun mulai berdatangan dari teman-teman di Indonesia, namun saya tidak bisa menulis nama mereka satu persatu karena meskipun salju masih turun ketika musim semi tiba, kegiatan di kampus yang padat dan salju (yang biasanya turun pagi-pagi)keburu mencair.#beribu-ribu sori temans

Wishing you both happily ever after:D

Siska on snow

Sari On Snow

STORY OF SNOW #Chapter One

Terlahir dan tinggal di negeri tropis, rasanya wajar bagi saya bila merasa 'excited' berlebihan ketika pertama kali melihat salju dan merasakan winter di negeri Paman Sam beberapa waktu lalu.
Di Indonesia, negara dua musim beriklim tropis, salju adalah hal yang mustahil. Sejak kecil, saya ingin sekali merasakan salju seperti yang kerap saya tonton di film-film. Kebetulan paman,kakak dan sahabat saya,Anggi,telah lebih dulu menginjakkan kaki di negeri bersalju,Denmark Amerika dan Kanada. Kepada mereka saya bertanya-tanya penuh rasa ingin tahu dengan mata yang berbinar-binar lebay.

Kepada om saya,tahun 1996:
Saya:"Om bagaimana rasanya salju
Om saya: "Dingin"
Saya:Om'salju bisa dimakan?"
Om saya:"Tidak, kotor karena diinjak-injak..
Saya: "Kalo yang baru turun dari langit?'
Om saya:"Banyak es di kulkas yang bisa di makan(-_-')
Saya: (*membayangkan salju turun dari langit, saya berlarian, menengadah,membuka mulut dan 'aaaammmmm...#makansalju)


Pada kakak saya berikutnya:
Saya:"gimana sih rasanya salju ntu??"
Kakak Saya: "Biasa aja, kayak es cukur tapi lebih alus"
Saya: (*memikirkan es cukur..slurpp)


Kepada sahabat saya:
Salju:"Salju itu dingin ya,gi?sedingin apa?"
Anggie:"Lebih dingin dari es di kulkas"
Saya: (*membayangkan es di kulkas dan menambah dinginnya beberapa derajad, Brrrr...)


Maka ketika saya mendaftar beasiswa IELSP tahun lalu, saya berdoa agar bisa lulus, juga menambahkan doa saya sebagai berikut:
"God, bila engkau memperkenankan saya untuk lulus beasiswa ini, maka please berangkatkanlah saya pas musim dingin, agar saya bisa merasakan salju sepeti yang saya lihat di tipi-tipi. Saya janji tidak akan membuat es cukur dari salju-salju itu, Aamiiinnnnn"

Dan Tuhan Yang Baik benar-benar mengabulkan permintaan saya. Saya lulus, dan akan ke Amerika pada bulan Februari, bertepatan dengan akhir musim dingin.
Tentu saja saya Happy :D #bersalto di udara

Ketika pesawat Delta Airlines hendak landing di bandara St Paul Mineapolis, mata saya tak berkedip menatap butiran-butiran halus yang turun dari langit .
"Oooo..jadi itu yang namanya salju"
Penuh suka cita, saya dan teman-teman lainnya 'menempel'di jendela pesawat menatap salju yang turun berderai-derai..(to be continued)
Snow on Minneapollis

The first time I saw the real snow:D

Thursday, October 13, 2011

Be On Time atau Kau Akan Menyesal!

Seperti yang kita dengar tentang Amerika bahwa waktu adalah sesuatu yang krusial. Time is Money. Orang Amerika sangatlah menghargai waktu.
Sebagai orang Indonesia, kita kenal betul tabiat masyarakat kita. Soal waktu, kita dikenal dan mengenal diri kita sendiri sebagai penganut jam karet. Kita tak bisa memungkiri hal itu sebab kenyataannya memang demikian(meski tidak semua orang Indonesia demikian). Selama di AS saya selalu berusaha untuk be on time dan mengikuti ritme kehidupan a la Amerika. Saya yang kerap datang lelet ke kampus, sebisa mungkin untuk tidak terlambat. Saya malu bila datang terlambat ke kelas. Bukan karena apa, tapi karena selama di AS, saya dan teman-teman bukan hanya merepresentasikan diri kami secara individu tetapi juga citra bangsa kami. Indonesia. Sebab ketika kami melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan, bukan hanya nama kami yang dipertanyakan tapi asal muasal kami juga akan terbawa-bawa. Saya sadar betul hal itu. Oleh sebab itu, selama program IELSP ini, saya sebisa mungkin untuk tetap menjaga nama baik bangsa dengan tidak melakukan hal yang 'malu-malu'in.

Namun, kebiasaan jam karet yang sudah mendarah daging ini, tetap juga terbawa-bawa dalam kehidupan saya di AS. Pernah suatu kali, saya dan teman-teman hendak menghadiri suatu event mahasiswa di Memorial Union. Global Gala kalau ndak salah namanya. Dalam acara itu, akan ada pementasan dari mahasiswa-mahasiwa dari berbagai negara. Kami excited untuk pergi. Acaranya dijadwalkan akan dimulai pukul 8 malam. Sepulang kampus pukul 5 sore, saya menyempatkan diri untuk tidur sejenak . Saking mengantuknya, saya terbangun nanti pukul setengah 8 malam. Teman saya dari apartemen sebelah telah mengetuk pintu kamar saya berkali-kali. Setelah kaget saya buru-buru mengganti pakaian (tidak perlu mandi karena saya sama sekali tidak berkeringat sebab udara diluar masih dingin menusuk). Dalam sekejap saya siap. Lalu bergegas ke apartemen teman saya di apartemen No 8. Ketika tiba disana, rupanya teman saya Fik dan Alina masih tengah berdandan. Malam itu mereka mengenakan kebaya dan batik. Saya juga mengenakan batik berwarna coklat yang dipadu dengan celana jeans dan sepatu boot warna hitam. Kami mengecek jadwal bus, bus berikutnya akan tiba di halte Edenburn Dr pukul 8.45. Opss! Harusnya kami berangkat dengan bus sebelumnya yakni bus pukul 7.45, namun karena saya telat bangun, dan teman-teman saya masih bersiap-siap, mau tidak mau kami harus menunggu bus berikutnya. Walhasil ketika kami tiba di Memorial Union, acara Global Gala itu hampir selesai. Hanya sekitar 15 menit kami disana dan acara pun selesai. Saya menyesalll banget kala itu. Belum habis penyesalan saya, tiba-tiba teman saya, Luqman berkata bahwa jadwal bus terakhir yang melewati halte terdekat akan tiba pukul 10.00 am. Saya melirik jam, OMG! Kurang 5 menit lagi pukul sepuluh. Sementara kami harus berjalan menuju halte Cyride terdekat di depan UDCC. Dibutuhkan waktu beberapa menit untuk berjalan ke sana. Maka kami berlari secepat kami bisa agar tidak ketinggalan bus. Malam itu, ditengah dinginnya udara kota Ames dan di antara gedung-gedung Iowa State University, saya dan teman-teman berlarian sambil tertawa-tawa, menertawakan nasib kami yang apes banget malam itu. Beberapa orang teman sampai kehabisan napas gara-gara berlari. Sementara itu Luqman dan Yusuf (yang larinya paling kencang)telah tiba di halte. Setiba disana, halte kosong melompong, rupanya bus terakhir telah lewat. Fiuhhhh...sia-sia sudah kami berlarian ditengah malam. Udara Ames semakin menusuk-nusuk, dan meski saya membawa jaket dan memakai boot, saya lupa membawa gloves (sarung tangan).Brrr...kedingingan tentu saja.

'Menggelandang'tengah malam di Ames

Di tengah udara Ames yang menggigit, kami hanya bisa saling berpandangan. Bus terakhir telah lewat dan kami tidak tahu harus naik apa untuk bisa sampai di Schilletter Village, kompleks apartemen kami. Kami nyaris menelpon teman kami, Ian serta supervisor kami. Namun kami mengurungkan niat tersebut sebab kami tidak mau merepotkan orang lain. Dalam kegalauan dan kepekatan malam,salah seorang teman, Anggie kalau tidak salah, menyarankan agar kami pulang jalan kaki. Beberapa teman tidak setuju selain karena lokasinya cukup jauh, udara Ames benar-benar tidak bersahabat malam itu. Selain itu, berkeliaran malam-malam di Negeri Paman Sam,sama sekali bukan ide yang bagus, mengingat keselamatan kami sebagai foreigner. Ames sunyi dan senyap apalagi ditengah malam seperti ini. Saya baru saja mau mengiyakan saran Anggie tersebut, dalam hati saya berkata, "kapan lagi saya bisa jalan malam-malam di negeri orang bareng teman-teman seperti ini, pasti seru" namun tiba-tiba saya terpikir oleh psikopat(saya agak-agak parno dengan psikopat) yang berkeliaran malam-malam seperti yang kerap saya tonton di film Hollywood, maka saya langsung mengurungkan niat saya untuk mendukung pendapat anggi. Masih dalam kekalutan, Luqman mengecek kembali jadwal Cyride. Dan thanks God, rupanya ada bus bernama Moonlight Cyride yang beroperasi tengah malam. Nampaknya bus ini diperuntukkan bagi mereka yang pulang kemalaman dan ketinggalan bus terakhir seperti kami. Tapi kami harus menelpon bus tersebut agar mereka tahu dimana posisi kami. Gaswatnya tidak ada satupun dari kami yang memiliki telpon selular selama di Ames. Dalam gundah gulana bercampur geli, kami menengok ke bangunan bernama Union Drive Community Center (UCDD), tempat kami makan siang setiap hari yang berada tepat didepan kami. Dilantai bawah terdapat telpon umum. Kami berharap telpon itu dapat dipakai tanpa harus membeli kartu. Maka bergegaslah kami ke UDCC sambil berdoa semoga pintu masuknya gak dikunci, dan memang tak terkunci.(Fiuhh#ngelap ingus). UDCC nampak lengang, tak ada seorangpun di bangunan berlantai 3 itu. Seluruh karyawannya telah pulang. Kami langsung mencoba telpon umum yang terpasang didinding UDCC. Berhasil! Telpon diangkat oleh pihak Cyride dan mereka berkata bahwa mereka akan menjemput kami pukul 11.00 am di depan Memorial Union. Maka bergegaslah kami ke halte depan MU. Malam semakin larut, Ames semakin lengang. Kami berdiri sambil menunggu Cyride penyelamat kami di depan Campus Books Store. Segerombolan pemuda berkulit hitam lewat didepan kami sambil tertawa-tawa, salah seorang dari mereka menyapa kami bahkan langsung merangkul salah seorang teman saya, saya lupa siapa, Jali atau Yusuf sambil tertawa-tawa dan ngomong ngaco, sepertinya mabuk. Saya dan beberapa teman cewek lain langsung pucat. Waduh,,jangan sampai kami diapa-apain sama mereka. Dari jidat sudah jelas kami adalah pendatang. Teman saya (yang entah Jali atau Yusuf) masih tetap tenang sambil berusaha merespon si bule item dengan ramah, kemudian si bule pergi..Fiuhhh,,,lega.

Kehidupan malam di AS memang agak menakutkan, terlebih bila kau adalah pendatang.Itulah mengapa kami disarankan oleh Supervisor kami, Alyssa Xiong untuk tetap stay di apartemen bila malam tiba.
Sambil menunggu Cyride, saya memperhatikan para muda-mudi yang lewat ada yang berjalan kaki dan ada juga yang naik mobil sambil tertawa-tawa dan menyetel musik keras-keras.
Akibat tidak on time

Saat sedang menunggu Cyride, beberapa pemuda berwajah Melayu mendekat ke arah kami. Salah seorang teman saya langsung menyapa. "Are you Malaysian?". Mereka mengangguk dan ikut bergabung bersama kami. Rupanya ke tiga pemuda itu juga baru pulang dari Global Gala,seperti kami, mereka juga ketinggalan bus terakhir sehingga kebingungan mo naik apa pulang. Kami menjelaskan kondisi kami dan menawarkan mereka untuk ikut naik Cyride 'penyelamat' kami. Mereka pun langsung sumringah luar dalem.

Pukul 11 tepat Cyride penyelamatpun tiba. Kamipun selamat.

Sejak saat itu saya semakin sadar, bahwa jangan sekali-sekali bermain main dengan waktu bila tinggal di negeri Paman Sam. Bila tidak on time, silahkan terima akibatnya.

Monday, May 23, 2011

SPRING IN ILLINOIS (Catatan Perjalanan Singkat di Kampung Abraham Lincoln Part II)

MULTI ETNIS(Sambungan)
Individualistik masyarakat kota besar pun nampak dikeseharian masyarakat Chicago. Tidak ada senyum basa-basi seperti yang biasa dilakukan masyarkat Ames bila berpapasan di jalan. Diversity di Chicago juga sangat Nampak. Orang-orang dari berbagai ras dan etnis nampak dimana-mana. Menurut pengamatan saya, Tidak susah untuk menemukan muslimah berjilbab di kota ini, sebab selama beberapa hari saya di sana, tidak jarang saya melihat atau berpapasan dengan para jilbaber. Kebanyakan mereka berwajah timur tengah. Hal ini semakin menegaskan bahwa pluralism di Amerikas Serikat adalah hal yang biasa. Masyarakat AS sudah terbiasa dengan kehadiran orang-orang dari luar negeri mereka.

Selama di Chicago saya telah bertemu dengan orang-orang dari berbagai bangsa, dari asia, Eropa, Afrika, sampai Timur Tengah. Kebetulan hostel tempat kami menginap adalah sebuah hostel yang memilki ‘guest’ dari berbagai negara. Saya sempat berbincang-bincang dengan seorang Yahudi bernama( Waduh,,lupa…) yang saya temui di meja billyard. Dia mengaku sedang berlibur ke Amerika. Saya juga bertemu dengan seorang lelaki dari Chile di kelas Salsa( saya sempat ikut kelas salsa di hostel tempat saya menginap,hihii…). Ia mengaku sebagai korban PHK di perusahaan tempat ia bekerja. Untuk menghilangkan ‘stress’nya ia memutuskan untuk jalan-jalan ke Amerika.

Asik juga bertemu dengan orang-orang dari berbeda bangsa, lumayanlah, memperkenalkan bangsa kita ke masyarakat dunia. Meski hanya dengan mengatakan,


"I'm riska, from Indonesia"

( dengan penekanan pada kata’Indonesia), secara tidak sadar kita telah memberitahukan eksistensi bangsa kita di peta Internasioanal, meskipun terkadang setelah itu mereka akan bertanya:

”Indonesia??where is it??”.

Pertanyaan itu terkadang membuat saya ingin bertanya balik
”Mas,pernah belajar IPS kagak di sekolahan??*Gondok

LAKE MICHIGAN,DANAU TERBESAR DI AS

Danau Michigan, satu tempat yang saya kenal dari buku IPS waktu jaman sekolahan dulu, adalah danau terbesar di AS yang membatasi negara bagian Indiana, Illinois, Wisconsin dan Michigan. Tempat ini sangat familiar ditelinga saya. Senang bisa melihatnya langsung. Danaunya ‘guedeeeee’banget…Nampak seperti laut alih-alih sebuah danau. Uniknya, di Sulawesi Tengah kampung saya, ada dua danau yang cukup terkenal, terutama bagi para peneliti. Namanya Danau Poso dan Danau Lindu. Danau- danau ini memiliki daya tarik sendiri. Misalnya, danau Poso (yang terletak di Kabupaten Poso) terkenal karena ikan sidatnya. Sementara danau Lindu terkenal dengan keanekaragaman flora dan fauna di sekitarnya. Yang menarik dari kisah ini adalah, saya,meskipun berada di provinsi yang sama dengan kedua danau itu, tapi belum pernah menjejakkan kaki di sana. Sementara Danau Michigan yang jauhnya beribu-ribu kilometer dari rumah saya, telah saya datangi secara tak sengaja. Kenyataan yang aneh.

Skydeck (willis Tower)


Disebut2 sebagai gedung tertinggi di AS, willis tower menjadi salah satu tempat wisata yang menarik buat turis di Chicago. Tingginya 1,730 Kaki dan terdiri dari 103 lantai.
Menurut informasi, dari skydeck kita bisa melihat 4 negara bagian sekaligus,Illinois,Indiana,Michigan dan Wisconsin. Sayangnya,hal itu hanya bisa dilihat bila langit cerah. Kemarin, waktu saya disana, langit Chicago mendung dan berawan, jadilah kami tidak bisa memandang negara bagian lain dari skydeck.

Shedd Aquarium Vs Seaworld Indonesia: Lumba-Lumba Indonesia lebih pintar,believe me!


Hmmm….menurut saya, Seaworld di Taman Impian Jaya Ancol lebih menarik dari Shedd Aquarium. Entahlah, tapi saya tidak menikmati kunjungan ke dua tempat ini. Yang pertama: Saya telah lebih dulu dikecewakan dengan pementasan lumba-lumba yang ‘biasa-biasa saja’ bila dibandingkan dengan pementasan lumba-lumba di Ancol(yang bisa berhitung dan melompati cincin api). Pementasan di Shedd sama skali tidak menarik sebab si Lumba-lumba hanya bisa mondar-mandir dari ujung kolam satu ke ujung lainnya karena dipanggil oleh para penyelam berbodi bohai. Selain itu, tidak ada yang bisa mereka lakukan. Mereka tidak melompat dengan indah seperti lumba-lumba Ancol yang bahkan bisa diajak salaman. Sungguhh..sama sekali tidak menarik menurut saya.*tepokjidat


Adler Planetarium: Kami datang untuk melihat bintang-bintang, bukan untuk menonton proses pembuatan Teleskop


Dari kecil saya selalu tertarik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan antariksa. Planetarium dan Observatorium adalah tempat yang masuk daftar TOPTEN sebagai tempat yang paling ingin saya kunjungi. Di Indonesia, saya ingin sekali bisa ke Boscha Lembang, namun hingga saat ini keinginan itu belumlah tercapai. Makanya ketika Tour guide kami, Kevin White, mengatakan bahwa hari itu kami akan mengunjungi Adler Planetarium. Saya benar-benar excited luar dalem. Begitu masuk ke dalam planetarium, kami diberi tiket bertuliskan JOURNEY TO THE STARS. Wah…sepertinya kami akan menonton film documenter tentang bintang-bintang. Saya semakin menggebu-gebu dan bersemangat. Sebelum masuk kami diberi kacamata 3 dimensi. Wuihhh…kayaknya bakal seru nih,saya berguman dalam hati. Kemudian masuklah kami ke ruang nonton. Seperti di bioskop,namun lebih kecil. Film pun dimulai.

Dibuka dengan adegan langit malam penuh bintang,kemudian gambar beralih pada beberapa teleskop yang akan dipakai mengamati bintang-bintang. Sayangnya,setelah beberapa menit film diputar, tidak ada tanda-tanda kami akan diajak melakukan Journey to the star, yang ada hanyalah pengenalan teleskop dan proses kerjanya..Hoaaaaammm…membosankan…proses kerja teleskop telah kami pelajari di sekolah dalam mata pelajaran Fisika(meski saya sudah lupa sih..hehee). Kecewa asli. Padahal saya membayangkan kami akan dibawa menjelajahi bintang-bintang dan diperkenalkan rasi-rasi. Nyatanya??Walhasil saya jadi ngantuk. Ketika film usai, beberapa orang teman terbangun. Rupanya mereka tertidur segera setelah film diputar. LOL

Museum Science and Industry Chicago



Setelah dari Adler kami pergi ke Museum Science. Kami menonton film documenter tentang Tornados. Menarik, karena visualisasinya benar-benar nyata, bioskopnya dirancang unik, dimana seluruh dinding dijadikan layar. Kecuali yang bagian belakang. Kami menyaksikan tornado datang seperti benar-benar terlibat di dalamanya. Sayangnya,beberapa hari kemudian,gara2 film tornado itu, kami jadi ketakutan ketika ada Tornado Alert di Iowa. Hahaa..saya dan beberapa teman jadi panik sendiri.

Rabu Pagi di Millenium Park


Kalau di Indonesia ada film berjudul Minggu Pagi di Victoria Park, maka saya mencontek judulnya untuk kisah saya di taman millennium ini. Taman ini adalah tempat paling menarik yang saya kunjungi di Chicago. Letaknya tepat di downtown kota Chicago. Sebenarnya tidak ada yang special dari taman ini, hanya saja, ada sebuah bola kaca(entah bagaimana mendeskripsikannya, karena ia sama skali tidak berbentuk benar-benar bola, melainkan elips) yang sangat menarik perhatian saya dan pengunjung lain. Di bola itu (biarlah saya menyebutnya bola), kita bisa melihat pantulan diri kita dan pantulan alam sekitar kita, termasuk gedung-gedung pencakar langit Chicago. Biasa saja kan sebenarnya? Tapi saya sangat menyukai taman ini, dan betah menghabiskan waktu berjam-jam di sana, hanya untuk....…ngaca! Hahahaa.

Di taman ini banyak sekali turis. Tanpa disangka-sangka kami bertemu dua orang backpacker asal Indonesia, namanya bang Jordan & Bang Ryan. Katanya mereka sedang travelling keliling AS (jadi ngiri)



Begitulah, perjalanan singkat saya di kota ketiga terbesar di Amerika itu. Sangat berkesan meski beberapa tempat yang saya datangi membosankan. Namun demikian, saya bersyukur untuk kesempatan itu. Bisa melihat sisa lain dunia ini rasanya menyenangkan. Rupanya, dunia tidak benar-benar selebar daun kelor,jenderal!=D
 ***
NB: Suatu hari nanti saya ingin kembali ke Chicago (bila Tuhan menghendaki), travelling sendirian (emm,,ralat, jangan sendirian deh, at least ada partner biar cuman seorang,hehe) tanpa harus ikut Rombongan Tour, sebab ada banyak hal menarik yang saya lewatkan di kota ini karena keterbatasan waktu (harus ikut aturan Tour Leader ternyata kurang menyenangkan*sigh)

Sunday, March 27, 2011

Musim Semi di Illinois #Catatan Perjalanan Singkat di Kampung Abraham Lincoln Part I

Pada suatu malam di musim panas,bulan oktober ,1871, sebuah percikan api kecil berujung malapetaka terjadi di sebuah lumbung kecil milik pasangan O’leary,di sudut kota Chicago, Illinois. Kala itu, Chicago masih berumur sangat muda, tidak semodern saat ini. Kebanyakan bangunannya masih terbuat dari kayu. Percikan apa itu merembes ke rumah-rumah sekitarnya sehingga berujung pada tragedy besar yang di kenal dengan sebutan”The GREAT FIRE CHICAGO’ dan tercatat sebgai salah satu kebakaran terhebat dalam sejarah. Ratusan orang tewas, ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal. Selama berhari-hari kota itu menjadi lautan api. Chicago lumpuh total, orang-orang kehilangan tempat tinggal, kehilangan harta benda. Saudagar kaya berubah jadi pengemis miskin berpakaian compang-comping, tingkat kriminalitas meningkat dratis sejak saat itu. Namun kota itu tidak ‘mati’.Sebab beratus tahun kemudian, Chicago menjelma sebagai salah satu kota termodern dan terkenal di dunia.

Chicago, It's America!

Mendengar kata Chicago, semua orang pasti tahu bahwa kata itu menunjuk pada sebuah kota di Amerika Serikat. Chicago telah lama digambarkan di film-film barat, dijadikan lokasi syuting video klip, disebutkan di buku sejarah dan lain sebagainya. Chicago merupakan kota terbesar di Illinois. Illinois sangat lekat dengan nama-nama orang terkenal, sebut saja Abraham Lincoln, presiden ke 16 AS, dan Barrack Obama, yang sebelum menjadi presiden ke 44 AS, dikenal sebagai’sang senator dari Illinois. Juga Al-Capone, si mafia yang namanya terkenal di antara para gangster.

Saya menyebutnya sebagai sebuah keberuntungan, ketika saya dan ke 18 teman dari Indonesia bisa berkunjung ke kota terbesar ke – 3 di Amerika serikat itu. Menikmati musim semi di kota kosmopolitan dengan gedung-gedung pencakar langit yang berarsitektur luar biasa, dengan orang-orang yang berlalu lalang di pusat kota. Hiruk pikuknya benar-benar terasa. 

Di Chicago, Untuk pertama kalinya sejak saya tiba di AS, saya benar-benar merasa sedang berada di Amerika.

I80 Derajat: Antara Chicago & Ames

Ames adalah sebuah kota kecil disebelah utara Des Moines, ibukota Iowa. Dari Ames, dibutuhkan waktu sekitar 6 jam untuk mencapai Chicago dengan mobil. Kehidupan Ames dan Chicago sangat berbeda 180 derajat. Di Ames, tidak ada hiruk pikuk seperti di Chicago. Chicago, seperti umumnya kota besar di dunia, memiliki tingkat kriminalitas yang cukup tinggi (seperti yang diterangkan supervisor kami, Ms Xiong). Bila di Ames, kami tak pernah (atau tepatnya belum pernah) melihat pengemis dan gelandangan, maka di Chicago kami begitu mudah menemukan peminta-minta yang duduk dipinggir jalan berpakaian compang-camping  sambil menengadahkan karton (bukan tangan) yang bertuliskan ’Homeless,need some cent for eat" (sayang, saya gak punya fotonya) 
Wajah Chicago

Pose di depan salah satu gedung pencakar langit Chicago

Ames yang tenang, kalem dan nampak'baik-baik'


Individualistik masyarakat kota besar pun nampak dikeseharian masyarakat Chicago. Tidak ada senyum basa-basi seperti yang biasa dilakukan masyarkat Ames bila berpapasan di jalan. Diversity di Chicago juga sangat nampak. Orang-orang dari berbagai ras dan etnis nampak dimana-mana. Menurut pengamatan saya, tidak susah untuk menemukan muslimah berjilbab di kota ini, sebab selama beberapa hari saya di sana, tidak jarang saya melihat atau berpapasan dengan para jilbaber. Kebanyakan mereka berwajah timur tengah…
(To be Continued, penulisnya harus kerja PR..hohohh..:P)

*SUV Apartment, Room 9B, Musim Semi 2011,disela-sela buku grammar tingkat 4.